Ketika Pesisir dan Sawah Sama-sama Panas
Petani kepanasan di tengah sawah, nelayan kepanasan kena pantulan sinar matahari di tengah laut. Panas yang semakin intens bukan lagi soal rasa gerah, tapi sederet konsekuensi berat lainnya.
Sekitar pukul setengah delapan pagi, Runa mulai menyemprot gulma di sawahnya, di Desa Nunuk, Indramayu, Jawa Barat. Matahari memang belum tinggi, tetapi panas sudah terasa menyengat. Ia hanya membawa sedikit air minum untuk bekerja pagi itu. Tak lama kemudian, rasa haus dan pusing datang bersamaan. Runa bergegas menuju tanggul sawah untuk berteduh dan beristirahat. Sebelum sempat memulihkan diri, ia pingsan.
Pengalaman hari itu sangat membekas. Sejak itu, Runa tidak lagi berani bekerja sendirian di sawah. Setiap kali turun ke lahan, ia mengajak istrinya, Teti, untuk menemani sekaligus membantunya bekerja. Bagi pasangan petani ini, panas terik mengubah cara mereka bertani, juga merenggut rasa aman saat menghadapi panas.
Dalam lima tahun terakhir, keduanya merasakan suhu berubah drastis. Pagi yang dulu masih sejuk kini terasa panas begitu matahari terbit.
"Dari pagi sudah terasa panas. Begitu matahari muncul sudah enggak sejuk, enggak ada angin. Habis mandi pagi saja sudah keringatan," kata Runa.
Teti pun merasakan perubahan yang sama. Dulu mereka masih sanggup bekerja hingga tengah hari. Kini, biasanya pekerjaan dihentikan sekitar pukul 11 pagi. Mual dan pusing lebih sering datang sehingga mereka membawa lebih banyak air minum. Saat bekerja bersama buruh tani lain, mereka juga kerap membawa es untuk diminum serta mengenakan pakaian lengan panjang, kaus kaki, dan topi sebagai perlindungan dari paparan panas.
Panas yang dirasakan Runa di Indramayu, juga dirasakan ribuan kilometer dari sini; tepatnya di Kelurahan Oeba, Kota Kupang.
Seorang nelayan baru saja bersandar setelah lebih dari dua belas jam terpapar sinar matahari, serta kena pantulan matahari dari laut. Setelah berpanas-panas di laut, ia kembali disambut panas di rumah. Tak ada kesejukan di sana, melainkan panas yang terperangkap asap seng rumahnya. Atap seng menyimpan panas siang, lalu melepaskannya perlahan di petang hari - tepat saat tubuh nelayan paling butuh istirahat.
Dua ekosistem yang berbeda - sawah dan laut - di lokasi yang berjauhan; utara Jawa dan selatan Nusa Tenggara Timur, punya cerita yang sama. Panas tidak lagi mengenal waktu istirahat, dan tubuh yang dipaksa beradaptasi tanpa bantuan.
Malam yang Ikut Memanas
Ketika panas mendera tubuh yang setiap hari bekerja di luar rumah, maka sudah sewajarnya ingin kembali ke rumah untuk istirahat. Namun rumah mereka justru jadi perangkap hawa panas. Ketika matahari tenggelam, hawa gerah tidak ikut pergi. Dinding dan terutama atap terus memancarkan panas yang diserap sejak siang, membuat malam kehilangan kesejukannya.
Di rumah Rini, istri nelayan di Desa Singaraja, Indramayu, kipas angin tidak pernah berhenti berputar. Setiap malam kipas itu diarahkan langsung ke badan agar anak-anaknya bisa tidur.
“Kalau listrik mati, anak-anak tidak bisa tidur, kan, karena harus pakai kipas. Anak-anak biasanya sudah tidur pukul 21.00 karena ada kipas angin”
Udara baru terasa sedikit lebih dingin sekitar pukul satu dini hari.
