Kembali|Berita/Umum

Panas Ekstrem yang Diam-diam Membunuh

Korban heat stroke sampai 1.3000 kematian di Eropa. Di Indonesia ada Agus dan Anisa yang tercatat jadi korban heat stroke - tapi mungkin ada lebih banyak korban yang tak terlaporkan.

Redaksi IklimKita
4 Agustus 202616 menit baca

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika memperkirakan, fenomena El Nino akan bertahan hingga awal tahun 2027. Bahkan ada peluang 75% di mana El Nino masuk kategori sangat kuat. Bulan Juli sampai September 2026 diperkirakan menjadi puncak musim kemarau tahun ini, meski tidak semua wilayah mengalami puncak kemarau di waktu yang sama.

Sumber: BMKG
Sumber: BMKG

Tak hanya badan lokal yang mengeluarkan perkiraan ini. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebutkan El Nino akan menguat secara stabil dan mendominasi pola iklim global pada Agustus-Oktober 2026. Artinya, kemungkinan suhu meningkat di atas normal dan akan ada perubahan signifikan pada pola curah hujan.

Mengacu ke informasi BMKG, sejumlah wilayah sudah mengalami kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH). Rekor Juli 2026 dipegang Katerban, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, yang tidak kena hujan selama 80 hari. Ini adalah indikator adanya kekeringan meteorologis yang signifikan.

Fenomena El Nino ini menimbulkan banyak dampak, seperti musim kemarau yang lebih kering, meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan, gangguan sektor pertanian dan pangan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta risiko gangguan kesehatan.

Diam-diam membunuh

Sebelum muncul perkiraan terbaru dari BMKG ini, kita sudah melihat ancaman panas sebagai silent killer yang diam-diam merenggut banyak nyawa.

Bulan Juni 2026 lalu, dua orang meninggal karena heat stroke. Ini adalah kondisi darurat saat suhu tubuh naik drastis mencapai 40°C atau lebih akibat gagalnya sistem pengatur suhu tubuh. Kondisi ini umumnya dipicu oleh paparan cuaca panas ekstrem atau aktivitas fisik berat yang terlalu lama.

Korban pertama adalah Anisa Muyassaroh, dinyatakan meninggal dunia oleh Komando Daerah Militer VI/Mulawarman pada tanggal 18 Juni 2026. Kasus kedua bernama Agus Putranadi, yang meninggal dunia karena heat stroke pada Jakarta International Marathon pada 14 Juni 2026.

Anisa Muyassaroh adalah calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang sedang ikut pelatihan di Kalimantan Timur. Di tengah kegiatan, Anisa mengeluh sakit dan segera mendapatkan pertolongan medis. Keterangan resmi menyebut, Anisa sempat mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit sebelum dinyatakan meninggal dunia. Laporan tertulis dari Kodam VI/Mulawarman Kolonel (Inf) Gatot Teguh Waluyo ini juga yang memuat heat stroke atau serangan panas berat sebagai penyebab kematian. “Kondisi ini menimbulkan komplikasi hingga akhirnya tidak tertolong,” mencuplik sebagian isi laporan.

Sementara Agus Putranadi ambruk dekat tenda medis yang berada di area garis finis di Jakarta International Marathon. Agus langsung dievakuasi ke tenda medis dan dibawa ke rumah sakit. Setelah dirawat, nyawa Agus tak dapat ditolong. Tim dokter menyebut, Agus mengalami heat stroke.

Kematian Anisa dan Agus adalah wajah korban heat stroke di Indonesia yang perlu jadi perhatian kita bersama. Bisa jadi, terjadi fenomena gunung es di sini - masih ada banyak kasus kematian lain akibat serangan panas berat yang tidak terlaporkan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus menuliskan di X kalau paparan panas ini adalah ‘pembunuh senyap’ atau silent killer. Banyak korban yang tidak meninggal akibat suhu tinggi secara langsung, tapi suhu panas memperburuk penyakit yang diderita.

