Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Asap Kebakaran Mengepung Samarinda, Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Pagi ini tanggal 19 September 2026 asap semakin banyak terlihat. Biasanya udara pagi sangat segar dan nyaman untuk mengawali hari, belakangan ini udara asap menyesakan yang terpaksa dihirup. Aktivitas diluar ruangan dihimbau oleh petugas kesehatan untuk selalu menggunakam masker. Salah satu dampak yang sering terjadi adalah ispa. Namun asap tetaplah bisa masuk kedalam rumah lewat celah celah ventilasi. Kipas angin yang memutar udara bercampur asap. Belum lagi bagi keluarga yang memiliki anak bayi, asap menjadi gangguan nyata kesehatan.

Redaksi IklimKita
29 September 2026•4 menit baca

Pagi ini, 19 September 2026, asap semakin banyak terlihat di sekitar tempat tinggal saya di Jalan Wolter Monginsidi, Samarinda Ulu. Samarinda dikelilingi oleh daerah hutan yang terbakar. Bahkan, di beberapa bagian Samarinda sendiri juga terjadi kebakaran.

Kebakaran yang terjadi di sekitar Samarinda membuat asap terasa di mana-mana. Seperti yang terlihat dalam foto yang saya kirimkan, asap memang tidak terlalu jelas terlihat di kamera, tetapi keadaan di sini sudah terasa seperti dikepung asap.

Menghirup udara pagi sekarang tidak sebebas biasanya. Biasanya udara pagi terasa segar dan nyaman untuk mengawali hari. Belakangan ini, udara yang dihirup terasa bercampur asap dan membuat sesak serta tidak nyaman. Jarak pandang juga menjadi terbatas untuk melihat ke tempat yang jauh.

Untuk aktivitas di luar ruangan, petugas kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker. Masker setidaknya membantu mengurangi paparan asap yang terhirup, meskipun asap tetap memberikan dampak yang terasa bagi tubuh.

Di sekitar sini, banyak orang mengeluhkan batuk dan flu. Asap dan debu dari kebakaran juga membuat saluran pernapasan terasa tidak nyaman. Kondisi seperti ini tentu lebih dikhawatirkan bagi orang yang sudah memiliki masalah pada paru-paru atau saluran pernapasan.

Sebisa mungkin, orang-orang di sini mengurangi aktivitas di luar rumah. Tetapi asap tetap bisa masuk ke dalam rumah melalui celah-celah ventilasi. Kipas angin yang biasanya digunakan untuk membuat udara di dalam rumah lebih nyaman juga ikut memutar udara yang sudah bercampur asap.

Bisa dibayangkan rasa tidak nyaman yang kami alami. Sirkulasi udara yang biasanya ditunggu setiap hari, sekarang justru membuat khawatir karena udara dari luar membawa asap masuk ke dalam rumah. Kami hanya bisa berharap udara di dalam rumah tetap cukup bersih dan asap segera berkurang.

Kondisi ini juga menjadi gangguan bagi keluarga yang memiliki bayi dan anak kecil. Mereka tetap membutuhkan udara yang nyaman, tetapi asap ada di luar dan bisa masuk ke dalam rumah.

Banyak orang sudah berusaha memadamkan api kebakaran hutan. Namun, selama masih ada kebakaran, asap tetap sulit dihindari.

Semoga kebakaran segera padam dan asap cepat hilang dari tempat tinggal kami, sehingga kami bisa kembali menghirup udara pagi dengan nyaman seperti biasanya.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.