Menumpuk Racun di Sawah dan Tubuh Petani
Sawah adalah hidup bagi petani. Namun cuaca yang kian panas, kian menggerus tenaga petani. Tak hanya itu, suhu yang terus meningkat juga ikut mengubah pola hidup hama dan penyakit tanaman. Populasi hama dan penyakit berkembang lebih cepat, siklus hidup memendek dan makin bebal terhadap pestisida. Ujung-ujungnya, petani harus keluar uang lebih banyak karena petani harus menyemprot lebih banyak pestisida, demi bisa mempertahankan produksi yang sama.
Singkatnya, perubahan iklim bikin biaya produksi meningkat, risiko kesehatan petani juga meningkat.
Sardiah (54), buruh tani di Indramayu, Jawa Barat, merasakan perubahan itu dalam beberapa tahun terakhir pada sawah yang ia garap.
Ia punya lahan garapan seluas 100 bata – ini adalah satuan luas yang lazim dipakai petani setempat, setara dengan 1.400 meter persegi. Hasil panen dia biasanya sekitar delapan kuintal gabah. Kini hasil panen meningkat menjadi sembilan kuintal.
Kenaikan ini tak serta merta membuat penghasilannya bertambah. Sebab Sardiah harus menanggung kenaikan biaya produksi karena kebutuhan akan pestisida makin besar. Kalau dulu ia cukup menyemprot tanaman empat kali dalam satu musim tanam, kini penyemprotan bisa dilakukan tujuh hingga delapan kali.
"Obatnya banyak sekarang. Kalau dulu empat semprotan, sekarang tujuh sampai delapan semprotan. Jadi walaupun hasilnya banyak, biaya juga tetap banyak," kata Sardiah.
Di balik meningkatnya penggunaan pestisida, tersembunyi ancaman kesehatan yang jarang terlihat. Survei yang dilakukan oleh Lapor Iklim dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) di Indramayu pada Jumat, 24 April 2026 menyebutkan hampir 96 persen petani Indramayu menggunakan pestisida dalam proses tanam mereka, tetapi hanya sekitar 40 persen yang selalu memakai alat pelindung diri seperti masker, sarung tangan, atau penutup lengan saat menyemprot.
Masalah ini menjadi lebih serius ketika suhu meningkat. Panas membuat pembuluh darah di kulit melebar dan aliran darah ke permukaan tubuh meningkat, sehingga penyerapan bahan kimia melalui kulit berlangsung lebih cepat. Racun yang dulu terserap perlahan kini lebih mudah masuk ke tubuh, tepat ketika banyak petani justru mengurangi penggunaan APD karena merasa gerah.
Ketika ditanya mengapa tidak memakai masker, jawaban yang sering muncul sederhana: lupa membawa masker. Bukan karena mereka tidak mengetahui risikonya, melainkan karena APD belum dianggap sebagai perlengkapan kerja yang sama pentingnya dengan cangkul, caping, atau tangki semprot.
Tasmun, buruh tani di Indramayu, menyodorkan persoalan lain yang lebih kompleks. Bukan soal produktivitas lahan, biaya produksi yang meningkat atau risiko kesehatan yang mengintai.
"Cuaca makin panas, lapangan kerja makin kurang. Makin kecil harinya. Dalam sebulan itu kebanyakan nggak kerjanya.”
Bagi buruh tani seperti Tasmun, panas yang makin ekstrem membuat pekerjaan di sawah tidak bisa dijalani selama biasanya. Ia dan buruh lainnya lebih cepat kelelahan sehingga harus lebih sering beristirahat atau menghentikan pekerjaan lebih awal ketika terik matahari terasa menyengat. Akibatnya, waktu kerja efektif menjadi lebih pendek dan upah yang diterima pun ikut berkurang.
Menurutnya, dalam satu bulan, hari tanpa pekerjaan sering kali lebih banyak dibanding hari bekerja. Saat mendapat pekerjaan pun, ia harus menghadapi kondisi yang jauh lebih berat. Di bawah terik matahari, ia sering mengalami sakit kepala, cepat lelah, dan merasa sesak napas. Dalam setengah hari bekerja, ia biasanya harus beristirahat dua kali dan menghabiskan sekitar satu hingga satu setengah liter air minum.
“Sakit kepala, kadang capek, napas pun susah karena panasnya lebih,” ujar Tasmun.
Saat dapat bekerja pun, giliran risiko kesehatan yang menunggu. Namun ketika ia tak bekerja, penghasilan tentu ikut hilang.
Pekerja mulai mengubah jam kerja
Survei terhadap 300 petani dan nelayan di Indramayu dan Kupang menunjukkan sebagian besar responden telah mengubah pola kerja mereka. Sekitar 79 persen mengaku mulai menyesuaikan jam kerja dalam tiga tahun terakhir.
Pada kelompok petani, bentuk adaptasi yang paling umum adalah mulai bekerja lebih pagi. Di Indramayu, sekitar 75 persen petani menyatakan kini memulai pekerjaan lebih awal untuk menghindari panas siang hari. Menariknya, hampir tidak ada responden yang mulai bekerja pada pukul 11.00–14.00, periode yang bertepatan dengan suhu paling tinggi.
Namun memajukan jam kerja ternyata belum cukup. Sekitar 91 persen responden mengaku setidaknya kadang-kadang harus menghentikan pekerjaan karena panas, dan hampir setengah nelayan Indramayu menyatakan hal itu terjadi secara sering.
Temuan ini menunjukkan bahwa panas telah menjadi gangguan nyata terhadap keberlangsungan kerja, bukan sekadar rasa tidak nyaman sementara.
Musim tanam akan kembali datang. Sardiah akan kembali mengisi tangki semprotnya, sementara Tasmun akan menunggu panggilan bekerja di sawah. Tetapi, keduanya tahu, musim yang datang bukan lagi musim yang sama seperti belasan tahun lalu. Panas yang semakin panjang telah mengubah cara mereka bekerja, menambah biaya yang harus dikeluarkan, sekaligus memperbesar risiko yang harus ditanggung tubuh mereka. Krisis iklim tidak hanya memperbanyak hama di sawah, ia juga memperbanyak racun yang masuk ke tubuh petani, sedikit demi sedikit, setiap musim tanam.
Penulis: Fajar Sanintan Jati
Editor: Citra Dyah Prastuti
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




