Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Kabut Asap Menyelimuti Permukiman Maros, Warga Beraktivitas dengan Lebih Hati-hati

Pada 12 Oktober 2026, langit Kabupaten Maros tampak kelabu kecokelatan, menyelimuti permukiman dan pepohonan hingga cakrawala terlihat samar. Dugaan asap karhutla membuat udara terasa berat dan memunculkan kekhawatiran warga. Maros disebut memiliki kualitas udara paling tidak sehat di Sulawesi Selatan, meski peringkat itu masih perlu dipastikan data pemantauan pada waktu yang sama. Di balik langit keruh, masyarakat bertanya: seberapa besar ancaman pencemaran udara bagi kesehatan dan kehidupan mereka?

Redaksi IklimKita
13 Oktober 2026•4 menit baca

Pada Senin pagi, 12 Oktober 2026, udara di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tampak berbeda dari biasanya. Permukiman, pepohonan, dan jalan raya terlihat samar karena tertutup kabut. Matahari pun tampak redup di balik lapisan asap yang menggantung di udara.

Kondisi ini diduga berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kabut membuat pemandangan di kejauhan tidak terlihat jelas, terutama pada pagi hingga siang hari. Asap yang menyelimuti wilayah permukiman juga membuat warga lebih berhati-hati saat beraktivitas di luar rumah.

Bagi pengendara sepeda motor dan kendaraan lainnya, jarak pandang yang berkurang menjadi hal yang perlu diwaspadai. Petani, pedagang, buruh harian, dan warga yang bekerja di luar ruangan tetap harus menjalankan aktivitas mereka meskipun udara sedang berkabut. Sebagian warga memilih menunda pekerjaan yang tidak mendesak atau menggunakan masker saat berada di luar rumah.

Anak-anak yang biasa bermain di halaman juga perlu lebih diperhatikan agar tidak terlalu lama berada di luar. Sementara itu, kegiatan sehari-hari seperti berangkat sekolah, berbelanja, dan bekerja tetap berlangsung, meskipun warga harus lebih berhati-hati dengan kondisi udara.

Merespons keadaan tersebut, Bupati Maros mengimbau warga menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah. Warga juga diharapkan membatasi kegiatan di luar jika tidak mendesak dan berhati-hati saat berkendara. Di sisi lain, pemantauan kondisi udara dan penyampaian informasi kepada masyarakat diperlukan agar warga mengetahui perkembangan situasi di wilayah mereka.

Warga berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera menelusuri sumber asap, memperkuat pengendalian karhutla, serta memberikan informasi yang jelas mengenai kondisi udara. Sebab, kabut asap bukan hanya menghalangi pandangan, tetapi juga mengganggu kegiatan sehari-hari masyarakat.

Sampai udara kembali jernih, warga Maros masih harus menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tersebut. Mereka berharap kabut segera menghilang agar bisa kembali beraktivitas dengan nyaman.

Penulis: Pratiwi

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.