Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Harapan yang Mengalir di Tengah Kekeringan Barombong Gowa, Sulsel

Di Barombong terpaksa mengandalkan sumber air terbatas dari sungai dan sumur warga untuk mengairi sawah mereka di tengah ancaman El Nino 2026 yang diprediksi BMKG sebagai yang terkuat dalam dekade ini. Dengan bantuan pompa dari pemerintah provinsi dan gotong royong antarpetani, mereka bergiliran memompa air dari subuh hingga malam. Meski 37.000 hektare lahan pertanian Sulsel terancam kekeringan, petani Barombong tetap menanam. "Kalau sawah mati, kami juga mati," kata salah seorang petani.

Redaksi IklimKita
8 September 2026•4 menit baca

Di Barombong, Sulawesi Selatan, ratusan petani menghadapi kekeringan yang berlangsung panjang pada 2026. Kondisi ini membuat air sungai dan sumur warga semakin berkurang. Sawah yang biasanya mendapat cukup air mulai mengering. Tanah di beberapa lahan terlihat retak karena kekurangan air.

Untuk mempertahankan sawah, petani mencari sumber air yang masih tersedia. Mereka meminjam pompa air, memanfaatkan sumur warga, dan mengalirkan air yang tersisa ke lahan pertanian. Air yang didapat tidak banyak. Di beberapa tempat, alirannya kecil dan keruh.

Petani kemudian membuat sistem antrean untuk mengatur penggunaan air. Setiap petani menunggu giliran agar air dapat dibagi ke setiap petak sawah. Ada yang datang sejak subuh, menunggu sampai siang, atau berjaga hingga malam untuk memastikan air tetap mengalir ke lahannya.

Dalam pelaksanaannya, petani saling membantu. Ketika ada yang mendapat giliran air, petani lain membantu mengarahkan selang atau memperbaiki pompa. Jika debit air berkurang, mereka berdiskusi untuk mengatur kembali pembagian air agar dapat digunakan bersama.

"Kalau sawah mati, kami juga mati," ujar seorang petani.

Bagi petani, sawah merupakan sumber penghasilan keluarga. Hasil panen digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya sekolah anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Karena itu, mereka tetap berusaha mempertahankan tanaman meskipun air semakin sulit didapatkan.

Kekeringan juga membuat biaya dan waktu yang dikeluarkan petani bertambah. Mereka harus membeli bahan bakar untuk menjalankan pompa dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menunggu serta mengatur pembagian air. Waktu yang biasanya digunakan untuk mengurus tanaman juga harus dibagi dengan kegiatan mencari dan menunggu air.

Sistem antrean dan pembagian air dilakukan agar sumber air yang tersedia dapat digunakan bersama. Petani bergantian mendapatkan air pada pagi, siang, atau malam hari. Mereka juga saling membantu ketika ada masalah pada pompa atau saluran air.

Petani belum mengetahui kapan kekeringan akan berakhir dan kapan hujan kembali turun dengan cukup. Selama masih ada sumber air yang dapat digunakan, mereka tetap berusaha mengairi sawah dan mempertahankan tanaman yang ada.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.