Kembali|Berita/Umum

Ketika Langit, Angin dan Laut Tak Lagi Bisa Dibaca

Pengetahuan tradisional soal laut tak lagi bisa dipakai untuk membaca langit dan angin.

Redaksi IklimKita
22 Juli 2026•9 menit baca

Di ujung dermaga Oesapa, Kupang, sebelum matahari benar-benar terbit, langit selalu punya cerita yang harus didengar lebih dulu daripada mesin perahu dinyalakan. Warna jingga yang terlalu pekat di ufuk timur, riak air yang tiba-tiba diam meski angin belum reda, atau arah awan yang bergerak pelan di kejauhan, cukup menjadi penanda: melaut hari ini, atau menunggu esok. Itu dulu.

Kini, cerita itu sering berubah di tengah jalan.

Bagi nelayan, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Ia adalah ruang yang selama puluhan tahun bisa "dibaca". Tanda-tandanya diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka: arah angin, bentuk awan, warna air, hingga burung-burung laut yang tiba-tiba terbang menuju daratan. Pengetahuan itu lahir bukan dari buku, melainkan dari ribuan malam di laut, ketika pengalaman menjadi satu-satunya guru.

Di Kupang, Ketua Komunitas Majelis Nelayan Bersatu, Yasinta, masih mengingat bagaimana orang-orang tua dahulu nyaris tak pernah keliru membaca cuaca.

Sebelum ada aplikasi atau prakiraan resmi, mereka menentukan waktu berlayar hanya dari perubahan langit dan arah angin.

"Kalau dulu hasil tangkapan masih banyak, kami tidak perlu melaut terlalu jauh. Kerang dan gurita juga masih mudah ditemukan. Cuaca pun lebih gampang diprediksi karena orang tua dulu bisa membaca tanda-tanda alam. Sekarang semuanya berubah. Kami harus melaut lebih jauh, hasil tangkapan makin sulit, dan pengetahuan yang dulu jadi pegangan sudah tidak selalu bisa dipakai karena cuacanya makin susah ditebak," kata Yasinta.

Perubahan itu tidak datang sekaligus. Perlahan, musim mulai bergeser. Angin yang dulu bertiup mengikuti pola tertentu kini datang lebih cepat atau bertahan lebih lama. Tanda-tanda yang selama ini menjadi pegangan kehilangan kepastiannya. Bahasa langit yang diwariskan lintas generasi perlahan tak lagi memberi jawaban yang sama.

Hal serupa dirasakan Dewa, Ketua Kelompok Nelayan Angsa Laut di Kelurahan Oesapa. Menurutnya, cuaca ekstrem yang dahulu hanya muncul satu atau dua kali dalam setahun kini bisa datang hingga empat kali. Musim barat yang biasanya berlangsung antara Januari hingga Maret kini dapat dimulai sejak November dan baru benar-benar berakhir pada April. Suhu laut yang dulu berkisar 29-30 derajat Celsius kini kerap mencapai 32 derajat, bahkan pernah menyentuh 38 derajat.

Perubahan musim membuat nelayan kehilangan kepastian tentang kapan laut cukup aman untuk disambangi. Jika dahulu kapal-kapal kecil berukuran dua hingga tiga gross ton cukup mencari ikan sekitar 30 mil (48 km) dari pantai, kini mereka sering harus melaju hingga sekitar 100 mil (160 km) untuk mendapatkan hasil yang sama.

Pemerintah mengatur pengoperasian kapal penangkap ikan berdasarkan ukuran kapal, kelaiklautan, dan dokumen perizinan sebagaimana diatur dalam UU No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran dan peraturan turunannya. Dalam praktiknya, semakin kecil ukuran kapal, semakin terbatas kemampuan untuk melaut jauh dari pantai karena faktor cuaca, tinggi gelombang, kapasitas kapal, dan perlengkapan keselamatan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi nelayan yang hanya memiliki kapal sekitar 2 GT, terutama ketika cuaca semakin sulit diprediksi akibat perubahan iklim.

Ketika langit tak lagi mudah dibaca, sebagian nelayan mulai mencari penunjuk arah lain. Di Kampung Oesapa, informasi prakiraan cuaca dari BMKG ditampilkan melalui layar televisi yang ditempatkan di kawasan permukiman nelayan. Sebagian lainnya mengandalkan aplikasi Windy atau saling berbagi informasi melalui grup WhatsApp. Windy adalah aplikasi prakiraan cuaca dan gelombang laut berbasis data satelit dan model cuaca global, yang banyak dipakai pelaut dan nelayan di berbagai negara secara gratis.