Merekam suhu ekstrem di berbagai negara

WHO melaporkan 1.300 kematian tambahan terkait suhu tinggi di Eropa. Di Italia, pekerja pertanian dan konstruksi masih harus tetap bekerja di bawah matahari. Di Spanyol, ratusan kematian dikaitkan dengan gelombang panas, sebagian besar korban dari kelompok rentan, terutama lanjut usia, penderita penyakit kronis, serta mereka yang punya keterbatasan akses terhadap pendingin ruangan.

Di Perancis, otoritas kesehatan menyebut sekitar 1.000 kematian dalam beberapa hari. Salah satunya adalah anak berusia 3 tahun, yang meninggal pada 24 Juni 2026. Anak tersebut ditemukan meninggal di dalam mobil keluarga, di utara kota Paris. Ia menguncikan diri ke dalam mobil ketika orangtuanya sedang sibuk - padahal suhu saat itu melebihi 36 derajat Celcius. Dua anak lain juga ditemukan meninggal di dalam kendaraan. Kasus-kasus tersebut terjadi di pekan yang sama. Di Perancis juga ditemukan banyak kasus di mana orang melompat atau menyemplungkan diri ke dalam sungai, kanal dan perairan lainnya untuk mendinginkan diri.

Suhu ekstrem di atas 40 derajat Celsius di beberapa negara Eropa pada hari Minggu (28/06) (Jaap Arriens/Sipa USA/picture alliance)

Pertengahan Juli 2026 lalu, AFP melaporkan ada 12 ribu kematian tambahan di sembilan negara Eropa akibat gelombang panas bulan Juni 2026. Tanggal 23 Juni merupakan suhu tertinggi yang pernah terekam di Perancis dengan suhu 44.3 °C di Pissos.

Laporan World Meteorological Organisation mencatat suhu di Jerman mencapai rekor baru yaitu 41.7°C di kota Coschen dekat perbatasan Polandia. Sebanyak 46 stasiun meteorologi lainnya merekam suhu di atas 40°C sampai 27 Juni 2026. Suhu di negara Inggris mencapai rekor baru untuk bulan Juni dengan suhu 37.3°C selama tiga hari di selatan Inggris pada 25 Juni. Sementara Spanyol menyentuh 40°C pada 23-24 Juni 2026.

Peringatan sudah datang

Studi yang dilakukan Ted J. Scott, seperti dipublikasikan di Jurnal Environmental Research Letter pada 7 April 2026, durasi musim panas terus meningkat sejak 1990 silam. Yang semula musim panas berlangsung 5-7 hari per dekade, menjadi 2-3 pekan dalam 30 tahun terakhir. Musim transisional juga makin pendek, dengan percepatan yang sama dengan meningkatnya periode musim panas.

Selain musim panas yang makin panjang, peringatan juga sudah datang lewat bertambahnya jumlah hari panas dan lembap. Laporan Climate Central berjudul “Global Analysis: Dangerous Humid Heat Rising Due to Climate Change” yang terbit pada 26 Juni 2026 menyebutkan soal ini. Bahwa jumlah hari panas dan lembap meningkat karena ada peningkatan suhu global akibat krisis iklim. Pada tahun 1970an, jumlah hari yang terasa panas dan lembap sebanyak 10 hari per tahun. Di rentang waktu 2016-2025, jumlah hari yang terasa panas dan lembap melonjak jadi 23 hari per tahun.

Climate Central juga menyatakan bahwa kontribusi pemanasan global antropogenik, pemanasan global yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Dan ini lah yang berperan besar dalam meningkatnya jumlah hari panas dan lembap per tahun.

“Temuan ini menunjukkan betapa signifikan krisis iklim mengubah bumi kita. Panas dan lembap ekstrim berbahaya telah berubah dari kejadian luar biasa menjadi kenyataan hidup sehari-hari di beberapa daerah, mendorong kondisi lingkungan mendekati batas aman kemampuan tubuh menahan beban,” Kaitlyn Trudeau, Ilmuwan Iklim Terapan Climate Central.

