Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Kemarau Panjang Membuat Lahan di Marusu, Sulawesi Selatan, Semakin Gersang

Panas yang menyengat di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, pada 9 Oktober 2026, terlihat dari hamparan lahan dan rerumputan di sekitar permukiman warga yang mengering. Hijau yang biasanya menutupi tanah perlahan berubah menjadi kecokelatan. Warga berharap kemarau panjang segera berakhir agar kehidupan, lahan, dan sumber penghidupan mereka tidak semakin tertekan.

Redaksi IklimKita
12 Oktober 2026•3 menit baca

Pada Jumat, 9 Oktober 2026, cuaca panas terasa menyengat di Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Rumput yang sebelumnya hijau kini mulai menguning, sebagian bahkan sudah mengering dan mati. Tanah juga terlihat kering dan keras karena sudah lama tidak mendapat cukup air hujan.

Di beberapa bagian lahan, pepohonan muda tampak kehilangan kesegarannya. Daunnya mulai jarang, sementara tumbuhan hijau semakin sulit ditemukan. Pemandangan ini menjadi salah satu tanda yang dirasakan warga ketika kemarau berlangsung cukup panjang.

Panas yang terus terasa membuat kondisi lahan semakin gersang. Rumput yang biasanya tumbuh subur kini tidak lagi seperti sebelumnya. Bagi warga yang bergantung pada lahan untuk kegiatan sehari-hari, kondisi ini tentu menimbulkan kekhawatiran, terutama jika hujan tidak kunjung turun.

"Panas yang menyengat membuat rerumputan yang sebelumnya hijau menjadi sangat gersang. Kami berharap kemarau panjang ini segera usai," ujar seorang warga.

Kondisi tanah yang semakin kering juga membuat warga khawatir terhadap ketersediaan air. Jika hujan terus berkurang, kebutuhan air untuk tanaman dan ternak bisa semakin sulit dipenuhi. Tanaman yang membutuhkan cukup air berisiko terganggu pertumbuhannya, sementara rumput yang mengering bisa mengurangi ketersediaan pakan bagi ternak.

Tidak semua lahan memiliki akses air yang sama. Ketersediaan sumber air, irigasi, maupun alat penyiraman turut menentukan bagaimana warga menghadapi kondisi kering seperti ini. Bagi mereka yang tidak memiliki akses air memadai, menjaga tanaman agar tetap tumbuh tentu menjadi tantangan tersendiri.

Warga pun masih berharap hujan segera turun agar tanah kembali basah dan rerumputan bisa tumbuh hijau. Kemarau yang berlangsung lama membuat mereka harus lebih waspada terhadap perubahan kondisi lingkungan di sekitar tempat tinggal dan lahan yang mereka gunakan.
Oleh: Pratiwi

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.