Salju di Puncak Jaya Menuju Kenangan
Gletser di berbagai belahan bumi terus menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
"Puncak Jaya adalah salah satu keajaiban dunia alam yang terletak di Pegunungan Jayawijaya, Papua Tengah. Salah satu keajaibannya adalah fenomena langka terbentuknya salju atau gletser di wilayah beriklim tropis dekat garis Khatulistiwa."
Siapa yang masih meyakini kalau salju di Puncak Jaya itu masih ada?
Keyakinan itu mungkin segera berubah jadi kenangan. Tahun 2026 diprediksi jadi tahun terakhir bagi lapisan es di Puncak Jaya, Papua. Peringatan ini pernah disampaikan sejak 2023 oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) - bahwa fenomena El Nino berpotensi turut mempercepat kepunahan tutupan es di Puncak Jaya.
Studi Dampak Perubahan Iklim pada Gletser di Puncak Jaya menyebutkan, dalam rentang tahun 2016-2022, laju penipisan es terjadi sekitar 2,5 meter per tahun. Sementara luas tutupan es pada tahun 2022 sekitar 0,23 kilometer persegi. Dan terus mengalami pencairan.
Keajaiban salju di wilayah Khatulistiwa ini masih bisa ditemukan pendaki hingga 2024. Studi Cold Region Science and Technology yang diterbitkan pada April 2026 memaparkan kalau salju ini perlahan menghilang. Dalam kurun waktu 44 tahun, yaitu 1980 hingga 2024, gletser Puncak Jaya telah kehilangan 7,28 kilometer persegi atau 97 persen dari permukaan esnya. Angka ini menunjukkan 0,17 kilometer persegi punah setiap tahun. Sisa gletser diperkirakan akan mencair dan hilang seluruhnya pada 2030.
Ini artinya empat tahun dari sekarang.
Sempat dianggap bualan
Puncak Jaya, Papua, Indonesia, merupakan salah satu dari tujuh puncak dunia (seven summits). Terletak di gugusan pegunungan Jayawijaya--rangkaian pegunungan tertinggi di Indonesia - Puncak Jaya berada di ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut. Salah satu keunikan dan keajaibannya ialah fenomena langka terbentuknya salju atau gletser di wilayah beriklim tropis dekat garis khatulistiwa. Fenomena ini pernah dianggap bualan oleh masyarakat Eropa.
Pada abad ke-17, Jan Carstenzoon, penjelajah asal Belanda, memimpin ekspedisi Pantai Selatan Nugini dan menemukan gletser di puncak pegunungan Papua Tengah. Namun, saat kembali ke Eropa dan melaporkan temuannya, ia ditertawakan. Pemahaman dan pengetahuan ilmiah kala itu tidak memungkinkan adanya salju di wilayah tropis khatulistiwa. Selama dua abad, Carstenzoon dianggap membual. Istilah saat ini: hoaks.
Hingga 1909, Hendrik Albert Lorenz, seorang penjelajah asal Belanda lainnya, membuktikan sendiri temuan Carstenzoon. Ia menyaksikan sendiri padang salju yang disebutkan oleh Carstenzoon. Keajaiban salju yang dianggap tidak mungkin terjadi.
Gletser di Papua disebut sebagai 'salju abadi' karena punya kondisi unik. Studi Cold Region Science and Technology menulis, kondisi unik ini terjadi karena salju terpapar sinar matahari penuh sepanjang tahun tapi tetap bersalju selama ribuan tahun.
Apa pentingnya gletser bagi kita?
Meskipun berada di puncak gunung atau jauh dari pemukiman penduduk, gletser sangat berdampak terhadap kehidupan manusia. Fungsinya sebagai cadangan air tawar terbesar, memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan hidrologi, mendukung ekosistem pegunungan, dan berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut. Peningkatan volume dan kenaikan permukaan air laut dapat menyebabkan penyempitan luas daratan rendah akibat terendam.
Bagi peneliti dan ilmuwan, gletser memegang peranan penting sebagai laboratorium ilmiah. Sejarah iklim masa lalu (paleoklimat) tersimpan di inti es. Sedangkan bagi masyarakat Papua, gletser dianggap sebagai lokasi sakral dan bagian dari identitas spiritual, tempat bersemayamnya ruh leluhur. Hilangnya gletser akan menggerus warisan budaya ribuan tahun.
Dampak perubahan iklim
Perubahan iklim dan pemanasan global berdampak terhadap seluruh ekosistem, termasuk gletser. Kenaikan temperatur yang tak terhindarkan telah menggerus terus menerus permukaan dan lapisan gletser (Ouma and Tateishi, 2005), terutama di wilayah tropis. Di dunia, tiga padang salju abadi di garis khatulistiwa terdapat di Puncak Jaya, Indonesia; Gunung Kilimanjaro, Tanzania; dan Gunung Cayambe, Ekuador. Ketiganya sudah menunjukkan penyusutan lapisan gletser dan diperkirakan akan hilang pada 2030.
Di dunia, dari 6 gletser yang ada, hanya tersisa 2 yaitu Carstensz Glacier dan East Northwall Firn Glacier. Empat gletser telah lenyap sepenuhnya: Ngga Pilimsit, Meren, Southwall Hanging, dan West Northwall Firn Glacier. Carstensz Glacier diperkirakan punah 2028-2029, sementara East Northwall Firn Glacier diperkirakan hilang pada 2029-2030.
Kalau dulu masyarakat Eropa menganggap Carstenszoon membual soal salju di wilayah Khatulistiwa, maka bagi Generasi Alfa, salju ini menjadi kenangan belaka.
*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.
Penulis: Nasrullah
Editor: Citra Dyah Prastuti
Dokumentasi: BMKG
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.




