Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Mata Air di Hutan Taman Nasional Tana Daru, Sumba Tengah Makin Mengecil

Mata air di pinggir jalan lintas kabupaten yang membelah Hutan Taman Nasional Tana Daru, Sumba, kini mengalir jauh lebih kecil dibandingkan lima tahun lalu. Saat kembali melintasi tempat tersebut, saya melihat air yang biasanya mengalir deras kini hanya keluar perlahan dari sebatang bambu. Kemarau panjang dan hujan yang terlambat membuat warga khawatir mata air yang biasa menjadi tempat singgah itu semakin menyusut.

Redaksi IklimKita
24 Oktober 2026•3 menit baca

Di pinggir jalan lintas kabupaten yang membelah kawasan Hutan Taman Nasional Tana Daru, Sumba, ada sebuah mata air kecil yang biasa menjadi tempat singgah warga dan pengendara. Airnya mengalir melalui sebatang bambu dari celah tanah dan akar pohon di tengah hutan yang rindang.

Banyak orang yang melintas berhenti untuk beristirahat sejenak, berteduh, dan minum dari mata air tersebut. Airnya jernih dan terasa segar. Tempat ini sudah lama menjadi salah satu persinggahan bagi warga yang melewati jalan tersebut.

Namun, saat saya kembali melintas, aliran airnya terlihat jauh lebih kecil. Air hanya menetes dan mengalir pelan dari ujung bambu. Padahal, sekitar lima tahun lalu, ketika terakhir kali saya melewati tempat ini, alirannya masih cukup besar dan deras.

Perubahan ini terlihat saat kemarau panjang melanda Sumba tahun ini, sementara hujan belum juga turun seperti yang diharapkan. Mata air yang biasanya mengalir cukup deras kini menyusut.

Melihat kondisi ini, saya khawatir jika kemarau terus berlangsung dan hujan kembali terlambat, aliran mata air akan semakin kecil. Mata air di tengah hutan ini bukan hanya menjadi tempat singgah bagi orang yang melintas, tetapi juga sumber air yang keberadaannya perlu dijaga.

Penulis: Norbet U. K. Laki Pali

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.