Kembali|Berita/Liputan Khusus

Kipas Angin, Air Asin, dan Perempuan Pesisir Indramayu yang Terus Bertahan (bagian 1)

Pengalaman perempuan menghadapi krisis iklim seharusnya menjadi bagian dari perencanaan adaptasi. Tapi cerita dan proses adaptasi mereka belum tercatat.

Redaksi IklimKita
2 Agustus 2026•15 menit baca

Panas yang semakin menyengat, intrusi air laut, dan hasil tangkapan yang menurun mengubah kehidupan keluarga nelayan di Indramayu. Di balik berbagai penyesuaian itu, perempuan menjadi pihak yang paling banyak memikul beban adaptasi, mulai dari mengatur kebutuhan air hingga menjaga ketahanan rumah tangga.

Rini (39) sudah hafal betul jadwal kipas angin di rumahnya. Menjelang pukul sembilan malam, baling-baling itu mulai berputar kencang mengarah ke tiga anaknya yang tidur berhimpitan di satu kasur. Ketika listrik padam, ia tahu malam itu akan menjadi malam yang panjang. Sulit tidur, berkeringat, lalu terbangun berkali-kali karena gerah.

Di pagi hari, ia punya cara sederhana membangunkan anak-anak. Tak perlu memanggil berulang kali, tak perlu pasang alarm.

"Kalau mau bangunin anak, tinggal matiin kipas," katanya sambil tertawa kecil.

Tawa itu terdengar ringan. Namun di baliknya tersimpan kenyataan yang perlahan menjadi kebiasaan baru bagi keluarganya di Desa Singaraja, Kabupaten Indramayu.

Suasana salah satu kamar di rumah Rini. Setiap kamar hanya dilengkapi satu kipas angin untuk membantu mengurangi hawa panas di dalam rumah. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/LaporIklim)

Kalau Rini dan ketiga anaknya baru bisa tidur di rumah mereka yang terasa makin panas ini kalau ditemani kipas angin, maka suaminya beda lagi. Suami Rini adalah nelayan, ia tak tahan dengan angin dari kipas. Bertahun-tahun bekerja di laut membuatnya lebih terbiasa dengan angin alami daripada hembusan kipas yang berputar di dalam kamar. Jika tidur tepat di depannya, ia mudah terserang flu. Jadilah sang suami tidur menjauh dari hembusan kipas angin.

Panas itu Nyata

Perubahan itu tidak hanya dirasakan di rumah Rini. Yulianti (36), tetangganya, mengalami hal serupa. Menurutnya, udara siang semakin menyengat, sementara malam hari tidak lagi cepat terasa sejuk seperti beberapa tahun lalu.

Rini menandai perubahan ini mulai terasa sejak masa pandemi Covid-19. Ia masih mengingat bahwa sebelumnya panas pada siang hari masih dianggap wajar. Kini, sejak sekitar empat hingga lima tahun terakhir, terik matahari terasa lebih menyengat dan hawa panas bertahan hingga larut malam.

Saat cuaca terik, Rini lebih sering duduk di luar rumah untuk mencari angin karena bagian dalam rumah terasa jauh lebih panas. Rumahnya yang beratap asbes membuat suhu di dalam ruangan meningkat, sehingga ia kerap merasa pusing ketika panas sedang menyengat. "Kalau panas, di luar cari angin, enggak bisa di dalam, panas. Ada kipas, cuma kalau dikipasin tambah panas karena anginnya. Masih mending duduk-duduk di luar," ujar Rini. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/LaporIklim)

Ingatan Rini rupanya bukan sekadar kesan pribadi. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dipaparkan dalam FGD Ekspedisi Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Petani dan Nelayan yang diselenggarakan LaporIklim dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) pada 24 April 2026 menunjukkan kawasan Kertajati dan sekitarnya memang mengalami tren pemanasan. Sejak 1981, suhu udara di wilayah ini meningkat rata-rata 0,28 derajat Celsius setiap dekade. Awal 2024 bahkan tercatat sebagai periode dengan suhu rata-rata tertinggi sejak pencatatan dilakukan lebih dari empat dekade lalu.

Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan Direktorat Layanan Iklim Terapan BMKG, Siswanto, mengatakan perubahan itu membuat kondisi yang kini dianggap "normal" sesungguhnya sudah lebih panas dibandingkan tiga dekade lalu. Bahkan, suhu minimum atau suhu pada malam hari meningkat hampir dua kali lebih cepat dibandingkan suhu siang.

