Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Sawah Rammang-Rammang Masih Menunggu Air

Rammang-Rammang memang indah, dengan gugusan karst yang kokoh, hamparan sawah, dan alam yang memukau. Namun, di balik keindahannya, warga sedang menghadapi perubahan iklim yang semakin terasa. Air mulai berkurang, sawah yang seharusnya sudah dibasahi untuk musim tanam masih menunggu hujan, sementara petani berharap pada irigasi dan sumber air lainnya. Rammang-Rammang mengingatkan kita bahwa alam yang indah belum tentu sedang baik-baik saja. Di balik batu karst yang tetap berdiri kokoh, ada kehidupan warga yang sedang berjuang bertahan.

Redaksi IklimKita
8 September 2026•3 menit baca

Rammang-Rammang adalah kawasan karst di Sulawesi Selatan. Di sini ada batu-batu karst, sawah, sungai, dan rumah-rumah warga. Banyak juga orang datang untuk melihat pemandangan.

Sekarang kondisi air mulai berkurang. Cuaca terasa lebih panas dan hujan juga jarang turun. Sungai yang biasa menjadi sumber air tidak seperti biasanya.

Sawah juga terkena dampaknya. Biasanya kalau sudah masuk waktu tanam, sawah mulai dibajak dan disiapkan. Sekarang masih ada sawah yang belum bisa ditanami karena air belum cukup.

Petani masih menunggu hujan. Kalau hujan belum turun, air untuk sawah juga belum ada.

"Kalau air belum ada, bagaimana sawah bisa ditanami?"

Begitu keadaan yang dirasakan petani sekarang. Mau mulai tanam juga masih harus melihat air. Kalau dipaksakan sementara air tidak cukup, takut tanaman tidak bisa tumbuh dengan baik.

Musim sekarang juga terasa berbeda. Hujan datang tidak seperti biasanya. Kadang sudah menunggu hujan, tetapi belum juga turun. Sawah akhirnya dibiarkan lebih lama.

Kalau ada air dari sumber lain atau bantuan untuk mengairi sawah, itu sangat membantu. Yang penting ada air supaya sawah bisa kembali ditanami.

Batu-batu karst di Rammang-Rammang masih seperti biasa. Sawah dan pemandangannya juga masih ada. Tetapi sekarang yang paling ditunggu warga adalah air, supaya sawah bisa kembali dikerjakan dan ditanami.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.