Sungai Mengering, Warga Kampung Abit Tetap Bergantung pada Air Sungai
Musim kemarau dengan godzilla el nino yang sedang melanda mengakhibatkan sungai di kampung abit, Kutai Barat berkurang debit airnya. Kehidupan masyarakat yang bergantung pada air sungai terganggu. Sungai yang awalnya dalam hingga orang dewasa yang masuk bisa tenggelam, untuk saat ini air hanya mencapai lutut orang dewasa. Air yang berkurang menyebabkan kematian ikan dan dikubur oleh masyarakat untuk mengurangi baunya. Air yang tersisa dioptimalkan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Sebagian besar sungai di Kalimantan mulai surut, bahkan ada yang mengering karena musim kemarau dan El Niño. Masyarakat di Kalimantan sejak dulu sangat bergantung pada sungai. Hampir semua kebutuhan sehari-hari masyarakat di sekitar Sungai Mahakam dan anak-anak sungainya berkaitan dengan air sungai.
Air sungai digunakan untuk mandi, mencuci pakaian, minum, memasak, dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Sungai juga digunakan sebagai sarana transportasi. Masyarakat mendapatkan air dari hujan yang mengalir ke sungai dan danau. Tidak banyak warga yang menggunakan sumur bor seperti di Pulau Jawa. Hal ini karena kondisi geologi Kalimantan berbeda dengan Pulau Jawa.
Sekarang kemarau berlangsung cukup lama dan hujan tidak turun. Air sungai semakin surut. Di beberapa tempat, sungai bahkan sudah kering. Air yang masih tersisa hanya ada di bagian-bagian sungai yang lebih dalam. Di bagian yang masih berair, dasar sungai sudah berlumpur dan lumpurnya cukup tebal.
Warga sekarang harus mengatur air yang tersisa. Air digunakan bergantian untuk mandi, mencuci pakaian, dan minum. Untuk menghemat air, pakaian yang sudah dipakai tidak langsung dicuci. Pakaian bisa dipakai beberapa kali baru dicuci.
Ibu-ibu paling merasakan kesulitan karena mereka harus mengatur kebutuhan air untuk keluarga. Apalagi ibu yang masih memiliki bayi dan balita. Kebutuhan air untuk memandikan anak, mencuci pakaian, dan membersihkan perlengkapan bayi lebih banyak.
Air sungai yang masih tersisa juga mulai berbau. Ada ikan yang mati dan bangkainya berada di pinggir sungai. Bangkai ikan tersebut kemudian dikubur oleh warga karena baunya mengganggu.
Perubahan kondisi sungai terlihat sangat jelas. Sebelum kemarau, air sungai masih cukup dalam untuk berenang. Orang dewasa yang masuk ke sungai tidak bisa berdiri karena bisa tenggelam. Sekarang kondisinya berbeda. Di bagian sungai yang masih ada airnya, orang dewasa sudah bisa berdiri. Air paling dalam hanya sampai lutut orang dewasa.
Warga hanya bisa berharap hujan segera turun agar air sungai kembali terisi dan bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.