Focus Group Discussion (FGD) "Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Petani dan Nelayan" yang digelar pada Jumat, 24 April 2026, dihadiri oleh 33 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari organisasi masyarakat, akademisi, pemerintah, media, hingga masyarakat umum. Peserta terdiri atas perwakilan IPPHTI, petani, nelayan, enumerator, dosen dan mahasiswa Universitas Wiralodra (Unwir), serta mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat. Turut hadir pula jurnalis dari Antara News, Detik.com, dan Kumparan, serta perwakilan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, dan Dinas Perikanan dan Kelautan. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda/LaporIklim)

Kenaikan suhu malam itulah yang paling dekat dengan pengalaman Rini. Jika dulu udara mulai sejuk selepas matahari terbenam, kini hawa panas bertahan hingga larut malam. Menurut BMKG, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kombinasi emisi gas rumah kaca yang memerangkap panas di atmosfer dan fenomena urban heat island, ketika bangunan, jalan, dan permukaan keras menyerap panas pada siang hari lalu melepaskannya perlahan pada malam hari.

Dampaknya, malam tak lagi menjadi waktu bagi bumi untuk benar-benar mendingin. Di kawasan Kertajati, suhu maksimum bahkan pernah mencapai 39,3 derajat Celsius, dengan puncak panas umumnya terjadi pada September hingga Oktober ketika tutupan awan menipis dan radiasi matahari meningkat.

Pada malam hari, Rini mengatakan udara baru mulai terasa sejuk sekitar pukul satu dini hari. Sebelum itu, terutama antara pukul sepuluh malam hingga tengah malam, bagian dalam rumah masih menyimpan panas.

Pengamatan Yulianti sedikit berbeda. Ia merasa perubahan cuaca semakin nyata sejak sekitar setahun terakhir. Pola musim yang dahulu mudah dikenali kini semakin sulit diprediksi. Musim barat yang biasanya berlangsung dari Desember hingga Maret dan musim kemarau pada pertengahan tahun masih datang, tetapi intensitasnya terasa lebih ekstrem.

Rumah Bak Perangkap Panas

Rumah Rini dan Yulianti sama-sama beratap asbes, material yang umum digunakan di permukiman nelayan karena harganya terjangkau. Namun atap itu juga menyerap panas sepanjang hari dan melepaskannya perlahan ketika malam tiba. Akibatnya, bagian dalam rumah kerap terasa lebih panas dibandingkan udara di luar.

"Kalau panas, di luar cari angin, enggak bisa di dalam. Ada kipas, cuma kalau dikipasin tambah panas karena anginnya masih panas. Masih mending duduk-duduk di luar," kata Rini.

Saat cuaca terik, ia mengaku sering merasa pusing meski hanya berada di dalam rumah. Dalam sehari ia bisa mandi hingga tiga kali. Anak-anaknya pun kerap kembali mandi pada siang hari karena tidak kuat menahan gerah.

Di banyak sudut Indramayu, atap asbes menjadi penutup rumah-rumah petani. Material yang relatif terjangkau ini telah lama menjadi pilihan banyak keluarga, meski cenderung memerangkap panas sehingga membuat suhu di dalam rumah terasa lebih tinggi, terutama saat siang hari. (Foto: Hanan Anisa Saniyah & Dea Herwanda / LaporIklim)

Yulianti mempunyai cara berbeda untuk mengurangi panas. Sebagian besar jendela di rumahnya justru dibiarkan tertutup agar sinar matahari tidak langsung masuk ke dalam rumah.

"Kenapa enggak dikasih jendela? Males buka tutupnya, jadi enaknya ditutup aja. Enggak kepanasan karena pintunya dibuka agar angin bisa masuk," katanya.

Di rumah Yulianti, kipas angin yang sudah digunakan lebih dari sepuluh tahun dan masih terus bekerja setiap hari. Kipas bukan lagi barang pelengkap, melainkan kebutuhan agar penghuni rumah bisa beristirahat pada malam hari. Ada 4 kipas, setiap kamar memiliki kipas angin dan menurutnya sulit tidur tanpa alat tersebut.

Pengalaman Rini dan Yulianti menunjukkan bagaimana perubahan iklim hadir dalam bentuk yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bukan hanya melalui data kenaikan suhu atau laporan cuaca, melainkan lewat rumah yang semakin sulit menjadi tempat berlindung dari panas.

