Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Sungai Lawonda Mulai Mengering, Sawah Tak Lagi Menghijau

Sungai Lawonda di Desa Praimadeta, Sumba Tengah, yang dulu masih mengalir dan membantu petani menanam padi kedua saat musim kemarau, kini mulai mengering. Sawah di sekitarnya tidak lagi menghijau, sementara warga hanya bisa berharap hujan segera turun agar persediaan pangan tetap cukup.

Redaksi IklimKita
29 September 2026•3 menit baca

Sungai kecil Lawonda, Desa Praimadeta, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Barat, Sumba Tengah, tak lagi sama seperti dulu. Dulu, ketika saya melewati daerah persawahan pada musim kemarau dan melintasi jembatan kecil di atas Sungai Lawonda, pemandangannya sangat berbeda. Sawah-sawah di sekitar sungai masih terlihat hijau karena ditumbuhi padi.

Memang tidak semua sawah di sekitar sungai ini dikelola setiap musim. Tetapi, paling tidak, setiap tahun selalu ada saja petani yang masih bisa menanam padi kedua pada musim kemarau karena air sungai masih cukup. Ketika saya lewat kali ini, terasa sangat berbeda. Bukan hanya sawah yang tidak lagi menghijau, tetapi sungainya pun perlahan sudah tidak terlihat seperti dulu.

Air yang dulu mengalir cukup deras, sekarang seolah berhenti dan tidak lagi mengalir. Dulu masih ada kesempatan untuk menanam padi kedua, tetapi kali ini sepertinya harapan itu sirna. Masyarakat mau marah, tetapi marahnya kepada siapa? Karena airnya juga hilang sendiri. Tidak ada yang bisa disalahkan begitu saja.

Di bagian atas sungai ini, dulu ada beberapa mata air yang cukup besar. Sekarang, keberadaan mata air itu seolah hanya menjadi sejarah yang pelan-pelan harus dilupakan. Sekarang hanya bisa berharap pada hujan segera turun. Sampai detik ini pun hujan belum kunjung datang. Entah sampai kapan harus menunggu.

Dulu, ketika air masih cukup, masyarakat bisa menghasilkan beras lebih banyak. Sayuran juga bisa ditanam. Tetapi kali ini tidak seperti itu. Musim lapar pun mulai dekat. Kami harus sedikit lebih siap dan lebih irit, supaya paling tidak bisa melewati musim kering yang panjang ini. Walaupun mungkin taruhannya adalah kekurangan makanan, bahkan kekurangan gizi, atau harus mengurangi makan dan menahan diri agar persediaan makanan bisa bertahan sampai kembali masuk musim panen.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.