Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Kebakaran Kembali Terjadi di Lereng Malino, Warga Khawatir Api Meluas

Kebakaran lahan dan hutan pinus kembali terjadi di kawasan wisata Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, pada Sabtu malam, 19 September 2026. Api membakar vegetasi dan tebing di sekitar poros Malino–Parigi, mengganggu lalu lintas serta menimbulkan kekhawatiran warga. Sebelumnya, kebakaran pada 19 Agustus 2026 menghanguskan sekitar dua hektare lahan. Penyebab terbaru belum dipastikan, tetapi warga menduga puntung rokok, pembakaran sampah, atau unsur kesengajaan. Warga berharap ada patroli, edukasi, dan penanganan cepat.

Redaksi IklimKita
29 September 2026•4 menit baca

Sabtu malam, 19 September 2026, kebakaran kembali terjadi di kawasan Malino, Kecamatan Tinggimoncong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Api terlihat di sekitar poros Malino-Parigi, jalan yang cukup ramai dilalui warga dan wisatawan.

Dari kejauhan, api terlihat memanjang mengikuti lereng dan tebing di pinggir jalan. Rumput kering, semak, dan beberapa vegetasi lainnya ikut terbakar.

Di bagian bawah bukit masih terlihat kebun warga dan pepohonan. Karena titik api cukup dekat dengan jalan, pengguna kendaraan yang melintas harus lebih berhati-hati dan mengurangi kecepatan.

Asap dan kobaran api terlihat dari jalan. Warga yang berada di sekitar lokasi juga merasa khawatir kalau api semakin besar dan bergerak ke arah kebun, hutan pinus, atau permukiman.

Salah seorang warga mengatakan, "Api terlihat memanjang di lereng dan membuat warga khawatir, apalagi lokasinya dekat jalan yang sering dilalui kendaraan."

Kebakaran seperti ini bukan pertama kali terjadi di Malino. Sebelumnya, pada 19 Agustus 2026, kebakaran lahan juga terjadi dan dilaporkan membakar sekitar dua hektare lahan.

Dengan kebakaran yang kembali terjadi dalam waktu sekitar satu bulan, warga semakin khawatir karena di sekitar lokasi terdapat hutan pinus, kebun, dan lahan yang masih digunakan masyarakat.

Sampai saat ini, penyebab pasti kebakaran yang terjadi pada Sabtu malam tersebut belum diketahui. Ada warga yang menduga kebakaran bisa saja berasal dari puntung rokok atau pembakaran yang tidak diawasi, tetapi hal tersebut belum dapat dipastikan.

Yang jelas, kondisi rumput dan semak yang kering membuat api mudah menyebar. Warga juga khawatir kalau api bergerak semakin jauh dan sampai ke kebun yang masih digunakan untuk mencari penghasilan.

Kebakaran di kawasan seperti ini juga membuat warga yang melintas merasa tidak nyaman. Selain melihat api di dekat jalan, asap juga mengganggu pandangan dan membuat perjalanan harus dilakukan lebih hati-hati.

Warga berharap api bisa segera benar-benar padam dan tidak muncul kembali dari bara yang masih tersisa. Mereka juga berharap kawasan sekitar poros Malino-Parigi lebih sering dipantau ketika kondisi lahan sedang kering.

Bagi warga Malino, kawasan ini bukan hanya tempat wisata. Di sekitar lereng juga ada kebun, hutan pinus, dan permukiman yang sehari-hari menjadi bagian dari kehidupan mereka. Karena itu, ketika kebakaran kembali terjadi, warga tentu khawatir api akan semakin meluas dan merusak lahan di sekitarnya.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.