"Kalau panas, di luar cari angin, nggak bisa di dalam. Sekarang di rumah ada empat kipas. Baru setahun ini karena panas sekali."
Dalam sehari, Rini dan anak-anaknya bisa mandi hingga tiga kali hanya untuk mengurangi rasa gerah.
Cerita serupa datang dari Kupang. Yasinta, perwakilan Majelis Nelayan Bersatu, mengatakan kipas angin hanya membuat panas berputar di dalam ruangan.
"Kipas itu cuma mutar-mutar uap panas."
Hampir seluruh rumah nelayan di Kupang menggunakan atap seng. Material itu menyerap panas sepanjang siang, lalu melepaskannya perlahan sepanjang malam.
Kipas angin menjadi satu-satunya teknologi yang mampu mereka beli, tetapi alat itu hanya menggerakkan udara yang tetap panas. Tak heran, ketika ada sedikit uang lebih, biasanya mereka membeli kipas baru. Kipas jadi cepat rusak karena dipakai tiap hari tanpa henti.
Pengalaman Rini dan Yasinta bukan hal yang istimewa. Survei Rapid Health yang dilakukan LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) menunjukkan keluhan yang sama hampir di seluruh lokasi penelitian, Kupang dan Indramayu. Tak cuma panas pada siang hari yang mengganggu, melainkan juga malam yang tak kunjung sejuk.
Dalam Focus Group Discussion (FGD) Studi Komparatif Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Petani dan Nelayan di Lahan Kering yang digelar di Kupang pada 19 Mei 2026, Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG, Siswanto, mengungkapkan bahwa suhu udara di Kupang telah meningkat sekitar 0,4 derajat Celsius setiap dekade selama tiga puluh tahun terakhir. Angka itu mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Rumah-rumah yang seharusnya menjadi tempat beristirahat setelah seharian bekerja justru menyimpan panas hingga larut malam. Akibatnya, tubuh kehilangan kesempatan untuk benar-benar pulih sebelum kembali menghadapi terik keesokan harinya.
Tubuh yang Tak Pernah Pulih
Malam yang semakin panas ikut mencuri waktu tidur para nelayan dan petani.
Di Kupang, rata-rata nelayan hanya tidur sekitar 5,4 jam setiap malam. Petani sedikit lebih lama, sekitar 6,3 jam, tetapi keduanya masih jauh dari durasi istirahat yang dibutuhkan tubuh setelah bekerja di bawah paparan panas. Hampir dua pertiga petani juga mengaku waktu tidur mereka semakin pendek dibandingkan beberapa tahun lalu. Temuan ini diperoleh dari Studi Komparatif Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Petani dan Nelayan di Lahan Kering oleh LaporIklim.
Kurangnya waktu tidur segera terasa ketika hari berganti. Lebih dari separuh nelayan mengaku bangun dalam kondisi masih lelah. Hanya sekitar 45 persen yang merasa tubuhnya benar-benar segar setelah tidur. Pada petani, hampir sepertiga juga mengawali hari tanpa benar-benar pulih.
Tubuh yang belum pulih itu kemudian dibawa kembali bekerja, ke laut dan ke sawah. Rapid Health Survey juga menunjukkan hampir 70 persen nelayan sering mengalami kesulitan berkonsentrasi saat bekerja. Di laut, ketika setiap keputusan harus diambil dengan cepat, kondisi fisik yang menurun dapat menjadi risiko tersendiri.
Bagi para nelayan di Kupang, ancaman itu bukan sesuatu yang terasa jauh. Seorang nelayan masih mengingat kejadian yang menimpa rekannya beberapa waktu lalu. Saat mereka sedang menarik jaring, rekannya mengeluh kepanasan dan kemudian memutuskan untuk beristirahat. Beberapa menit kemudian, ia menghilang dari perahu. Rekan-rekannya pun segera melakukan pencarian. Setelah tiga hari, jasadnya baru ditemukan.
