Petatas dan Kabija Kateti, Warisan Pangan Sumba untuk Menghadapi Musim Lapar
Di Sumba, petatas atau kateti bukan sekadar camilan teman minum kopi. Para tetua mewariskan cara mengolah dan mengawetkannya melalui kabija kateti, yaitu mengupas, mengiris, dan menjemur petatas agar bisa disimpan lebih dari setahun. Namun, ketika beras semakin menjadi makanan pokok, petatas dan pengetahuan lokal untuk menghadapi musim lapar perlahan mulai dilupakan.
Di Sumba, orang biasa menyebut ubi jalar sebagai petatas. Sementara di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, tanaman ini disebut kateti.
Tanah Sumba yang berbatu kapur, cenderung kering, dan jarang mendapat hujan ternyata cocok untuk petatas tumbuh. Umbinya bisa besar dan bagus, meskipun tanaman ini tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Cara menanamnya juga mudah. Petani cukup mengambil batang petatas, memotongnya menjadi stek sekitar 10 sentimeter, lalu menancapkannya ke tanah. Setelah itu, tanaman akan tumbuh dan merambat hingga sepanjang 2-3 meter.
Petatas juga bisa tumbuh dari umbinya. Jika umbi yang tertinggal di tanah terkena air hujan, tunasnya bisa muncul kembali. Bahkan, terkadang petani tidak perlu menanam ulang karena sisa tanaman yang tidak digali bisa tumbuh dengan sendirinya saat musim hujan tiba.
Bagi saya, petatas adalah salah satu pangan yang menarik untuk kita ingat kembali. Selain beras, jagung, dan singkong, petatas juga merupakan sumber karbohidrat yang bisa diandalkan. Ketika musim lapar datang dan beras sulit didapat, petatas bisa menjadi salah satu pilihan makanan yang tersedia di kebun sendiri.
Sayangnya, di Sumba petatas sekarang lebih sering dianggap sebagai makanan tambahan atau camilan, bukan makanan pokok. Padahal, menurut cerita yang saya dengar dari masyarakat, sebelum beras semakin banyak dikonsumsi, para tetua Sumba menjadikan berbagai umbi, termasuk petatas, sebagai makanan sehari-hari.
Sekarang, petatas lebih sering dihidangkan sebagai teman minum kopi atau teh. Jarang sekali kita melihatnya dijadikan makanan utama. Bahkan ketika musim lapar datang, banyak orang masih berfokus mencari beras, padahal petatas mungkin masih tumbuh di kebun mereka.
Ketergantungan pada beras membuat kita perlahan-lahan melupakan bagaimana para tetua dulu bertahan hidup dengan memanfaatkan berbagai umbi yang tumbuh di Pulau Sumba. Kita juga berisiko melupakan pengetahuan mereka tentang cara hidup berdampingan dengan alam dan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar kita.
Petatas merupakan salah satu tanaman yang bisa tumbuh di kebun tanpa harus membuka hutan. Ini berbeda dengan sistem penanaman padi di lahan yang memerlukan pembukaan lahan tertentu. Karena itu, menjaga petatas dan pangan lokal lainnya juga berarti menjaga pilihan pangan yang sudah lama dikenal dan dibudidayakan masyarakat.
Di Sumba, ada tiga jenis petatas yang masih dikembangkan masyarakat. Ada petatas berwarna ungu yang mengandung antosianin, ada yang berwarna kuning telur yang mengandung beta-karoten, dan ada petatas berwarna putih yang umbinya bisa tumbuh sangat besar. Menurut pengalaman masyarakat, petatas putih bahkan bisa mencapai berat sekitar 3 kilogram.
Bukan hanya umbinya yang bisa dimakan. Daun petatas juga enak dijadikan sayur, baik ditumis maupun dimasak dengan kuah bening. Saya jadi teringat masa kecil, ketika sedang sakit, orang tua biasanya membuatkan sayur daun petatas untuk saya. Apalagi yang berwarna ungu. Orang tua bercerita bahwa sayur itu baik untuk menambah darah.
Mengolah petatas juga tidak sulit. Umbinya tinggal digali, kemudian direbus atau dibakar. Petatas juga bisa dibuat menjadi keripik atau kolak. Rasanya sudah enak meskipun hanya direbus, apalagi jika disantap ketika masih hangat.