Dewa menjelaskan bahwa nelayan memutuskan melaut dengan memantau prakiraan BMKG selama sekitar satu minggu melalui TV dan grup Info Maritim BMKG. Parameter warna menunjukkan tinggi gelombang: hijau muda berarti relatif aman (0,5–1 meter), sedangkan kuning menandakan gelombang 2–2,5 meter. Gelombang diukur dalam meter, sementara angin menggunakan satuan knot. Menurutnya, jika gelombang sudah mencapai 2 meter atau angin 15–20 knot, kondisi dianggap berbahaya, meski sebagian nelayan tetap melaut karena tuntutan ekonomi.

Namun, akses terhadap teknologi belum dimiliki semua orang. Masih banyak nelayan yang tidak memiliki telepon pintar atau jaringan internet yang memadai. Mereka tetap bergantung pada kabar dari sesama nelayan sebelum memutuskan berangkat.

Syahrul (24), yang sudah melaut sejak duduk di bangku sekolah dasar, merasakan sendiri perubahan kondisi laut. Sebelum menyalakan mesin perahu, ia hampir selalu membuka aplikasi Windy di telepon genggamnya untuk memeriksa arah angin dan tinggi gelombang dari data satelit serta model cuaca global sebelum memutuskan berlayar. Dengan perahu miliknya, ia menangkap tenggiri, kakap, dan jeti di Teluk Kupang. Menurutnya, cuaca kini semakin sulit diprediksi dan keselamatan menjadi hal yang paling ia khawatirkan saat melaut.

"Sekarang cuaca berubah-ubah. Kalau di sini kelihatan tenang, bisa jadi tiba-tiba gelombang."

Informasi dari aplikasi Windy membuat Syahrul bisa memeriksa arah angin dan tinggi gelombang. Ini bukan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh generasi ayahnya. Dulu ayahnya cukup menengok ke langit dan menjadikannya sebagai penunjuk jalan. Kini, penunjuk jalan itu berpindah ke layar telepon genggam - bila sinyal tersedia.

Windy.com menjadi salah satu alat bantu penting bagi nelayan untuk memantau kondisi cuaca dan laut sebelum berangkat melaut. Melalui aplikasi ini, nelayan dapat melihat prakiraan arah dan kecepatan angin, tinggi gelombang, arus laut, serta potensi hujan dan badai hingga satu minggu ke depan. Informasi tersebut membantu nelayan menentukan waktu yang lebih aman untuk melaut, memilih rute penangkapan ikan, dan mengurangi risiko akibat cuaca buruk.

Laut yang Tak Lagi Terasa Sama

Perubahan itu tidak hanya terlihat dari langit, tapi juga terasa di tubuh.

Di Indramayu, perubahan itu bahkan terasa di tubuh para nelayan. Setelah lebih dari dua dekade melaut, Jasmuri mengaku kini lebih cepat haus sehingga harus membawa lebih banyak air minum, bahkan ketika melaut pada malam hari. Ia juga pernah menyelam dan mendapati air laut terasa hangat, sesuatu yang tidak pernah dialaminya belasan tahun lalu.

"Sekarang angin sering datang mendadak, dulu tidak seperti itu. Ombaknya juga sudah tidak stabil, berubah-ubah," kata Jasmuri.

"Saya pernah menyelam malam hari, air lautnya masih terasa hangat. Dulu tidak begitu. Sekarang malam pun rasanya tidak lagi sedingin dulu. Biasanya yang hangat itu saat bulan-bulan kemarau, sekitar Januari."

Pengalaman-pengalaman ini menunjukkan bahwa yang berubah bukan hanya perilaku ikan atau pola cuaca, melainkan juga hubungan nelayan dengan laut yang selama ini mereka kenal luar kepala. Ketika pengetahuan yang diwariskan leluhur tak lagi cukup untuk membaca alam, sementara teknologi modern belum sepenuhnya menjangkau nelayan kecil, setiap perjalanan melaut menjadi pertaruhan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Laut memang masih terbentang di hadapan mereka. Namun, bagi banyak nelayan, laut yang sama tak lagi menghadirkan kepastian yang sama. Ketika bahasa langit mulai kehilangan maknanya, setiap perjalanan melaut kini bukan hanya soal mencari ikan, melainkan juga menebak alam yang kian sulit dipahami.



Penulis: Fajar Sanintan Jati

Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.