"Banyak teman-teman yang tenggelam dan hilang. Ada juga nelayan di kabupaten lain yang hilang saat cuaca ekstrem dan tidak pernah ditemukan," katanya.
Dewa, Ketua Komunitas Nelayan Angsa Laut di Oesapa, Kupang, mengaku tidak ada yang dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi pada rekannya. "Banyak hal terjadi di laut sekarang," katanya pelan. "Ada yang tiba-tiba kena serangan jantung."
Kisah-kisah seperti itu meninggalkan kecemasan yang terus dibawa para nelayan setiap kali melaut. Bagi mereka, panas yang semakin ekstrem, tubuh yang kurang beristirahat, dan pekerjaan yang semakin berat bukan lagi persoalan yang berdiri sendiri. Ini adalah rangkaian tekanan yang membuat bekerja di laut terasa semakin berisiko.
Di darat, petani memilih memulai pekerjaan lebih pagi agar tidak berhadapan langsung dengan terik matahari. Pukul enam pagi menjadi waktu terbaik untuk mulai bekerja sebelum matahari berubah menjadi lawan.
Air untuk menyiram tanaman tidak mengalir dari selang. Mereka mengambilnya dari sumur bor, menampungnya di bak, lalu memikul dengan ember sedikit demi sedikit menuju bedengan. Ada yang hanya menempuh beberapa meter, ada pula yang harus berjalan hampir sepuluh meter sambil membawa beban di kedua pundak, berulang kali hingga tanaman selesai disiram.
Namun mereka tahu waktu mereka terbatas.
"Kalau sudah jam sepuluh biasanya berhenti dulu, panas sekali," ujar Welfince, seorang petani Oetua, Kupang.
Namun strategi itu hanya mengurangi paparan panas, bukan menghilangkan kelelahan. Jika dulu cukup beristirahat sekali, kini mereka bisa berhenti dua hingga tiga kali sehari. Sebagian membangun gubuk sederhana di kebun atau berteduh di bawah pohon sebelum kembali bekerja ketika matahari mulai turun.
Siklusnya terus berulang. Malam yang panas membuat tubuh sulit beristirahat. Tubuh yang tidak pulih dibawa kembali bekerja keesokan harinya. Panas tidak lagi hanya menguras tenaga, tetapi juga perlahan mengurangi kemampuan tubuh untuk tetap waspada ketika bekerja.
Beban yang Tidak Dibagi Rata
Beradaptasi dengan panas ternyata juga membutuhkan biaya. Dan tidak semua keluarga mampu membayarnya.
Runa dan Teti di Indramayu akhirnya memasang pendingin ruangan pada 2024 setelah malam-malam yang semakin sulit dilalui untuk istirahat. Keputusan itu membuat tagihan listrik mereka melonjak dari sekitar Rp60.000 menjadi Rp120.000 setiap bulan. Pengeluaran yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan kini berubah menjadi kebutuhan agar tubuh bisa benar-benar terlelap.
Bagi keluarga yang tidak mampu membeli AC, pilihannya lebih sederhana, tetapi tidak selalu lebih ringan. Kipas angin menyala hampir sepanjang malam, tagihan listrik perlahan naik, sementara kebutuhan air minum juga bertambah karena tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Adaptasi terhadap panas akhirnya menjadi ongkos hidup baru yang harus ditanggung sendiri oleh rumah tangga nelayan dan petani. Ironisnya, biaya itu terus meningkat ketika penghasilan mereka justru semakin sulit dipastikan.
Beban itu tidak berhenti di rumah. Ketika tubuh mulai sering sakit, akses layanan kesehatan pun belum selalu berpihak pada ritme hidup mereka.
Banyak nelayan baru kembali ke darat sekitar pukul enam hingga delapan pagi setelah semalaman bekerja di laut. Begitu tiba di rumah, mereka perlu istirahat. Tapi di saat yang sama, layanan kesehatan baru mulai buka pelayanan. Tidak sedikit yang akhirnya memilih menunda berobat atau mengatasi keluhan dengan obat yang dibeli sendiri.
