Kembali|Berita/Liputan Khusus

Ketika Panas di Laut Menyelinap ke Ruang Makan

Seri Panas yang Tak Terbaca di Data Iklim

Redaksi IklimKita
9 Agustus 2026•12 menit baca

Di banyak rumah nelayan, malam bukan lagi waktu istirahat. Ia berubah jadi ruang panjang bagi kecemasan. Penyebabnya satu: hasil tangkapan yang tak menentu. Tapi dampaknya panjang mengingat keluarga hidup di bawah tekanan ekonomi harian. Ketika suami nelayan pulang tanpa hasil, ada istri yang harus kembali cari pinjaman uang belanja. Kemarahan kecil dengan mudah membesar jadi pertengkaran.

"Mama-mama marah sama bapak-bapak karena pulang tidak bawa hasil,” kata Yasinta, Ketua Majelis Nelayan Bersatu di Kupang.

"Kalau suami tidak melaut, mama-mama yang putar otak.”

Sejumlah responden nelayan dan istri nelayan bercerita soal mereka yang jadi lebih mudah marah, sulit berkonsentrasi, cepat tersinggung, dan merasa tertekan tanpa selalu dapat menjelaskan penyebabnya. Temuan ini dibaca bersama hasil survei lapangan yang dilakukan LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) terhadap 300 petani dan nelayan di Indramayu dan Kupang. Survei tidak secara langsung mengukur konflik rumah tangga, tetapi mengumpulkan data mengenai kualitas tidur, tingkat kecemasan, perasaan tertekan, perubahan emosi, perubahan jam kerja, tekanan ekonomi, serta dampak panas terhadap kesehatan pekerja dan anggota keluarga.

Atap seng rumah warga di Kampung Nelayan Oesapa, Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sejak sekitar 1980-an, seng menggantikan atap daun gewang yang sebelumnya banyak digunakan warga pesisir. Namun, perubahan material atap tidak membuat panas yang dirasakan warga menjadi lebih ringan. Kini, panas terasa semakin menyengat. (Foto: Fajar Sanintan/Redaksi IklimKita)

Kondisi kerja di laut juga dapat memperberat pengalaman tersebut. Nelayan bekerja dalam paparan panas matahari yang tinggi selama berjam-jam di ruang terbuka, sering kali tanpa perlindungan yang memadai. Kebisingan mesin kapal yang berlangsung terus-menerus juga dapat menambah kelelahan fisik dan mental. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa paparan panas dan kebisingan berkepanjangan dapat berkaitan dengan meningkatnya stres, gangguan konsentrasi, kelelahan, dan perubahan emosi.

Mesin menjadi penopang utama aktivitas nelayan selama melaut, tetapi juga menghadirkan kebisingan dan getaran yang berlangsung berjam-jam. Dalam ruang kerja yang terbuka, kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan paparan panas matahari. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/KRKP)
Nelayan Oesapa, Kupang, beraktivitas di tengah suhu laut yang semakin panas. Om Dewa mengatakan suhu yang dulu berkisar 29–30 derajat Celsius kini dapat mencapai 32–38 derajat Celsius. Tubuhnya pun telah terbiasa dengan panas. Ketika tidak melaut selama satu hingga dua minggu, kulitnya justru mudah pecah-pecah. (Foto: Gualbertus Lusio Pera Ndate & Juniken Imelda Ratu Radja)

Temuan survei lapangan LaporIklim menunjukkan 59 persen responden setidaknya pernah merasa mudah marah, dan 39 persen mengalaminya secara sering. Angka tertinggi ditemukan pada kelompok nelayan: 60 persen nelayan Indramayu dan 56 persen nelayan Kupang menyatakan sering merasa mudah marah. Temuan ini juga muncul bersamaan dengan tingginya laporan gangguan tidur dan tekanan psikologis pada kelompok nelayan. Namun, karena penelitian ini tidak mengukur tingkat paparan panas maupun kebisingan secara langsung, faktor-faktor tersebut dipahami sebagai kemungkinan yang dapat berkontribusi terhadap pengalaman psikologis nelayan, bukan sebagai penyebab yang dapat dipastikan.

