Pengambilan Pasir di Waduk Gude Berubah dari Manual ke Mesin
Ada mesin penyedot pasir dan truk berjejer untuk mengangkut pasir dari lokasi. Penyedotan menggunakan mesin diesel dengan pipa panjang kedalam. Lalu disambungkan dengan pipa yang mengarah kesetiap truk yang berbaris mengantre.
Sungai Brantas merupakan salah satu sungai yang panjang di Jawa Timur. Salah satu alirannya menuju Waduk Gude. Waduk Gude menjadi sumber pengairan untuk sawah-sawah di Kecamatan Gudo dan wilayah Jember, Kediri.
Waduk Gude juga membawa material pasir dari Gunung Kelud, Kediri. Saat terjadi lahar dingin pada 2014, banyak material pasir yang terbawa ke sungai. Material pasir dari Gunung Kelud kemudian menjadi sumber penghasilan bagi warga yang mengambil pasir.
Dulu pasir diambil secara manual dari dasar sungai menggunakan rinjing besi. Rinjing tersebut berbentuk seperti tabung dan memiliki lubang-lubang kecil.
Lama-kelamaan, pengambilan pasir mulai menggunakan mesin diesel. Pasir dari dasar sungai disedot menggunakan mesin. Truk juga banyak yang mengantre di sekitar jembatan dan pinggir waduk untuk mengangkut pasir.
Menurut warga, banyaknya truk dan aktivitas pengambilan pasir juga membuat tanggul di sekitar waduk mengalami longsor.
Dari sisi ekonomi, warga juga merasakan perubahan. Menurut warga, pemilik tambang pasir menjadi pihak yang paling banyak mendapatkan keuntungan. Sementara orang yang bekerja mengambil pasir hanya mendapat upah.
Dulu, ketika warga masih mengambil pasir secara manual, hasil yang didapatkan dari mencari pasir dianggap lebih menjanjikan. Sekarang, pekerjaan mengambil pasir lebih banyak bergantung pada pemilik tambang dan mesin.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




