Petani Kemiri di Watanda Wona Cemas Hujan Tak Kunjung Turun
Pohon-pohon kemiri di Watanda Wona, Desa Wangga Waiyengu, Sumba Tengah, berbunga lebat pada Oktober 2026. Namun, warga justru cemas karena hujan belum turun. Pengalaman dua hingga tiga tahun terakhir menunjukkan, bunga yang rimbun tidak selalu berujung panen jika kemarau terus berlangsung. Kini, warga berharap hujan segera datang agar bunga kemiri tidak kembali rontok sebelum menjadi buah.
Sepanjang perjalanan melewati kebun hutan warga di Watanda Wona, Desa Wangga Waiyengu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, Sumba Tengah, pada Oktober 2026, saya melihat pohon-pohon kemiri sedang berbunga lebat. Bunga putih menutupi hampir seluruh tajuk pohon. Dari kejauhan, pohon-pohon itu terlihat seperti diselimuti kabut putih.
Banyaknya bunga biasanya memberi harapan akan hasil panen kemiri yang melimpah. Namun, warga justru cemas karena hujan belum juga turun.
Saat berbincang dengan beberapa warga, mereka mengaku khawatir bunga-bunga itu tidak akan menjadi buah jika kemarau terus berlangsung.
"Hujan belum turun sama sekali, bunganya banyak, tapi kalau tidak ada hujan, percuma," ujar seorang petani kemiri.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, warga pernah mengalami keadaan serupa. Pohon kemiri berbunga lebat, tetapi karena hujan tidak turun, buah yang dihasilkan hanya sedikit.
Kini, bunga-bunga putih kembali memenuhi pohon kemiri, sementara hujan belum datang. Warga hanya bisa berharap hujan segera turun agar bunga-bunga tersebut bisa bertahan dan berkembang menjadi buah. Jika kemarau terus berlanjut, harapan panen kemiri tahun ini kembali terancam.
Penulis: Norbet U. K. Laki Pali
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




