Saat Gempa Terjadi, Warga Sumba Kembali Mengingat Konstruksi Rumah Panggung
Gempa dengan skala 5,1 magnitudo tidak membuat masyarakat sumba panik, karena percaya warisan rumah panggung sangat tahan terhadap gempa.
Minggu malam, sekitar pukul 21.00 WITA, terjadi gempa bumi sekitar 13 kilometer dari Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, dengan kekuatan 5,1 magnitudo.
Yang menarik dari gempa tersebut bukan hanya gempanya, tetapi bagaimana masyarakat yang tinggal di rumah panggung Sumba menghadapinya.
Saat itu saya sedang berbaring. Tiba-tiba gempa terasa. Setelah gempa berhenti, orang-orang di rumah hanya saling memastikan, "Benarkah tadi ada gempa?" Setelah dipastikan memang terjadi gempa, semua kembali tidur.
Tidak ada yang terlalu memikirkan apakah rumah akan roboh atau retak, atau apakah akan ada gempa susulan. Mengapa bisa begitu tenang?
Sumba merupakan salah satu wilayah di Nusa Tenggara Timur yang cukup sering merasakan gempa. Selain itu, masyarakat Sumba sejak dulu memiliki rumah panggung dengan bentuk dan konstruksi yang berbeda dari rumah pada umumnya.
Rumah panggung orang Sumba dibuat dari kayu dan dirakit dengan cara saling mengikat. Tiang-tiangnya tidak ditanam atau dicor ke tanah, tetapi diletakkan pada bagian bawah rumah. Menurut masyarakat, konstruksi seperti ini membuat rumah tidak terlalu kaku ketika terjadi getaran sehingga rumah tidak mudah rusak.
Hal ini membuat saya berpikir tentang rumah panggung yang sekarang semakin banyak ditinggalkan. Rumah yang dianggap lebih modern dan kuat justru banyak dibangun menggunakan tembok. Padahal, rumah tembok juga memiliki risiko ketika terjadi gempa jika tidak dibangun dengan konstruksi yang tepat.
Untuk membangun rumah, masyarakat juga membutuhkan pasir dan bahan bangunan lainnya. Pasir bisa diambil dari sungai maupun laut. Sementara rumah panggung dapat dibuat dari bahan yang sudah digunakan dan dikenal masyarakat sejak lama.
Rumah panggung Sumba mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan rumah modern. Namun, rumah ini memiliki sejarah dan merupakan bagian dari warisan budaya masyarakat Sumba.
Bentuk rumah tersebut juga bukan dibuat begitu saja. Ada pengetahuan yang diwariskan oleh orang-orang terdahulu yang sudah lama hidup dan menyesuaikan diri dengan kondisi Pulau Sumba.
Gempa malam itu kembali membuat saya berpikir bahwa sesuatu yang terlihat sederhana belum tentu tidak memiliki alasan. Rumah panggung yang diwariskan dari generasi ke generasi menyimpan pengetahuan masyarakat tentang bagaimana mereka hidup dan menghadapi kondisi alam di Sumba.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




