Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Pembakaran Sampah di Pinggir Jalan Mengganggu Pengendara di Antang

Ketika Jalan Raya Diselimuti Asap Sampah, mengisahkan pengalaman saya saat melintasi kawasan Antang, Kota Makassar, dan menyaksikan tumpukan sampah di pinggir jalan yang dibakar. Asap tebal yang mengepul mengganggu pernapasan dan mengurangi jarak pandang para pengendara. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa membakar sampah bukanlah solusi, melainkan ancaman bagi kesehatan, keselamatan, dan kualitas udara. Lingkungan yang bersih bukan hanya bebas dari sampah, tetapi juga menghadirkan udara yang layak dihirup.

Redaksi IklimKita
13 September 2026•4 menit baca

Perjalanan saya melintasi kawasan Antang, Kota Makassar, siang itu seharusnya berjalan seperti biasa. Arus kendaraan cukup ramai, dipenuhi pengendara motor, mobil pribadi, hingga angkutan barang yang berlalu-lalang. Namun, di tengah perjalanan, pandangan saya tiba-tiba tertuju pada kepulan asap tebal yang membumbung dari pinggir jalan.

Semakin dekat, semakin jelas sumbernya. Sebuah tempat pembuangan sampah masyarakat di tepi jalan sedang dibakar. Asap hitam pekat mengepul tinggi, lalu terbawa angin hingga menutupi sebagian ruas jalan. Bau plastik yang terbakar menusuk hidung, membuat napas terasa sesak dan mata mulai perih.

Saya melihat beberapa pengendara memperlambat laju kendaraannya. Bukan karena kemacetan, tetapi karena jarak pandang mereka mulai terganggu oleh asap. Dalam hitungan detik, jalan raya yang seharusnya menjadi ruang aman berubah menjadi ruang yang penuh asap. Setiap kendaraan harus menembus kepulan asap untuk melanjutkan perjalanan.

Yang membuat saya terus berpikir adalah kenyataan bahwa peristiwa seperti ini seolah sudah menjadi pemandangan biasa. Padahal, asap dari pembakaran sampah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga bisa berdampak pada kesehatan dan keselamatan. Plastik, styrofoam, popok sekali pakai, dan berbagai limbah rumah tangga lainnya yang ikut terbakar menghasilkan asap yang kemudian menyebar ke udara yang kita hirup.

Bukankah jalan raya seharusnya menjadi tempat yang aman, bukan tempat kita harus menghirup asap dari pembakaran sampah?

Persoalan sampah memang tidak mudah diselesaikan. Namun, membakarnya di ruang terbuka, terlebih di pinggir jalan umum, bukanlah jawaban. Sampah mungkin terlihat habis, tetapi asap dan baunya justru menyebar ke mana-mana.

Saya hanya melintas beberapa menit. Namun, mereka yang tinggal di sekitar lokasi itu mungkin menghirup asap yang sama lebih lama. Pikiran itu terus terbayang sepanjang perjalanan saya.

Semoga suatu hari nanti, ketika melintasi jalan yang sama, yang menyambut bukan lagi kepulan asap dari pembakaran sampah, melainkan udara yang lebih bersih dan kesadaran untuk mengelola sampah dengan lebih baik..

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.