Kebakaran Bukit Padira Ladu Membuat Warga Kembali Siaga
Kebakaran bukit yang berdampak pada hilangnya rumput untuk ternak dan matinya berbagai pohon.
Beberapa hari terakhir, beberapa bukit di wilayah ini mengalami kebakaran. Salah satunya Bukit Padira Ladu yang berada di antara Desa Wangga Waiyengu dan Desa Bolubokat.
Nama Padira Ladu berasal dari bahasa setempat. Padira berarti pembatas, sedangkan ladu berarti matahari. Masyarakat Desa Wangga Waiyengu memberi nama tersebut karena saat matahari sudah terbit di Desa Bolubokat, di Desa Wangga Waiyengu masih gelap. Sinar matahari masih terhalang oleh bukit.
Beberapa hari ini bukit kembali terbakar. Cuaca yang panas membuat alang-alang dan rumput menjadi kering. Kalau ada api, rumput kering tersebut mudah terbakar dan api cepat menyebar.
Pemerintah desa sudah beberapa kali mengimbau warga agar tidak membakar padang sembarangan. Namun, kebakaran masih terjadi. Sampai sekarang belum diketahui siapa yang menyebabkan kebakaran. Belum diketahui juga apakah dibakar atau karena puntung rokok yang dibuang sembarangan.
Permukiman warga berada dekat dengan padang. Kalau api merambat, rumah warga bisa ikut terbakar. Saat kebakaran terjadi, warga harus bersiap dan ikut memadamkan api supaya tidak sampai ke rumah.
Beberapa tahun lalu, kebakaran padang pernah menghanguskan dua rumah warga. Tidak hanya rumah, tanaman yang ditanam warga di lereng bukit juga ikut terbakar, seperti bambu, pisang, kemiri, dan kopi.
Kebakaran tersebut membuat warga mengalami kerugian karena rumah dan tanaman yang menjadi milik mereka ikut terbakar.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




