Kemarau Panjang, Air Tambak Warga Pangkep Mulai Menyusut
Kemarau panjang membuat tambak warga di Kabupaten Pangkep mengalami penyusutan air. Kondisi ini mengancam budidaya ikan bandeng, udang vaname, dan hasil panen lainnya yang menjadi sumber penghidupan keluarga. Warga telah bergotong royong menyewa pompa air, namun upaya tersebut belum mampu memenuhi kebutuhan tambak secara maksimal. Ibu Nunu berharap kemarau segera berakhir agar kondisi tambak membaik dan ekonomi keluarga petambak tetap terjaga.
Pada 19 September 2026, saya melihat kondisi tambak warga di Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, yang airnya mulai menyusut. Dari kejauhan tambak masih terlihat berisi air, tetapi kalau diperhatikan, permukaan air sudah lebih rendah dari biasanya. Beberapa bagian tambak terlihat dangkal dan pematangnya semakin jelas.
Tambak ini menjadi salah satu sumber penghasilan warga. Ada yang membudidayakan ikan bandeng dan ada juga yang memelihara udang vaname. Karena itu, berkurangnya air membuat warga mulai khawatir dengan kondisi tambak dan hasil panen mereka.
Kemarau yang cukup panjang membuat warga harus mencari cara supaya air di tambak tetap ada. Warga bergotong royong dan menyewa pompa air untuk membantu mengisi atau mempertahankan air di tambak.
Pompa memang bisa membantu memasukkan air, tetapi belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh tambak. Air yang dibutuhkan cukup banyak, sementara kemarau masih berlangsung.
Ibu Nunu, salah satu istri petambak, mengatakan kondisi seperti ini cukup membuat keluarganya khawatir karena penghasilan mereka juga bergantung pada tambak.
"Kemarau panjang ini bisa sangat berdampak kepada ekonomi kami."
Menurut Ibu Nunu, kalau kondisi air terus berkurang, hasil panen juga dikhawatirkan ikut menurun. Bagi keluarga petambak, hasil dari bandeng atau udang bukan hanya untuk dijual, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga sebenarnya sudah berusaha bersama-sama. Mereka menyewa pompa dan bergotong royong supaya tambak tetap mendapatkan air. Namun, usaha tersebut belum maksimal karena kebutuhan air cukup besar dan kemarau masih berlangsung.
Kondisi tambak sekarang berbeda dengan biasanya. Pematang yang sebelumnya lebih banyak tertutup air mulai terlihat. Beberapa bagian tambak juga tampak semakin dangkal.
Ibu Nunu berharap kemarau panjang ini segera berakhir dan hujan kembali turun.
"Harapannya kemarau panjang ini lekas usai. Walaupun kami sudah bergotong royong menyewa pompa air, itu belum maksimal untuk tambak kami."
Untuk warga yang hidup dari tambak, air sangat penting. Kalau air terus berkurang, mereka tidak hanya khawatir dengan kondisi tambaknya, tetapi juga dengan penghasilan keluarga.
Saat ini warga masih berusaha mempertahankan tambak dengan cara yang mereka bisa. Mereka berharap hujan segera turun agar air kembali cukup dan tambak bisa digunakan seperti biasanya.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




