Dikira Bunga Hias, Nganyong di Sumba Ternyata Pangan Lokal yang Mulai Dilupakan
Di Desa Wangga Waiyengu, Sumba Tengah, nganyong tumbuh di pinggir kebun dan bisa dipanen saat dibutuhkan. Tanaman yang bunganya merah menyala atau kuning ini menyimpan umbi yang bisa direbus atau dibakar. Namun, sejak beras semakin menjadi makanan utama, nganyong dan pangan lokal lainnya perlahan mulai dilupakan, padahal tanaman ini tidak membutuhkan banyak air dan perawatan.
Dulu, kalau berkunjung ke kebun masyarakat di Desa Wangga Waiyengu, Kecamatan Umbu Ratu Nggay Tengah, Sumba Tengah, kita pasti pernah menjumpai tanaman yang bentuknya seperti bunga hias. Tanaman ini bisa tumbuh hingga dua meter, daunnya lebar seperti daun pisang, dan bunganya berwarna merah menyala. Ada juga yang bunganya berwarna kuning.
Kalau belum tahu tanaman ini, orang mungkin akan mengira ia hanya bunga hias. Apalagi saat sedang berbunga, bentuknya memang cantik. Padahal, di bawah tanahnya tersimpan umbi yang bisa dimakan manusia maupun ternak.
Umbinya bisa tumbuh hingga sekitar 60 sentimeter, bentuknya mirip rimpang lengkuas, tetapi ukurannya jauh lebih besar. Rasanya juga enak. Apalagi kalau dimakan sambil ditemani kopi atau teh, bisa membuat kita lupa kalau sudah makan berapa potong.
Tanaman ini namanya ganyong. Di Sumba, kami menyebutnya nganyong atau ganyung, hampir mirip dengan nama dalam bahasa Indonesia.
Kalau sedang lapar atau ingin makan nganyong, kita tinggal pergi ke kebun dan menggali umbinya. Tanaman ini sudah lama menjadi salah satu sumber pangan yang bisa diandalkan masyarakat. Namun, belakangan ini, nganyong semakin jarang ditemukan. Seolah-olah tanaman ini mulai dilupakan karena dianggap sebagai makanan kampung.
Beberapa waktu lalu, saya iseng memotret tanaman ini lalu mengunggahnya ke Facebook. Ternyata, beberapa teman justru mengira tanaman ini sudah punah. Ada juga yang bercerita bahwa makanan ini sangat enak, tetapi sayangnya sekarang semakin sulit ditemukan.
Saya jadi berpikir, bagaimana mungkin tanaman pangan yang dulu mudah dijumpai di kebun sendiri, sekarang justru dianggap sudah hilang oleh sebagian orang?
Padahal, di tengah perubahan iklim dan musim yang semakin sulit diprediksi, tanaman seperti nganyong bisa menjadi salah satu pilihan pangan yang perlu kita jaga. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan ekstra ataupun banyak air. Petani biasanya menanamnya saat musim hujan, sering kali di pinggir kebun sebagai pagar. Setelah itu, tanaman dibiarkan tumbuh tanpa banyak perawatan dan tanpa harus diberi pupuk. Ketika umbinya sudah berisi, barulah digali untuk dimasak.
Daunnya yang lebar dan batangnya yang tinggi juga memberi manfaat bagi tanah. Bagian tanaman yang tumbuh di atas permukaan tanah bisa membantu menaungi tanah, sedangkan sisa-sisa daunnya dapat menjadi mulsa alami ketika mengering dan jatuh. Dengan begitu, kelembapan tanah bisa lebih terjaga.
Di Wangga Waiyengu, setidaknya ada dua jenis nganyong yang biasa ditanam petani. Jenis pertama memiliki bunga berwarna kuning dengan umbi berwarna putih. Jenis kedua memiliki bunga merah menyala dengan umbi berwarna merah keunguan. Keduanya bisa diolah menjadi makanan.
Cara memasaknya juga sederhana. Umbi nganyong bisa direbus atau dibakar. Setelah matang, kulitnya dikupas, lalu bisa langsung dimakan. Tidak perlu banyak bumbu atau cara memasak yang rumit untuk menikmati pangan yang tumbuh di kebun sendiri.
Ada satu hal yang juga menarik dari kebiasaan masyarakat dalam memanen nganyong. Umbi tanaman ini tidak bisa disimpan terlalu lama setelah digali. Karena itu, masyarakat biasanya hanya menggali secukupnya ketika ingin memasaknya. Selama belum dibutuhkan, umbinya dibiarkan tetap berada di dalam tanah.
Kebiasaan ini membuat nganyong bisa menjadi semacam cadangan pangan di kebun. Ketika ingin makan, tinggal menggali sesuai kebutuhan. Kita tidak harus memanen semuanya sekaligus.
Sayangnya, cerita tentang nganyong juga membawa kita pada persoalan yang lebih besar: pangan lokal yang perlahan-lahan mulai ditinggalkan.
Ketika berbincang dengan beberapa warga, saya mendapat cerita bahwa sejak padi mulai masuk sekitar tahun 1970-an, kebiasaan makan masyarakat perlahan berubah. Beras semakin menjadi makanan utama, sementara pangan yang sebelumnya mudah ditemukan di kebun mulai jarang dikonsumsi dan kurang diperhatikan.
Padahal, kita tidak harus selalu bergantung pada beras. Ada tanaman pangan lokal seperti nganyong yang sudah lama tumbuh di sekitar kita, mudah dirawat, dan bisa dimanfaatkan ketika dibutuhkan.
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari pangan alternatif dari tempat lain, sampai lupa bahwa sebagian jawabannya sudah tumbuh di kebun sendiri. Nganyong yang terlihat seperti bunga hias ternyata menyimpan umbi yang bisa dimakan dan berpotensi membantu menjaga ketahanan pangan keluarga.
Kalau tanaman seperti ini terus dilupakan, bukan hanya makanannya yang hilang dari meja kita. Pengetahuan tentang cara menanam, merawat, memanen, dan mengolahnya juga bisa ikut hilang bersama generasi yang selama ini masih mengenalnya.
Jadi, ketika melihat nganyong tumbuh di pinggir kebun, jangan buru-buru menganggapnya hanya bunga. Siapa tahu, di bawah tanahnya ada sumber pangan yang suatu hari kembali kita butuhkan.
Oleh: Norbet U. K. Lali Pali