Seorang nelayan mengaku, berkunjung ke puskesmas sering kali hanya berakhir dengan antrean panjang dan obat yang menurutnya "itu-itu saja". Karena itu, banyak nelayan berharap tenaga kesehatan lebih sering mendatangi kampung-kampung pesisir, bukan menunggu mereka datang ketika tenaga sudah habis.
Yang Hilang dan Yang Masih Bisa Diselamatkan
Di tengah segala keterbatasan itu, harapan yang disampaikan petani dan nelayan sebenarnya sederhana.
Tasmun berharap desanya memiliki lebih banyak pohon agar udara tidak terasa sepanas sekarang. Sementara bagi Jasmuri, harapan itu sesederhana bisa mengganti atap asbes rumahnya dengan genteng yang tidak menyimpan panas terlalu lama. Namun keinginan itu masih tertunda karena biaya yang harus dikeluarkan terlalu besar.
Harapan-harapan kecil itu menunjukkan bahwa beradaptasi dengan perubahan iklim tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Naungan pohon, ruang terbuka hijau di sekitar permukiman dan persawahan, bantuan untuk memperbaiki rumah dengan material yang lebih ramah terhadap panas, hingga layanan kesehatan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir merupakan langkah-langkah yang mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya bisa langsung dirasakan.
Demikian pula di laut. Ketika ikan bergerak semakin jauh akibat perubahan kondisi perairan, nelayan kecil membutuhkan tata kelola perikanan yang memberi mereka ruang untuk tetap bertahan, bukan semakin tersisih oleh kapal-kapal yang mampu menjangkau perairan lebih jauh.
Masyarakat di Indramayu dan Kupang sesungguhnya tidak tinggal diam. Mereka terus menyesuaikan diri. Petani memulai pekerjaan lebih pagi sebelum matahari meninggi. Nelayan mengubah waktu melaut ke sore dan malam. Mereka lebih sering beristirahat, membawa lebih banyak air minum, membeli kipas angin, bahkan mengonsumsi obat agar tubuh tetap sanggup bekerja.
Namun setiap bentuk adaptasi memiliki harga.
Jam kerja yang lebih pendek berarti pendapatan yang ikut berkurang. Penghasilan yang menurun membuat akses terhadap layanan kesehatan semakin sulit. Rumah yang semakin panas menambah biaya listrik. Ketika tubuh mulai kelelahan, keluarga harus mengeluarkan biaya lagi untuk berobat. Lingkaran itu terus berputar, sementara hampir seluruh bebannya dipikul oleh rumah tangga nelayan dan petani.
Krisis iklim di Indramayu dan Kupang tidak lagi hanya terlihat pada sawah yang mengering atau laut yang berubah. Krisis itu telah masuk ke dalam rumah. Ia hadir pada malam yang tak lagi memberi kesempatan tubuh beristirahat, pada orang-orang yang memulai hari dalam keadaan lelah, pada pekerjaan yang semakin berat, dan pada keluarga yang harus mengeluarkan biaya lebih besar hanya untuk mempertahankan kehidupan yang dulu terasa biasa.
Selama krisis iklim masih dipahami terutama sebagai persoalan cuaca, maka produktivitas, atau pembangunan infrastruktur, kerusakan yang terjadi di dalam tubuh, di dalam rumah, dan di dalam relasi sosial akan terus luput dari perhatian.
Padahal sudah banyak nelayan dan petani yang merasakan dampak nyata, yang tak terlihat dalam data statistik. Krisis iklim hadir perlahan, menggerus kesehatan, waktu istirahat, dan rasa aman, jauh sebelum tercatat sebagai bencana.
Penulis: Fajar Sanintan
Editor: Citra Dyah Prastuti
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




