Sawah Prai Lakoka Kekeringan, Petani Kehilangan Harapan Panen Kedua
Tahun lalu, sawah di Prai Lakoka, Sumba Tengah, masih hijau oleh padi musim tanam kedua. Tahun ini, kekeringan panjang dan sumber air irigasi yang mengering membuat petani memilih mengistirahatkan sawah. Tak ada benih yang disemai, tak ada padi yang ditanam, dan harapan panen kedua pun harus dilepas karena air tak lagi tersedia.
Tahun lalu, sawah di Prai Lakoka, Desa Wangga Waiyengu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, Sumba Tengah, masih hijau oleh padi musim tanam kedua. Namun, tahun ini sawah dibiarkan kosong karena air tidak tersedia.
Saat melintasi daerah tersebut, saya melihat tanah sawah mengering, retak, dan pecah-pecah. Jerami dari panen sebelumnya masih menancap di tanah, sementara di sela-selanya tumbuh rumput liar yang juga mulai mengering.
Warga mengatakan hujan sudah lama tidak turun. Panas berlangsung berbulan-bulan, sementara sumber air untuk irigasi ikut mengering. Tanpa air, petani tidak bisa mengolah sawah dan menanam padi seperti tahun sebelumnya.
“Tahun lalu masih bisa tanam kedua, masih hijau. Sekarang air tidak ada sama sekali, mau tanam pakai apa?” kata seorang warga.
Akibat kekeringan yang berlangsung panjang, petani memilih mengistirahatkan sawah. Tidak ada benih padi yang disebar atau disemai, dan tidak ada harapan untuk panen kedua tahun ini. Sawah yang biasanya kembali ditanami kini dibiarkan kosong karena air tidak mencukupi. Sawah yang biasanya ditanami padi untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga kini hanya menunggu hujan yang belum diketahui kapan akan turun.
Penulis: Norbet U. K. Laki Pali
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




