PDAM Sering Mati, Warga Sempaja Kesulitan Mendapatkan Air
Air pdam lebih sering mati belakangan ini. Kejadianya ada di Sempaja dan wilayah sekitarnya. Air hanya menyala pukul 1 atau 2 dini hari. Terkadang juga menyala dipagi hari dan siang dalam waktu yang sebentar. Saya bingung untuk menjalankan kebutuhan sehari-hari. Dalam hal memasak, mandi, mencuci baju bahkan dalam BAB.
Air PDAM di Sempaja, Samarinda, Kalimantan Timur, lebih sering mati daripada menyala. Menurut pemerintah, dalam hal ini Pak Andi, kondisi tersebut disebabkan kekeringan yang melanda Kalimantan. Sungai Mahakam yang airnya diambil untuk kebutuhan PDAM mengalami kekeringan. Selain itu, air laut juga masuk sehingga mesin penyedot harus dimatikan untuk menghindari kerusakan.
Air sering sekali mati, bahkan lebih sering mati daripada menyala. Terkadang kami harus begadang karena air hanya menyala pada tengah malam, sekitar pukul 01.00 atau 02.00 dini hari. Mau bagaimana lagi, kalau tidak begadang, kami tidak mendapatkan air untuk mandi dan memasak keesokan harinya.
Kalau keran tetap dibuka, kami khawatir tidak sadar bahwa air banyak terbuang dan akhirnya tagihan air naik. Terkadang air menyala pada pagi atau siang hari, itu pun untung-untungan. Kalau siang hari, kebanyakan orang sedang tidak berada di rumah. Air yang keluar dari keran juga keruh dan alirannya kurang deras.
Namun, mau bagaimana lagi. Membeli air juga harganya mahal. Air PDAM pun sebenarnya tetap kami beli. Kami jadi bingung harus menghemat air dengan cara seperti apa lagi. Ekstremnya, kadang kami berusaha menjaga wudu agar tidak batal.
Air menjadi kebutuhan untuk memasak dan mencuci perabotan masak. Saat harga kebutuhan melonjak, salah satu cara menyiasatinya adalah dengan memasak sendiri. Namun, air yang dibutuhkan dalam proses memasak justru sulit didapatkan.
Mandi juga merupakan kebutuhan dasar yang membutuhkan air. Namun, dalam kondisi seperti ini, kami terpaksa mengurangi intensitas mandi. Yang biasanya dua kali sehari menjadi satu kali sehari, itu pun dengan sangat menghemat air. Kami harus bertahan dengan kondisi cuaca yang panas menyengat dan membuat tubuh berkeringat.
Untuk pakaian, baju yang sudah dipakai terkadang harus diangin-anginkan agar bisa dipakai lagi. Pakaian yang biasanya hanya dipakai sekali sebelum diganti terpaksa digunakan kembali. Menggunakan jasa laundry juga cukup mahal. Harganya naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram. Jadi, kami berusaha mengakali penggunaan air untuk mencuci pakaian agar tetap sedikit, tetapi pakaian tetap bersih. Untungnya, proses pengeringan pakaian berlangsung cepat karena cuaca panas.
Kebutuhan untuk membersihkan rumah juga terganggu. Mengepel lantai, misalnya, jika tidak dalam kondisi sangat mendesak, terpaksa tidak dilakukan. Mencuci kendaraan juga demikian. Ada beberapa tempat pencucian kendaraan yang tutup karena sumber air yang dipompa dari sungai mengering.
Kebutuhan untuk buang air besar dan buang air kecil juga terkadang harus lebih sering ditahan karena keterbatasan air. Syukurnya, air galon untuk minum masih tersedia dan mudah didapatkan.
Semoga kondisi kekurangan air ini tidak berlangsung terlalu lama. Warga berharap ketersediaan air dapat kembali normal sehingga kebutuhan sehari-hari tidak terus terganggu.
Punya cerita serupa?
Daftar jadi kontributor dan kirim laporan dampak iklim dari daerah Anda langsung ke redaksi IklimKita.
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




