Demi Kuat Hadapi Panas, Petani ‘Doping’ Obat Warung
Seri Panas yang Tak Terbaca di Data Iklim
Pukul enam pagi, di Desa Nunuk, Indramayu, Watini sudah menanak nasi dan menyiapkan bekal sebelum matahari benar-benar naik. Di rumah-rumah tetangganya, buruh tani lain juga bersiap dengan cara yang sama, menyalakan kompor, membungkus nasi, menyiapkan cangkul dan caping. Bekal untuk bertani hari ini.
Namun ada satu kebiasaan lain yang nyaris tak pernah diceritakan ke luar desa.
Sebelum berangkat ke sawah, sebagian buruh tani membuka lemari obat, atau mampir ke warung. Ada yang menelan Bodrex, Panadol, bahkan Tramadol yang termasuk obat keras golongan opioid. Ada juga yang mencari obat-obatan pereda nyeri sendi seperti Neo Rheumacyl. Sebagian mengaku mencampur beberapa jenis obat sekaligus.
Obat-obatan itu diminum bukan karena sedang sakit, melainkan sebagai "doping", istilah yang mereka pakai sendiri, agar tubuh terasa lebih kuat menghadapi panas.
"Belum kerja juga minum obat. Buat doping," kata salah seorang buruh tani, ketika wawancara di desa Nunuk, Indramayu.
"Kalau enggak minum obat, badan rasanya gemetar. Enggak ada tenaga," begitu Watini menirukan pengakuan yang berulang kali didengar dari rekan-rekannya.
"Udah biasa mah dari dulu, obat."
Cerita Watini dan rekan-rekannya terungkap dalam Ekspedisi Lapangan dan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Nasional LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), bertajuk "Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Petani dan Nelayan", yang berlangsung 23–27 April 2026.
Tapi Watini tak mengikuti kebiasaan itu. Dia hanya sarapan seperti biasa, tak seperti lainnya yang sarapan obat.
Buat dia, obat bukan sarapan yang perlu diasup sebelum bekerja. Saat pusing datang ketika lama berpanas-panasan, ia lebih memilih berhenti sejenak, minum air, atau berteduh di bawah pohon ketika panas tak tertahankan. Namun ia melihat sendiri bagaimana banyak rekan buruh tani menganggap obat warung sebagai bagian dari persiapan kerja, setara pentingnya dengan cangkul dan caping.
Ketika Panas Menjadi Data
Dalam forum Ekspedisi Lapangan dan Diskusi Kelompok Terpumpun (FGD) Nasional LaporIklim bersama Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Koordinator Bidang Informasi Iklim Terapan BMKG Siswanto, memaparkan bagaimana ‘ritual doping’ ini terkait dengan data suhu di wilayah Kertajati-Indramayu.
Suhu udara di wilayah tersebut naik sekitar 0,28 derajat Celsius per dekade, sementara ambang suhu ekstrem meningkat 0,22 derajat Celsius per dekade. Awal 2024 tercatat sebagai periode dengan suhu rata-rata tertinggi sejak pencatatan modern dimulai pada 1981.
Pada jam-jam paling terik, sekitar pukul 11.00 hingga 15.00, suhu kerap bertahan di kisaran 32–35 derajat Celsius, ini jauh melampaui zona nyaman manusia yang berada di rentang 22–26 derajat Celsius. Dalam beberapa kejadian, suhu siang hari bahkan mendekati 39,3 derajat Celsius.
Bagi tubuh manusia, ketika suhu melampaui 35 derajat Celsius, pembuluh darah melebar untuk membuang panas, jantung bekerja lebih keras, dan keringat menguras cairan serta elektrolit tubuh. Risiko dehidrasi, kram otot, kelelahan akibat kepanasan (heat exhaustion), hingga heat stroke meningkat terutama pada pekerja luar ruang seperti petani dan buruh tani.
Heat stroke adalah kondisi darurat medis ketika suhu tubuh naik drastis hingga 40 derajat Celcius atau lebih akibat paparan panas ekstrem dan kegagalan sistem pengaturan suhu tubuh. Akibatnya, otak dan sistem saraf dapat terganggu, bahkan bisa mengancam nyawa.
Paparan panas berjam-jam juga membuat tubuh sulit memulihkan energi. Kapasitas fisik menurun, pekerjaan melambat, dan dalam jangka panjang dehidrasi berulang dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan ginjal dan penyakit kardiovaskular.
Di titik inilah obat-obatan pereda nyeri menjadi jalan pintas. Bagi banyak buruh tani di Desa Nunuk, obat warung diminum bahkan sebelum tubuh menunjukkan keluhan. Sebagian mengaku mencampur beberapa jenis obat sekaligus karena merasa tubuh lebih kuat menghadapi panas yang kian menyengat.
Obat yang Berubah Fungsi
Paracetamol atau obat-obat warung yang dipakai para petani di sini bukan obat yang dirancang untuk dikonsumsi terus-menerus tanpa pengawasan. Dosis aman hariannya dibatasi maksimal 4 gram, setara 8 tablet 500 mg dalam 24 jam. Jika dosis ini dilewati sedikit saja, secara berulang, maka dapat memicu hepatotoksisitas (kerusakan hati akibat metabolit yang terbentuk saat organ tersebut memproses zat itu dalam dosis tinggi). Pada kasus yang paling parah, bisa berujung gagal hati akut.
Obat-obatan yang dikonsumsi warga Desa Nunuk pun tidak seragam kandungan dan cara kerjanya. Paracetamol relatif aman bila digunakan sesuai dosis dan dalam jangka pendek. Namun konsumsi berulang tanpa pengawasan medis, atau penggunaan beberapa obat sekaligus, dapat meningkatkan risiko efek samping mulai dari gangguan hati, lambung, ginjal, hingga interaksi antarobat. Risiko itu membesar ketika obat dikonsumsi saat tubuh dehidrasi akibat bekerja berjam-jam di bawah suhu tinggi.
