Jagung Lokal Sumba, Benih Warisan yang Terancam Dilupakan
Di tengah curah hujan yang rendah dan musim tanam yang semakin sulit diprediksi, jagung lokal menjadi salah satu andalan pangan masyarakat Sumba. Benihnya bisa disimpan untuk ditanam kembali, sementara hasil panennya dapat diawetkan hingga bertahun-tahun untuk persediaan saat musim paceklik. Namun, peralihan ke jagung hibrida perlahan membuat benih lokal dan pengetahuan para tetua terancam ditinggalkan.
Pulau Sumba dikenal memiliki curah hujan yang rendah. Sebagian wilayahnya juga tersusun atas batuan kapur, sehingga air hujan mudah meresap ke dalam tanah. Dalam kondisi seperti ini, para tetua Sumba sudah lama beradaptasi dengan alam, termasuk melalui pemilihan tanaman pangan yang bisa tumbuh di lingkungan setempat.
Salah satunya adalah jagung lokal. Tanaman ini membutuhkan waktu sekitar 3-4 bulan dari tanam hingga panen. Benihnya bisa disimpan dari hasil panen sebelumnya, sehingga petani tidak harus selalu membeli benih setiap musim tanam. Jagung menjadi pangan utama kedua setelah beras di Sumba, bahkan di beberapa kampung menjadi makanan pokok masyarakat.
Dalam pertanian tradisional, jagung biasanya ditanam dua kali setahun, sekitar September dan Maret. Namun, di Desa Wangga Waiyengu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, penanaman belum bisa dilakukan karena hujan belum turun. Menurut cerita warga, dahulu hujan biasanya mulai turun pada September, tetapi sekarang waktunya semakin bergeser. Warga hanya bisa menunggu sambil menyiapkan lahan kebun.
Pengetahuan Menyimpan Jagung untuk Musim Paceklik
Masyarakat Sumba memiliki cara tersendiri untuk menyimpan jagung agar tahan lama. Jagung yang paling bagus disimpan bersama kulitnya di loteng rumah untuk persediaan makanan dan benih. Rumah tradisional Sumba memiliki tiga tingkat: bagian bawah untuk hewan, bagian tengah untuk tempat tinggal, dan loteng untuk menyimpan hasil panen.
Jagung juga biasa digantung di atas tungku kayu agar terkena asap saat memasak. Jika hasil panen terlalu banyak, jagung diikat dan disusun pada pohon agar kering terkena panas matahari. Cara-cara ini menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat untuk menjaga persediaan pangan.
Ketika musim paceklik tiba, jagung diturunkan, dikupas, lalu diolah menjadi beras jagung. Biji jagung dititi atau dihancurkan, kemudian diayak menggunakan nyiru dari anyaman bambu untuk memisahkan bagian yang halus dan kasar. Beras jagung bisa dimasak sendiri atau dicampur dengan beras padi.
Jagung juga diolah menjadi jagung sangrai, jagung titi, marning, jagung bose, pepes jagung, dan jagung kogang. Untuk membuat jagung kogang, jagung dimasak hingga lunak lalu dicampur sayuran seperti daun pepaya, daun ubi, daun labu kuning, atau daun kelor.
Benih Lokal Mulai Tergeser Jagung Hibrida
Meski masih ditanam, jagung lokal Sumba mulai tergeser oleh jagung hibrida yang ditawarkan dengan keunggulan hasil panen lebih banyak, buah lebih bagus, dan waktu panen lebih cepat.
Dari pengamatan saya, peralihan ini membuat sebagian petani semakin bergantung pada pembelian benih setiap musim tanam. Padahal, benih jagung lokal bisa disimpan dan digunakan kembali. Saya juga melihat perbedaan daya simpan antara jagung lokal dan hibrida. Dengan cara penyimpanan yang biasa dilakukan masyarakat, jagung lokal bisa bertahan hingga sekitar dua tahun, sedangkan jagung hibrida yang saya amati terkadang mulai membusuk sebelum satu tahun.
Pengalaman ini menunjukkan pentingnya mempertahankan benih lokal yang telah lama dibudidayakan masyarakat. Daya simpan memang dipengaruhi kondisi jagung dan cara penyimpanannya, tetapi pengetahuan warga tentang pemilihan benih dan pengawetan hasil panen tetap perlu dijaga.
Sumba memiliki kondisi tanah, curah hujan, dan bentang alam yang khas. Masyarakatnya juga memiliki berbagai jenis pangan lokal beserta pengetahuan tentang cara menanam, menyimpan, dan mengolahnya. Semua ini merupakan kekayaan yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Kalau berbicara tentang swasembada pangan, seharusnya kita juga berbicara tentang kemandirian benih dan keberagaman sumber karbohidrat. Tidak harus semuanya diseragamkan dengan satu jenis tanaman atau satu sistem pertanian. Jagung lokal, petatas, keladi, sorgum, singkong, dan pangan lokal lainnya memiliki peran masing-masing dalam memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemerintah daerah dapat mendukung petani untuk tetap menanam jagung lokal, menjaga ketersediaan benih, serta mendokumentasikan pengetahuan para tetua tentang penyimpanan dan pengolahan hasil panen. Dengan begitu, generasi berikutnya masih bisa mengenal dan memanfaatkan warisan pangan yang sudah lama tumbuh bersama masyarakat Sumba.
Penulis: Norbert U.K Laki Pali
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




