Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Keladi, Pangan Lokal yang Menjadi Andalan Saat Musim Paceklik di Sumba

Musim paceklik di Sumba Tengah membuat ketergantungan pada beras semakin terasa saat produksi padi dan jagung menurun. Di tengah kondisi tersebut, keladi menjadi salah satu pangan lokal yang tetap bisa tumbuh dengan sedikit air dan dapat disimpan hingga berbulan-bulan.

Redaksi IklimKita
6 Oktober 2026•4 menit baca

Di Sumba ada kalender yang tidak ada di buku, namanya musim paceklik. Biasanya musim ini terjadi sekitar Agustus sampai November. Hujan tidak turun hingga delapan bulan membuat debit air tanah turun. Sawah tadah hujan juga mulai retak, sehingga produksi jagung dan padi sangat menurun. Kondisi ini membuat harga beras sangat melambung. Padahal di Sumba Tengah mayoritas masyarakat adalah petani, tetapi tetap sering mengalami krisis pangan karena sangat bergantung pada beras. Sebenarnya, di titik inilah pangan lokal bisa bekerja. Salah satunya adalah keladi.

Keladi merupakan salah satu pangan yang biasa dikonsumsi masyarakat di Sumba. Daunnya bisa digunakan untuk pakan ternak, sementara umbinya dikonsumsi oleh manusia. Menariknya, keladi tidak membutuhkan air sebanyak padi. Dengan curah hujan yang minim, keladi masih bisa hidup dan menghasilkan umbi yang baik. Kalau ke pasar, biasanya banyak keladi yang dijual oleh masyarakat karena kebutuhan terhadap keladi juga cukup tinggi.

Untuk penyimpanan, umbinya bisa dibiarkan di dalam tanah hingga 8-10 bulan tanpa busuk. Jadi, keladi bisa digali ketika sedang dibutuhkan untuk dikonsumsi. Ini menjadi salah satu cara penyimpanan yang menurut saya sangat baik. Ketika sudah mendekati musim hujan, biasanya petani akan menggali semua keladi yang masih ada di dalam tanah.

Keladi yang sudah dipanen akan dibawa ke rumah dan disimpan di tempat yang sudah dikhususkan. Tempat ini biasanya memiliki suhu yang rendah dan sedikit lembap, sehingga keladi bisa awet berbulan-bulan. Keladi yang disimpan di rumah biasanya lebih bagus untuk dikonsumsi karena selama penyimpanan getah yang membuat gatal akan berkurang atau hilang.

Ketika masuk musim lapar, keladi ini bisa diambil untuk dikonsumsi. Cara mengolahnya juga ada beberapa. Ada yang langsung dibakar di bara api, ada yang dimasak, atau kalau sedikit rajin bisa dibuat keripik atau gorengan. Selain itu, masyarakat biasanya ada yang membuat bubur keladi. Ini sangat enak, apalagi dimakan ketika masih hangat. Keladi juga bisa menjadi salah satu bahan untuk membuat kolak. Di Sumba Tengah, ada beberapa jenis keladi yang batangnya juga bisa dikonsumsi dan dijadikan sayuran. Rasanya sangat enak.

Beberapa tahun terakhir ini Sumba Tengah selalu menghadapi krisis pangan. Padahal kalau kita lihat, daerahnya sangat luas, masih banyak lahan yang tidak dimanfaatkan dan juga banyak pangan lokal yang bisa dikonsumsi. Masalahnya bukan tidak ada makanan. Pilihannya yang selama ini lebih banyak hanya beras atau padi.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.