Kemarau Panjang Menyulitkan Peternak Kerbau Mencari Pakan di Matanda Wona
Cuaca panas berkepanjangan membuat rumput mati. Peternak kesulitan mencari pakan, kerbau menjadi kurus, dan penjaga kelelahan karena harus berjalan jauh setiap hari.
Musim kemarau tahun ini datang lebih panjang dan lebih ganas. Panas terik matahari seolah tidak pernah berhenti membakar tanah. Dampaknya langsung terasa di padang penggembalaan. Rumput yang dulu hijau dan lebat kini pelan-pelan menguning, mencoklat, lalu mati. Ini menjadi alarm krisis serius bagi para peternak salah satunya peternak kerbau. Setiap pagi kerbau dilepaskan dan dijaga, tetapi penggembala harus berjalan berkilo-kilometer untuk bersama gembalaannya mencari rumput sampai sore baru balik rumah dan masukan kerbau ke dalam kadang, dan begitu terus setiap hatinya. Semakin hari rumput semakin sedikit yang didapat. Akibatnya, kerbau-kerbau yang dulunya gemuk dan kuat kini mulai kurus dan tenaganya menurun. Para penjaga kerbau pun ikut berdampak, mereka lelah karena harus terus berjalan mengikuti kerbau yang tidak berhenti mencari makan di sawah yang kering maupun di perbukitan Matanda Wona, sementara matahari terus menyengat tanpa ampun.
Krisis rumput ini bukan hanya soal hewan lapar, tetapi juga soal nasib manusia yang menggantungkan hidup pada ternaknya.
Dari kita kita makin sadar bahwa krisis ikim itu tidak hanya narasi tapi realita yang sedang dijalankan.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




