Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Antrean BBM Berjam-jam Mengganggu Warga Makassar

Kemacetan panjang akibat antrean BBM di SPBU Pertamina membuat warga Kota Makassar resah karena harus terjebak di jalan hingga berjam-jam. Antrean kendaraan yang meluber ke badan jalan menghambat aktivitas warga, mulai dari bekerja, mengantar anak sekolah, berdagang, hingga mengangkut barang. Pengendara juga harus menghadapi panas, asap kendaraan, dan kelelahan selama menunggu. Warga berharap ada solusi agar antrean BBM tidak semakin panjang dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa mengganggu aktivitas serta kelancaran jalan.

Redaksi IklimKita
15 September 2026•6 menit baca

Malam hari biasanya menjadi waktu untuk beristirahat setelah seharian bekerja. Namun, saat itu saya melihat kondisi berbeda di salah satu SPBU di Kota Makassar. Puluhan kendaraan masih memenuhi area antrean. Motor dan mobil berjejer menunggu giliran untuk mengisi BBM. Lampu SPBU memang terang, tetapi banyak pengendara terlihat lelah karena sudah menunggu cukup lama.

Bagi warga, mengantre BBM seperti ini bukan hanya menunggu beberapa menit. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan bahan bakar. Ada yang datang setelah pulang kerja, ada yang sengaja menunggu sampai malam agar mendapatkan BBM, dan ada juga yang tetap bertahan meskipun antrean belum berkurang.

Di antara antrean kendaraan, warga hanya bisa menunggu sambil melihat kendaraan di depannya. Banyak motor yang sudah dimatikan mesinnya. Sebagian pengendara turun dari kendaraan, sementara yang lain tetap duduk menunggu giliran.

Kondisi ini cukup membuat warga resah. Bagi orang yang menggunakan kendaraan setiap hari untuk bekerja, BBM merupakan kebutuhan penting. Motor digunakan untuk pergi ke kantor, mengantar barang, mencari penumpang, berdagang, dan pekerjaan lainnya. Ketika untuk mendapatkan BBM saja harus menunggu berjam-jam, aktivitas mereka ikut terganggu.

"Sudah lama menunggu, belum tahu masih berapa lama lagi," menjadi keluhan yang terdengar dari pengendara. Mereka juga harus memikirkan pekerjaan keesokan harinya. Ada yang harus bangun pagi, tetapi malamnya justru digunakan untuk mengantre BBM.

Yang membuat warga semakin khawatir adalah tidak adanya kepastian kapan antrean selesai. Datang ke SPBU dengan harapan bisa segera mengisi BBM dan pulang, tetapi akhirnya harus menunggu lama. Semakin malam, rasa lelah dan bosan semakin terasa.

Pagi harinya, kendaraan juga masih terlihat memenuhi jalan di sekitar lokasi antrean. Mobil, motor, angkutan umum, sampai truk bergerak sangat lambat. Antrean kendaraan tidak hanya berada di area SPBU, tetapi juga sampai ke badan jalan sehingga menyebabkan kemacetan.

Warga yang harus melewati jalan tersebut ikut terdampak. Ada yang hendak pergi bekerja, mengantar anak sekolah, membawa barang dagangan, atau membuka usaha. Perjalanan yang biasanya singkat menjadi lebih lama karena harus melewati antrean kendaraan.

"Kalau sudah begini, mau lewat saja susah. Kadang kita tidak tahu harus menunggu berapa lama," keluh seorang warga yang terjebak dalam kemacetan.

Pengendara motor juga harus lebih berhati-hati karena harus berada di antara mobil dan truk yang mengantre. Ruang untuk bergerak menjadi terbatas, sementara kendaraan terus berdatangan.

Sopir angkutan dan kendaraan pembawa barang juga ikut terdampak. Semakin lama kendaraan tertahan, semakin banyak waktu yang terbuang. Pekerjaan mereka bisa tertunda dan barang yang dibawa juga bisa terlambat sampai ke tujuan.

Di tengah antrean, ada pengendara yang mematikan mesin untuk menghemat BBM. Ada juga yang memilih berteduh sambil menunggu antrean bergerak. Sebagian lainnya hanya duduk dan melihat ke depan.

Warga kemudian mempertanyakan mengapa antrean BBM bisa begitu panjang dan mengapa masyarakat harus menunggu sampai berjam-jam. Mereka berharap ada solusi agar warga bisa mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan waktu terlalu lama dan antrean kendaraan tidak sampai mengganggu pengguna jalan lainnya.

Bagi warga, BBM dibutuhkan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Karena itu, mereka berharap kondisi antrean seperti ini tidak terus terjadi dan jalan di sekitar SPBU bisa kembali dilalui dengan lancar.

Bagi masyarakat, kami ingin mendapatkan BBM tanpa harus menghabiskan waktu berjam-jam di jalan dan tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari dengan tenang.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.