Kembali|Berita/Umum

Perubahan Iklim Juga Menyasar Otak Kita

Perubahan iklim membuat munculnya gangguan psikiatri akut sampai meningkatnya gangguan kesehatan mental. Apa yang bisa kita lakukan?

Redaksi IklimKita
3 Juli 2026•7 menit baca

Perubahan iklim lebih dikenal berdampak terhadap lingkungan seperti peningkatan suhu global, gelombang panas, hingga polusi udara. Namun, berbagai penelitian termutakhir menunjukkan akibat signifikan di sektor kesehatan masyarakat.

Studi yang diterbitkan oleh Alzheimer's Research and Therapy pada 2024 menyebutkan bahwa gelombang panas berkaitan dengan peningkatan risiko demensia melalui percepatan proses peradangan, stres oksidatif, serta kerusakan sel saraf.

Hasil penelitian lainnya yang diterbitkan secara daring pada April 2025 oleh ScienceDirect mengonfirmasi hal tersebut. Di situ disebutkan, kenaikan suhu global, cuaca ekstrem, dan polusi udara telah berkontribusi terhadap kesehatan mental, dampak buruk terhadap otak, dan fungsi kognitif manusia. Gelombang panas berdampak besar terhadap peningkatan risiko migrain, stroke, dan gejala multiple sclerosis atau autoimun kronis yang menyerang selubung pelindung serabut saraf di otak.

Paparan berkepanjangan terhadap berbagai partikel halus (PM2.5), nitrogen dioksida (NO2), dan nitrogen oksida (NOx) yang dihasilkan oleh parahnya polusi udara akibat perubahan iklim juga meningkatkan risiko demensia.

Apa itu demensia?

Pada 2019, diperkirakan lebih dari 55 juta orang menderita demensia. Jurnal PLOS Global Public Health menyebut, angkanya diperkirakan akan mencapai 139 juta orang pada 2050. Pada tahun 2054 mendatang, angkanya diperkirakan meningkat tiga kali lipat.

Demensia adalah sindrom yang secara progresif mengganggu fungsi kognitif. Ini menjadi tantangan kesehatan global yang terus meningkat. Indonesia juga menghadapi tantangan beban demensia yang terus bertambah - karena ada stigma, juga masih kurangnya upaya pencegahan, diagnosis dan perawatan.

Survei yang dilakukan tahun 2024 pada 4.400 responden oleh Farina dkk pada 2024 menunjukkan kalau 86.3% masyarakat belum kenal istilah demensia atau Alzheimer. Kondisi itu lebih banyak dikenal sebagai pikun di tengah masyarakat Indonesia. Penurunan daya ingat dianggap sebagai bagian dari proses alami menjadi tua. Hasil penelitiannya tersebut diterbitkan pada 2024 di National Library of Medicine oleh National Center for Biotechnology Information.

Menyederhanakan demensia dengan pikun, serta dianggap sebagai bagian dari proses penuaan yang wajar, perlu mendapat perhatian lebih banyak. Apalagi penyakit demensia ini tak punya gejala yang khas dibandingkan penyakit lainnya.

Bagaimana iklim mempengaruhi otak kita?

Penelitian yang dimuat di Current Opinion in Behavioral Sciences tahun 2025 menjabarkan bagaimana perubahan iklim membawa ancaman bagi kesejahteraan manusia. Dampaknya tidak hanya bagi kesehatan secara umum, tapi juga berdampak pada kesehatan otak, mental dan fungsi kognitif.

Meningkatnya suhu bumi yang disebabkan oleh perubahan iklim, misalnya, berdampak pada meningkatnya risiko migren, munculnya gangguan psikiatri akut, serta meningkatnya gangguan kesehatan mental yang berdampak pada kematian. Fungsi kognitif sosial juga terganggu, mulai dari pengambilan keputusan yang berisiko sampai kekerasan terhadap orang lain.

Sementara itu polusi udara bisa meningkatkan potensi Alzheimer, gangguan kecemasan, depresi sampai skizofrenia. Ini juga akan berdampak pada fungsi kongnitif seseorang, terutama di kelompok lansia.

Cuaca ekstrim lainnya bisa meningkatkan depresi, kecemasan dan gangguan ADHD pasca bencana. Fungsi kognitif yang terganggu salah satunya adalah menurunnya ingatan dan tingkat perhatian.

Sumber: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2352154625000415

Lalu kita bisa apa?

Otak kita memang banyak terdampak dari perubahan iklim. Tapi otak juga bisa jadi penggerak utama untuk melakukan perilaku yang bisa mencegah dampaknya. Salah satunya dengan aktif melakukan kegiatan yang berdampak pada iklim, alias aksi iklim.

Misalnya, mengadopsi metode pergerakan yang aktif seperti berjalan dan bersepeda. Kegiatan ini jelas mengurangi emisi, dan ini bisa sekaligus mendukung kesehatan otak dan kognisi. Ada juga sejumlah kegiatan fisik lain yang bisa meningkatkan fungsi otak, menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif serta meningkatkan kemampuan kognitif.

Penelitian menunjukkan, ada hubungan positif antara kegiatan aerobik seperti berjalan dan bersepeda dengan meningkatkan kognisi. Ini terjadi karena ada suplai oksigen dan nutrisi yang meningkat lewat kegiatan tersebut. Saat bersepeda dan jalan kaki, seseorang juga terpapar pada kondisi alam yang lebih alami, dan ini bisa meningkatkan mood, mengurangi kelelahan mental dan merawat kesejahteraan kita secara umum.

Terlibat di aksi iklim yang sifatnya kolektif juga memberikan dampak positif secara langsung bagi seseorang. Misalnya, ikut di kegiatan lingkungan atau advokasi iklim yang berbasis komunitas punya dampak positif bagi kesehatan mental dan fisik. Keterlibatan di kegiatan seperti ini juga meningkatkan rasa collective efficacy yaitu keyakinan bahwa bekerja bersama bisa mendorong perubahan yang nyata. Dan ini meningkatkan perasaan terisolasi atau kecemasan iklim.

Kegiatan iklim kolektif yang sederhana juga bisa dicoba, misalnya berkebun bersama, ikut kegiatan bersih-bersih lingkungan dan sebagainya.

Kalau kita memadukan aksi iklim di tingkat personal dengan aksi iklim kolektif maka dampak positifnya bisa berlipat ganda bagi kesehatan otak seseorang. Dan ini artinya kita bisa melindungi kesehatan seseorang sekaligus kesehatan bumi.

Penulis: Nasrullah
Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.