Bagi buruh tani di Desa Nunuk, informasi itu tak jadi bahan pertimbangan mereka. Obat warung dipilih karena mudah diperoleh dan murah, dengan uang seribu hingga beberapa ribu rupiah, mereka merasa bisa membeli tenaga untuk satu hari kerja. Kebiasaan ini, menurut pengakuan warga, sudah berlangsung sejak awal tahun 2000-an, dan kini justru semakin sering dilakukan seiring panas yang terasa kian berat.
“Kalau di apotek kan duitnya banyak (pengeluaran obat yang mahal), mending di warung, seribu dapat, tiga ribu dapat dua”, ujar watini menceritakan rekan buruh tani yang lain.
Tubuh yang Tak Boleh Berhenti
Bagi buruh tani di Desa Nunuk, persoalan utamanya bukan memahami risiko obat, melainkan bagaimana supaya tetap sanggup bekerja hingga sore.
Bagi buruh tani di Desa Nunuk, persoalan yang paling mendesak bukanlah memahami risiko obat, melainkan memastikan tubuh tetap sanggup bekerja hingga sore. Ketika upah bergantung pada kehadiran di sawah, setiap hari tanpa bekerja berarti kehilangan penghasilan. Banyak yang mengaku mengonsumsi obat warung karena merasa tubuh lebih kuat dan tidak mudah limbung ketika bekerja di bawah terik matahari. Dalam situasi itu, obat warung perlahan bergeser fungsi. Ia bukan lagi sekadar pereda nyeri, melainkan alat untuk memperpanjang daya tahan tubuh menghadapi panas yang semakin menyengat.
Panas yang semakin ekstrem juga mulai dikaitkan warga dengan kejadian yang sebelumnya jarang mereka alami.
Dalam lima tahun terakhir, warga Desa Nunuk mengingat sedikitnya empat buruh tani meninggal setelah pingsan ketika atau seusai bekerja di sawah pada musim panas. Mungkin ini seharusnya dicatat sebagai kasus heat stroke, tapi cerita ini tak pernah muncul sebagai kasus heat stroke.
Warga setempat masih mengingat nama-nama itu: Wanenti, yang meninggal saat menanam padi; Sarti, ketika sedang mengamati sawah; Sudin, yang tumbang setelah pulang dari sawah; dan Adin, sekitar 47 tahun, yang pingsan saat bekerja pada musim tanam Januari sebelum akhirnya meninggal. Ada pula yang mengalami stroke setelah pulang dari sawah.
"Dulu orang meninggal di sawah karena kena petir. Sekarang karena panas," ujar salah seorang warga.
Kalau dulu ancaman bekerja di lahan adalah tersambar petir, kini ancaman terbesar adalah panas yang menyengat. Cerita-cerita itu menyebar dari mulut ke mulut, menjadi pengingat sekaligus ketakutan yang diam-diam mereka simpan setiap kali musim kemarau datang. Meski begitu, bekerja tetap harus dilakukan.
Apalagi upah buruh harian dibayar berdasarkan hari kerja - ketika tubuh tak sanggup turun ke sawah, penghasilan ikut berhenti. Menurut pengakuan warga yang berbincang di sesi FGD Nasional LaporIklim, tidak sedikit keluarga yang harus menanggung utang Rp3 juta hingga Rp5 juta dari satu musim panen ke musim panen berikutnya.
Di tengah tekanan ekonomi seperti itu, menjaga tubuh tetap sanggup bekerja menjadi kebutuhan yang lebih mendesak daripada memikirkan risiko jangka panjang obat yang mereka telan setiap pagi.
Saat musim tandur yang berlangsung sekitar dua pekan, mereka bekerja berjam-jam di bawah matahari, dan berbagai cara dilakukan agar tubuh tetap bertahan. Ada yang membawa air es atau minuman berperisa supaya terasa lebih segar. Ada yang menyiramkan air es ke kepala ketika panas mulai menusuk. Sebagian justru mengenakan dua hingga tiga lapis pakaian karena merasa tubuh lebih sejuk. Ada pula yang mandi hingga empat kali sehari setelah pulang dari sawah.
"Kalau panas, rokok juga jadi berkurang," ujar salah seorang buruh tani.
Namun semua cara itu sering kali masih belum cukup dan obat warung menjadi pilihan berikutnya.
Di sinilah panas berhenti menjadi sekadar urusan cuaca. Ia masuk ke tubuh, memengaruhi cara orang bekerja dan beristirahat, bahkan membentuk keputusan-keputusan sehari-hari tentang bagaimana menghadapi rasa lelah dan nyeri. Kebiasaan-kebiasaan kecil yang lahir karena orang tidak punya banyak pilihan. Menelan obat sebelum matahari terbit menjadi bagian dari strategi bertahan hidup, bukan karena tubuh sehat, melainkan karena tubuh tidak boleh berhenti.
Tubuh manusia menjadi ruang terakhir tempat krisis iklim dinegosiasikan. Di Desa Nunuk, negosiasi itu dimulai setiap pagi dengan menelan sebutir obat warung agar tetap sanggup bekerja. Ketika panas terus meningkat sementara perlindungan kesehatan dan jaminan sosial tak ikut menguat, biaya adaptasi berpindah ke orang-orang yang paling sedikit memiliki pilihan. Mereka membayarnya dengan dehidrasi, kelelahan, risiko kerusakan organ, hingga obat-obatan yang diminum setiap pagi agar tetap bisa turun ke sawah.
Penulis: Fajar Sani
Editor: Citra Dyah Prastuti
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




