Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Kebakaran Gunung Bulu Saukang, Warga Cemas Pendaki Masih Berada di Atas

Kebakaran hutan dan lahan melanda Gunung Bulu Saukang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, pada awal September 2026. Api diduga cepat meluas akibat cuaca panas, vegetasi kering, angin pegunungan, serta kemungkinan kelalaian manusia yang masih diselidiki. Kobaran api yang muncul di sekitar Pos 5 jalur pendakian sempat membuat warga panik karena terdapat beberapa pengunjung di atas gunung. Berkat evakuasi dan penanganan tim gabungan, seluruh pendaki berhasil turun dengan selamat. Peristiwa ini menjadi peringatan pentingnya pengawasan dan pencegahan kebakaran di kawasan pendakian.

Redaksi IklimKita
29 September 2026•5 menit baca

Malam 6 September 2026, kebakaran terjadi di kawasan Gunung Bulu Saukang, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Api pertama kali terlihat sekitar pukul 20.12 Wita dari sekitar Pos 5 jalur pendakian. Setelah itu api terlihat meluas ke arah Pos 3 sampai kawasan puncak.

Saat melihat api dari kejauhan, warga mulai khawatir karena saat itu masih ada pendaki di atas gunung. Informasi dari posko pemantauan menyebut ada 337 pendaki yang berada di kawasan Bulu Saukang. Sebanyak 68 orang sempat terjebak ketika api semakin membesar.

Warga yang melihat kejadian dari bawah hanya bisa mengikuti perkembangan api dari kejauhan. Kobaran terlihat di antara rumput, ilalang, dan semak yang kering. Api tampak bergerak mengikuti lereng, sementara asap mulai menutupi bagian gunung.

"Saya yang melihat langsung kejadian dari kejauhan cukup panik juga karena katanya ada pengunjung di atas. Untungnya tidak ada korban dan semua selamat," kata seorang warga yang melihat kebakaran tersebut.

Para pendaki akhirnya berhasil dievakuasi. Ada laporan beberapa pendaki mengalami cedera ringan dan mengeluhkan sesak napas karena asap, tetapi seluruh pendaki berhasil keluar dari kawasan tersebut dalam keadaan selamat.

Kebakaran terlihat cukup besar karena kondisi rumput dan ilalang sedang kering. Cuaca yang panas juga membuat warga semakin khawatir api cepat menyebar. Angin di kawasan gunung ikut membuat arah api sulit diperkirakan.

Sampai sekarang penyebab pasti kebakaran belum diketahui. Karena titik awal api berada di sekitar jalur pendakian, warga juga menduga ada kemungkinan api berkaitan dengan aktivitas manusia. Puntung rokok atau sisa api yang belum benar-benar padam menjadi beberapa kemungkinan yang dibicarakan warga, tetapi belum ada kepastian mengenai penyebabnya.

Pemadaman juga tidak mudah karena lokasi berada di kawasan berbukit dan beberapa bagian sulit dijangkau kendaraan. Tim gabungan kemudian melakukan pemantauan dan penanganan kebakaran sekaligus memastikan para pendaki bisa keluar dari kawasan tersebut.

Bagi warga yang melihat dari bawah, yang paling membuat khawatir adalah keberadaan pendaki ketika api mulai membesar. Gunung yang biasanya terlihat gelap pada malam hari justru terlihat terang karena kobaran api di lerengnya.

Setelah kejadian tersebut, jalur pendakian Bulu Saukang dilaporkan ditutup sementara. Warga berharap penutupan dan pemantauan dilakukan sampai kondisi benar-benar aman, karena masih ada kemungkinan bara api tersisa di beberapa bagian yang sulit dijangkau.

Kebakaran ini juga membuat warga khawatir dengan kondisi gunung setelah api padam. Rumput dan tanaman yang terbakar meninggalkan bagian lereng yang terbuka. Warga berharap kawasan yang terbakar bisa dipantau dan dipulihkan agar tidak menimbulkan masalah lain ketika hujan datang.

Yang paling penting bagi warga saat ini adalah keselamatan. Mereka bersyukur para pendaki yang berada di atas gunung akhirnya berhasil dievakuasi dan tidak ada korban jiwa.

Semoga kebakaran segera benar-benar padam, jalur pendakian bisa kembali aman, dan kejadian seperti ini tidak terulang lagi.


Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.