Survei ini bersifat observasional, artinya peneliti tidak dapat menyimpulkan bahwa perubahan iklim secara langsung menyebabkan konflik atau perubahan relasi keluarga. Namun, kombinasi antara kelelahan fisik akibat panas, berkurangnya waktu istirahat, ketidakpastian pendapatan, dan tekanan psikologis yang diceritakan berulang oleh warga memperlihatkan adanya perubahan dalam ritme kehidupan rumah tangga nelayan. Dalam banyak cerita, anggota keluarga menjadi lebih mudah tersulut emosi, komunikasi lebih tegang, dan suasana rumah lebih sering dipengaruhi oleh kecemasan tentang penghasilan dan cuaca.

Konflik di Tengah Laut

Di laut, ruang tangkap yang menyempit juga memperbesar gesekan antarnelayan. Titik-titik terumbu karang yang masih sehat kini hanya tersisa di beberapa lokasi, dan hampir semua nelayan mengetahui titik-titik tersebut. Ketika ikan berkumpul di satu area, banyak perahu datang bersamaan sehingga jaring sering saling bersinggungan atau tersangkut. Konflik ini bukan lahir dari watak nelayan yang berubah, melainkan dari sumber daya yang kian terbatas dan laut yang kian sempit memberi ruang untuk bertahan hidup.

Menurut Dewa, Ketua Komunitas Angsa Laut di Oesapa, Kupang, pertengkaran yang paling sering terjadi berupa adu mulut di tengah laut ketika jaring tersangkut atau ketika nelayan merasa area tangkapnya dimasuki oleh perahu lain.

“Kalau ada titik ikan ramai, semua ke sana. Jaring bisa saling sangkut.”

Konflik semacam ini umumnya tidak sampai diproses secara formal, tetapi dapat menimbulkan ketegangan antarkelompok nelayan. Ujung-ujungnya, hubungan antarwarga jadi renggang.

Sejauh ini belum ada mekanisme pengaturan khusus di tingkat desa untuk mencegah konflik perebutan ruang tangkap. Kesepakatan yang ada lebih banyak berkaitan dengan upaya rehabilitasi ekosistem, misalnya ketika dibangun kawasan pemulihan terumbu karang atau “apartemen ikan”. Dalam situasi tersebut, nelayan biasanya sepakat untuk sementara menjauh dari zona tersebut agar ekosistem memiliki kesempatan untuk pulih.

Beban yang Jatuh Paling Berat ke Perempuan

Dalam krisis ini, perempuan sering menanggung beban paling berat, dan paling berlapis. Sejak Badai Siklon Tropis Seroja menerjang Nusa Tenggara Timur pada April 2021, banyak keluarga nelayan kehilangan aset penghidupan utama dan tak pernah benar-benar pulih. Sebagian perempuan terjebak utang koperasi berbunga tinggi, sebagian lain terpaksa meminjam ke rentenir demi kebutuhan sehari-hari. Di banyak keluarga, pendidikan anak jadi hal pertama yang dikorbankan ketika pendapatan terus menurun.

"Kadang konflik meningkat karena anak tidak bisa lanjut sekolah," tutur Yasinta Adoe, perwakilan Majelis Nelayan Bersatu, di Kupang.

Di beberapa rumah, perempuan menanggung kemarahan berlapis, marah kepada keadaan, marah kepada pasangan, dan marah kepada utang yang tak kunjung selesai.

“Di lokasi mama mama marah sama bapak bapak karena pulang tidak bawa hasil, mama pinjam di koperasi. Di koperasi juga kena marah ketika tagihan jatuh tempo. Mama-mama juga sering marah dengan keadaan. Apakah konflik dalam rumah tangga meningkat? Meningkat, karena anak tidak bisa melanjutkan sekolah.”

