Petani Puserren Mulai Kesulitan Menentukan Waktu Tanam karena Cuaca Berubah
Kelurahan Puserren, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang dikenal sebagai penghasil sayur dan buah di Indonesia Timur dengan tanah subur dan iklim sejuk pegunungan. Hasil pertanian melimpah dan menjaga stabilitas pangan di pasar rakyat dengan harga relatif terjangkau. Namun perubahan iklim mulai memengaruhi pola tanam, hujan tak menentu dan kemarau berdampak pada hasil panen yang menurun. Meski begitu, petani tetap bertahan dengan adaptasi dan pengetahuan turun-temurun, menjadikan Puserren tetap sebagai lumbung pangan yang hidup dari kerja keras dan harapan.
"Di Puserren, setiap butir tanah bukan hanya tempat tumbuhnya sayur, tetapi juga tempat bertahannya kehidupan."
Kelurahan Puserren, Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang merupakan salah satu daerah yang banyak menghasilkan sayur-sayuran dan buah. Kondisi daerah yang berada di dataran tinggi membuat banyak warga bekerja sebagai petani.
Berbagai tanaman seperti kol, cabai, tomat, bawang, dan sayuran daun banyak ditanam oleh petani. Hasil panen biasanya dijual ke pasar. Pasar rakyat juga menjadi tempat warga membeli kebutuhan sehari-hari.
Petani di Puserren sudah lama bertani dan sebagian pengetahuan bertani didapat dari orang tua dan keluarga. Mereka menanam berbagai jenis tanaman sesuai dengan kondisi lahan dan musim.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, petani mulai merasakan perubahan pada cuaca. Hujan tidak menentu dan suhu juga terkadang berubah. Musim tanam menjadi lebih sulit diperkirakan karena kondisi cuaca tidak seperti biasanya.
Menurut petani, perubahan cuaca tersebut memengaruhi tanaman. Waktu tanam harus disesuaikan dengan kondisi hujan dan cuaca. Pada musim tertentu, hasil panen juga bisa berkurang.
Untuk mengatasinya, petani mencoba menyesuaikan waktu tanam dan lebih memperhatikan kondisi tanaman. Penggunaan pupuk juga disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Petani juga saling berbagi informasi tentang kondisi tanaman dan cuaca.
Sampai sekarang kegiatan pertanian di Puserren masih berjalan. Petani tetap menanam sayur dan buah meskipun harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang semakin sulit diperkirakan.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