Namun, petatas memiliki satu kekurangan: umbinya tidak bisa disimpan terlalu lama setelah digali. Berbeda dengan keladi yang bisa dibiarkan berada di dalam tanah selama berbulan-bulan, petatas yang sudah dipanen hanya bertahan sekitar satu minggu jika disimpan di luar tanpa pengolahan khusus.
Karena itu, biasanya petatas digali ketika akan dimakan. Selama belum dibutuhkan, umbinya dibiarkan tetap berada di dalam tanah agar lebih awet.
Lalu, bagaimana kalau petatas dipanen dalam jumlah banyak? Masyarakat Sumba punya cara sendiri untuk menyimpannya agar bisa digunakan ketika musim lapar tiba.
Sebelum panen besar, masyarakat biasanya menyiapkan tempat penjemuran yang dibuat dari bambu. Setelah petatas dipanen, umbinya dikupas, diiris tipis, lalu dijemur selama sekitar tiga sampai empat hari hingga benar-benar kering. Setelah kering sempurna, irisan petatas dimasukkan ke dalam wadah untuk disimpan. Dengan cara ini, petatas bisa bertahan lebih dari satu tahun. Di Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, cara pengawetan petatas ini dikenal dengan nama kabija kateti.
Dulu, keluarga yang menanam petatas biasanya memiliki hari tersendiri untuk melakukan kabija kateti, terutama pada musim kemarau. Kerabat akan datang membantu proses panen dan pengolahan. Setelah petatas selesai diiris dan dikeringkan, mereka yang ikut membantu juga akan mendapatkan bagian.
Bagi saya, kabija kateti bukan sekadar cara mengawetkan makanan. Di dalamnya ada pengetahuan para tetua Sumba tentang bagaimana menyimpan pangan untuk menghadapi masa ketika makanan sulit didapat. Ada juga kebiasaan saling membantu dan berbagi hasil panen dengan kerabat.
Petatas yang sudah dikeringkan tidak harus langsung dimakan. Ketika musim lapar tiba, simpanan itu bisa dikeluarkan untuk diolah menjadi bubur petatas.
Cara memasaknya sederhana. Petatas kering dicuci, kemudian direbus sampai matang. Setelah itu, tinggal ditambahkan sedikit garam. Kalau ingin rasa manis, dulu orang biasanya menambahkan perasan tebu. Sekarang, gula juga bisa digunakan sesuai selera. Namun, tanpa tambahan gula pun bubur petatas sudah terasa manis karena umbinya memang memiliki rasa manis alami.
Pengetahuan seperti ini penting untuk terus diceritakan kepada anak cucu. Sebab, ketika kita hanya mengenal beras sebagai makanan pokok, kita bisa lupa bahwa ada banyak sumber karbohidrat lain yang telah lama membantu masyarakat bertahan hidup.
Sebenarnya, Sumba memiliki berbagai jenis pangan lokal yang bisa dikembangkan, termasuk petatas, keladi, jagung, sorgum, dan singkong. Masing-masing memiliki cara tumbuh, pengolahan, dan penyimpanan yang berbeda. Jika pengetahuan tentang tanaman-tanaman ini terus dijaga, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan ketika menghadapi musim kering atau kesulitan mendapatkan pangan.
Karena itu, kalau berbicara tentang swasembada pangan, menurut saya pemerintah juga perlu melihatnya sebagai upaya memenuhi kebutuhan karbohidrat dari berbagai sumber, bukan hanya beras. Petatas, jagung, sorgum, singkong, dan pangan lokal lainnya perlu mendapat perhatian yang sama sesuai potensi masing-masing daerah.
Pemerintah daerah juga perlu melihat kembali apa yang sudah tumbuh dan diwariskan di Sumba. Pangan lokal yang telah lama beradaptasi dengan kondisi tanah dan iklim setempat perlu terus dikembangkan, begitu pula pengetahuan masyarakat tentang cara menanam, mengolah, dan menyimpannya.
Petatas mungkin sekarang hanya dianggap sebagai camilan untuk teman minum kopi atau teh. Namun, di balik umbinya tersimpan cerita tentang bagaimana para tetua Sumba memenuhi kebutuhan pangan, menghadapi musim lapar, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya.
Jangan sampai kita baru kembali mencari petatas ketika beras sulit didapat, sementara pengetahuan untuk menanam dan mengawetkannya sudah ikut dilupakan.
Penulis: Norbert U.K Laki Pali
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