Tak hanya di Kupang, dampak berlapis dari situasi ini juga dirasakan di Indramayu. Kerentanan ini tak hanya muncul dalam wajah kecemasan, tapi juga meningkatnya rasa curiga di antara nelayan.

Rini, istri nelayan di Desa Singaraja, bercerita bahwa pencurian ikan kini semakin sering terjadi. Menurutnya, ada orang yang mendekati perahu nelayan di tengah laut dengan alasan ingin membeli ikan. Namun, ketika awak kapal sedang sibuk mengangkat jaring, berpindah ke bagian lain kapal, atau tidak berada di dekat tempat penyimpanan hasil tangkapan, sebagian ikan diambil tanpa izin. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/KRKP)

"Banyak maling juga di laut. Ada orang pura-pura mau beli ikan di tengah laut, tapi kalau tidak ada orangnya di kapal, ikannya diambil."

Ketika hasil tangkapan makin sedikit, setiap keranjang ikan jadi sangat berharga. Krisis yang dipicu perubahan iklim, pada akhirnya, tidak hanya menguras isi laut, ia juga perlahan mengikis rasa aman, kepercayaan, dan ketenangan yang selama ini jadi penyangga kehidupan masyarakat pesisir.

Beban yang Tak Masuk Hitungan Kebijakan

Krisis iklim tak hanya mengubah cuaca, tapi juga mengubah cara manusia memperlakukan satu sama lain - di tempat kerja, di rumah, di antara tetangga. Tapi kerja adaptasi iklim di Indonesia, sejauh ini, masih dominan dirancang untuk mengatasi kerugian yang kelihatan: gagal panen, kapal rusak, rumah roboh. Kerugian yang tidak kelihatan, seperti hari kerja yang hilang, obat pereda nyeri yang jadi rutinitas harian, hutang yang menumpuk diam-diam, pertengkaran yang makin sering di rumah tangga nelayan, nyaris tidak punya tempat dalam indikator maupun anggaran adaptasi.

Padahal ongkos ini nyata dan terus bertambah. Ia dibayar lewat tubuh yang dipaksa bekerja di suhu ekstrem tanpa perlindungan, lewat kesehatan mental yang terkikis tekanan ekonomi harian, dan lewat keretakan hubungan yang sering dianggap urusan privat padahal akar masalahnya struktural: buruh tani tanpa jaminan sosial, nelayan tanpa perlindungan pendapatan saat cuaca memburuk, keluarga tanpa jaring pengaman ketika pemulihan pascabencana berjalan lamban.

Pakar lingkungan Rob Nixon memperkenalkan konsep ‘slow violence’ - di mana dampak besar seringkali dibentuk oleh tekanan-tekanan kecil yang berlangsung diam-diam dan tak terlihat. Kelelahan, gangguan tidur, kecemasan tentang penghasilan, dan konflik sehari-hari mungkin tampak sebagai persoalan terpisah, tetapi ketika terjadi terus-menerus, tekanan itu dapat menumpuk dan berkembang menjadi krisis kesehatan dan sosial yang lebih serius.

Jika adaptasi iklim ingin benar-benar berpihak pada yang paling terdampak, maka perlu ada hitung-hitungan soal apa yang selama ini tak masuk dalam radar. Perlu ada skema perlindungan pendapatan bagi buruh harian saat cuaca ekstrem menghentikan pekerjaan. Perlu ada akses kesehatan kerja yang menjangkau petani dan nelayan bukan hanya pekerja formal, juga pemulihan pascabencana yang memperhitungkan beban psikologis dan relasi rumah tangga, bukan sekadar aset fisik yang hilang.

Rini dan Yasinta masih akan menanti suami-suami mereka pulang dari melaut dengan hasil tangkapan yang membaik. Yang mereka tanggung setiap hari adalah bagian dari krisis iklim yang sesungguhnya, hanya saja belum ada yang mencatatnya sebagai kerugian yang layak diganti.

Penulis: Fajar Sani

Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.