Kembali|Berita/Liputan Khusus

Panas yang Pelan-pelan ‘Membakar’ Buruh Tani

Seri Panas yang Tak Terbaca di Data Iklim

Redaksi IklimKita
8 Agustus 2026•5 menit baca

Bagi Tasmun, buruh tani di Indramayu, pekerjaannya sehari-hari adalah menantang sinar matahari yang terik. Perubahan iklim membuat suhu semakin panas, tapi bagi Tasmun, masalahnya berjalan ke arah yang berbeda.

Cuaca yang panas membuat pekerjaan makin langka.

"Cuaca makin panas, lapangan kerja makin kurang dan kecil harinya. Sebulan itu kira-kira kebanyakan nggak kerjanya," ujarnya.

Cuaca ekstrem berdampak pada perubahan pola kerja. Misalnya, jadwal tanam mundur akibat hujan tak lagi bisa diprediksi. Atau jam kerja yang dipadatkan ke pagi hari sebelum terik matahari memuncak.

Tasmun adalah buruh harian, tak punya gaji bulanan tetap. Ia hanya dibayar untuk hari-hari di mana ia turun ke sawah. Perubahan pola kerja akibat cuaca ekstrem membuat jumlah hari kerjanya menyusut. Karena upahnya dihitung per hari, maka pendapatan harian ikut menyusut.

Di saat ia harus bekerja, tubuhnya membayar harga lain: sakit kepala dan sesak nafas akibat berjam-jam kerja di bawah terik matahari langsung, tanpa naungan.

Tasmun, juga buruh tani lain, terpaksa menopang hidup dari utang tetangga, pemilik sawah atau majikan. Polanya berulang di hampir setiap keluarga, ketika pendapatan harian sepenuhnya bergantung pada cuaca, tanpa tabungan, tanpa jaminan sosial. Ketika panas atau musim yang tak menentu menghilangkan kesempatan bekerja, utang menjadi satu-satunya jalan bertahan hidup yang tersisa, sekaligus yang paling rapuh.

Padahal Tasmun tinggal di kabupaten yang menyandang status produsen padi nomor satu di Indonesia, Indramayu. Indramayu memiliki hamparan sawah seluas 115.000–120.000 hektare, mendominasi lebih dari 60 persen luas wilayah kabupaten, disokong sistem irigasi teknis terbesar di Jawa Barat dari Bendungan Rentang. Nilai ekonomi gabah kasar di kabupaten ini mencapai Rp 9 triliun per tahun, dengan asumsi harga gabah kering panen sekitar Rp 6.000-7.000 per kilogram. Dan setiap penurunan produksi sebesar 10 persen menghapus sekitar Rp 900 miliar dari sirkulasi ekonomi masyarakat Pantura.

Di tengah hamparan sawah Indramayu, panen berarti kerja yang tak pernah sederhana. Petani perempuan mengarit padi, sementara petani laki-laki mengoperasikan mesin dan mengangkut gabah yang telah dikarungkan. Dari tangan-tangan inilah padi dipanen dan dibawa pulang. Namun, di balik melimpahnya hasil panen, ada tenaga, waktu, dan risiko yang harus mereka tanggung setiap musim. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/KRKP)

Angka-angka ini tampak ‘wah’, membentuk citra daerah yang makmur dari bidang pertanian. Yang tidak terlihat dari angka itu adalah siapa yang membayar untuk pencapaian itu. Di balik data produktivitas panen yang tampak stabil, bahkan naik, tersembunyi beban-beban yang dipikul di tingkat bawah. Biaya produksi yang membengkak karena hama makin sulit dikendalikan. Paparan racun dari pembasmi hama yang makin berbahaya di tengah cuaca yang tinggi, karena racun makin mudah diserap tubuh. Hilangnya hari kerja karena cuaca tak menentu, sehingga pendapatan buruh tani menyusut.

Hal-hal ini tak masuk dalam indikator adaptasi iklim lantaran semua sorotan berhenti di angka hasil panen. Tasmun dan buruh tani lainnya lah yang menanggung ongkos di lapangan.

Penulis: Fajar Sanintan Jati

Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.