Di kawasan pesisir indramayu seperti Singaraja, ruang tinggal yang didominasi atap asbes dan ventilasi sederhana tidak pernah dirancang untuk menghadapi suhu yang terus meningkat. Ketika siang semakin terik dan malam tak lagi membawa kesejukan, keluarga-keluarga nelayan hanya memiliki sedikit pilihan selain menyalakan kipas angin lebih lama dan berharap listrik tidak padam.

Para Pemburu Air Bersih

Panas bukan satu-satunya perubahan yang harus mereka hadapi. Di rumah Rini, persoalan lain datang ketika musim kemarau tiba. Air yang mengalir dari keran perlahan berubah rasa menjadi asin.

Perubahan itu hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama sejak Mei hingga November. Ketika hujan jarang turun, air laut lebih mudah merembes ke daratan. Rob yang datang semakin sering memperparah keadaan hingga air bersih menjadi barang yang tidak lagi bisa diandalkan.

"Kalau bulan lima sampai sebelas asin karena enggak ada hujan," kata Rini.

Menurutnya, rob kini bahkan bisa datang dua kali dalam sehari. Air laut naik pada sore hari, lalu kembali menggenangi kawasan pesisir menjelang pagi. Kondisi itu membuat kualitas air semakin menurun sehingga keluarganya harus membeli air minum untuk kebutuhan sehari-hari.

Di rumah tangga yang beranggotakan empat orang, satu galon air hanya bertahan sekitar dua hari. Artinya, setidaknya Rp90.000 harus disisihkan setiap bulan untuk membeli air minum. Pengeluaran itu tetap harus dipenuhi meski hasil tangkapan suaminya tidak selalu mencukupi.

Bagi keluarga nelayan kecil, biaya tersebut bukan tambahan pengeluaran. Uang untuk membeli air bersaing dengan kebutuhan lain seperti beras, lauk, kebutuhan sekolah anak, hingga bahan bakar untuk melaut. Ketika hasil tangkapan menurun, pengeluaran yang tidak bisa ditunda justru semakin banyak.

Apa yang dialami Rini mencerminkan persoalan yang lebih luas di pesisir utara Jawa. Berkurangnya curah hujan pada musim kemarau membuat intrusi air laut semakin mudah terjadi, terutama di wilayah yang juga mengalami penurunan muka tanah dan kenaikan permukaan laut. Desa-desa pesisir pun semakin sering menghadapi air tanah yang berubah asin sehingga tidak lagi layak digunakan sebagai sumber air minum.

Dalam banyak keluarga, perempuan menjadi pihak yang pertama kali merasakan dampaknya. Mereka yang memastikan air tersedia untuk memasak, menyiapkan minuman, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota keluarga. Ketika kualitas air menurun, perempuan pula yang harus mencari jalan keluarnya.

Berbagai penelitian menunjukkan pola yang serupa. Laporan The Climate-Care Nexus: Addressing the Linkages Between Climate Change and Women's and Girls' Unpaid Care, Domestic and Communal Work yang diterbitkan UN Women pada 2023 menyebutkan bahwa krisis iklim, termasuk kelangkaan air, meningkatkan beban kerja domestik dan kerja perawatan tidak berbayar yang sebagian besar dipikul perempuan.

Di banyak komunitas pedesaan dan pesisir, perempuan menjadi pihak yang paling sering bertanggung jawab mencari, mengangkut, dan mengelola air untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Temuan tersebut diperkuat oleh studi Climate change to exacerbate the burden of water collection on women's welfare globally dalam jurnal Nature Climate Change (2024) yang menunjukkan bahwa perubahan iklim dan meningkatnya kelangkaan air memperpanjang waktu yang dihabiskan perempuan untuk mengambil air, sehingga menambah beban fisik, mengurangi waktu produktif, dan meningkatkan tekanan psikologis. Di sejumlah wilayah pesisir, perempuan bahkan harus menempuh perjalanan beberapa kilometer untuk memperoleh air bersih ketika sumber air di sekitar permukiman mengering atau tidak lagi layak digunakan.

Di Singaraja, situasinya memang belum sejauh itu. Namun perubahan mulai terasa dari hal-hal yang paling sederhana. Air yang dulu bisa digunakan sepanjang tahun kini bergantung pada musim. Ketika kemarau datang, air harus direbus lebih lama, dijatah lebih cermat, atau dibeli dengan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Perubahan itu berlangsung perlahan, nyaris tanpa disadari. Tidak ada bunyi sirene atau tanda bahaya ketika air mulai terasa asin. Yang ada hanyalah kebiasaan baru yang terus diulang dari tahun ke tahun, sampai akhirnya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Penulis: Fajar Sanintan Jati

Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.