Kembali|Cerita Warga/Umum|Dari Warga

Kebakaran Lahan di Tanralili Hanguskan Bambu dan Tanaman Jati Warga

Pada 20 September 2026, kebakaran lahan terjadi di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros, diduga bermula dari pembakaran ranting. Api cepat menjalar akibat kondisi lahan yang kering dan angin kencang, hingga menghanguskan bambu dan tanaman jati milik beberapa warga. Luas lahan terdampak diperkirakan lebih dari satu hektare. Warga berupaya memadamkan api dengan peralatan seadanya, sementara akses menuju lokasi yang sulit memperlambat penanganan. Beruntung, tidak ada korban jiwa dan api tidak merambat ke permukiman.

Redaksi IklimKita
29 September 2026•5 menit baca

Pada Minggu, 20 September 2026, terjadi kebakaran lahan di Kecamatan Tanralili, Kabupaten Maros. Api membakar beberapa bagian lahan milik warga. Bambu, tanaman jati, rumput, ranting, dan tanaman kering lainnya ikut terbakar.

Dari yang terlihat di lokasi, api sudah cukup besar dan menyebar ke beberapa bagian lahan. Luas lahan yang terbakar diperkirakan lebih dari satu hektare, meskipun belum ada pengukuran pasti.

Menurut warga sekitar, api awalnya berasal dari pembakaran ranting di salah satu bagian lahan. Awalnya hanya untuk membakar ranting, tetapi api kemudian menjalar ke bagian lain. Kondisi lahan yang kering dan angin yang bertiup membuat api semakin cepat menyebar.

Warga yang melihat api kemudian ikut membantu memadamkan. Karena lokasi cukup sulit dijangkau, warga menggunakan alat yang ada untuk berusaha menghentikan api agar tidak semakin meluas.

Raba (35), salah satu warga di sekitar lokasi, mengatakan api awalnya berasal dari pembakaran ranting.

"Awalnya api berasal dari pembakaran ranting. Kami melihat api mulai membesar dan cepat menjalar karena angin cukup kencang dan kondisi lahan juga kering. Warga langsung berusaha memadamkan api dengan alat seadanya, tetapi memang cukup sulit karena apinya cepat menyebar dan akses menuju lokasi juga susah."

Saat api mulai membesar, warga juga khawatir kebakaran akan merambat ke tempat lain, terutama ke arah permukiman. Warga berusaha mengendalikan api supaya tidak semakin dekat dengan rumah.

Beruntung, api tidak sampai masuk ke kawasan permukiman. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, tetapi beberapa lahan dan tanaman milik warga terbakar.

Bambu dan tanaman jati yang sebelumnya tumbuh di lahan warga terlihat ikut hangus. Bagi pemilik lahan, tanaman yang terbakar tentu menjadi kerugian karena tanaman tersebut tidak bisa lagi dimanfaatkan seperti sebelumnya.

Kondisi lahan saat itu memang cukup kering. Rumput dan daun-daun yang sudah kering banyak terdapat di sekitar lokasi. Ketika api mulai menjalar, angin membuat kobaran semakin cepat berpindah.

Yang membuat warga kesulitan adalah lokasi kebakaran yang tidak mudah dijangkau. Warga harus mendatangi bagian lahan yang terbakar dan berusaha memadamkan api dengan peralatan yang tersedia.

Dari kejadian ini, warga menjadi lebih waspada dengan pembakaran ranting dan sisa tanaman. Api yang awalnya kecil ternyata bisa cepat membesar ketika berada di lahan kering dan terkena angin.

Semoga setelah kejadian ini warga bisa lebih berhati-hati ketika membakar ranting atau sisa tanaman, terutama saat kondisi lahan sedang kering. Yang paling dikhawatirkan tentu kalau api kembali membesar dan merambat sampai ke rumah warga.

Cerita Warga

Punya cerita serupa?

Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.