Indonesia, heat stress dan heat stroke

Sebagai negara yang berada di iklim tropis, maka jumlah hari panas di Indonesia sangat tinggi - berbeda dengan negara beriklim sedang. Data Climate Central (Juni 2026) menyebutkan, Indonesia punya total hari panas dan lembap sebanyak 178 hari pada periode 2016-2025. Namun sebanyak 68% di antaranya (yaitu 118 hari) disebabkan oleh pemanasan global. Jika dibandingkan dengan data dari periode 1970-1979, Indonesia hanya memiliki jumlah hari panas lembap sebanyak 82 hari dengan 28% (23 hari) tersebut disebabkan oleh pemanasan global. Data ini menunjukan bahwa Indonesia sangat rentan terhadap perubahan iklim antropogenik.

Climate Central mendefinisikan hari panas dan lembap berbahaya dengan ‘suhu bola basah’ (wet-bulb temperature) maksimum yang melampaui 25°C per hari. Suhu bola basah merupakan suhu terendah yang dapat dicapai suatu objek dalam mendinginkan diri melalui proses evaporasi. Maka ‘suhu bola basah’ adalah penggabungan pengukuran suhu dan kelembapan, yang menunjukkan seberapa efektif tubuh kita dapat mendinginkan diri dengan berkeringat.

Kelembapan yang tinggi membuat suhu terasa lebih tinggi dibandingkan suhu sebenarnya. Ini terjadi karena laju evaporasi keringat berkurang, dan ini menghambat proses regulasi suhu tubuh kita. Karena itulah suhu 34°C di Indonesia bisa terasa lebih panas dibandingkan dengan suhu 40°C di Eropa, misalnya. Selain itu, terhambatnya proses regulasi suhu tubuh akibat kelembapan tinggi juga menimbulkan resiko stres panas atau heat stress.

Heat stress yang berlebihan dapat membuat kita merasa kelelahan, dan ini meningkatkan risiko serangan heat stroke. Dalam keadaan panas berlebih, seorang akan mengalami dehidrasi karena tubuhnya mencoba mendinginkan tubuh dengan cara berkeringat berlebih. Paparan panas berlebih juga menyebabkan kita lebih susah berkonsentrasi dalam beraktivitas yang memiliki resikonya sendiri tergantung pekerjaannya. Selain itu heat stress yang berkepanjangan juga dapat menyebabkan kerusakan jangka panjang dan memperparah kondisi kesehatan pada ginjal dan jantung kita. Sebab jantung dan ginjal kita harus bekerja lebih keras dalam keadaan panas berlebih.

Heat stress atau stres panas yang berlebihan juga bisa berdampak ke kesehatan mental. Studi JAMA Psychiatry yang dipublikasikan pada 2021 menyebut, suhu yang lebih panas memiliki asosiasi dengan meningkatkan kasus kesehatan mental. Misalnya, ada peningkatan kasus rawat akibat gangguan mood, penggunaan zat berbahaya serta tindakan self harm ketika terjadi kondisi panas ekstrem.

Panas yang berlebih pada malam hari juga menyebabkan gangguan tidur. Akibatnya kualitas tidur pun terdampak. Tubuh jadi lebih rentan terhadap inflamasi dan penyakit kronis karena melemahnya sistem kardiovaskular dan imun. Kekurangan tidur juga mengganggu kesehatan mental kita dan memperparah kondisi yang sudah ada.

Indonesia yang berupa kepulauan, serta lokasi geografis di garis khatulistiwa, adalah berkah - sekaligus tantangan. Indonesia ada di jalur perdagangan yang sentral. Berkat lokasinya juga, Indonesia tak punya musim dingin dan punya waktu hujan yang lebih lama. Artinya, aktivitas agrikultur cocok dikembangkan di Indonesia. Namun musim panas yang panjang ini juga membawa dampak bagi mereka yang bekerja di bawah sinar matahari - petani, nelayan, buruh bangunan, pedagang keliling, pengemudi ojek, pedagang kaki lima dan pegawai lapangan.

“Sekarang kerasa sekali panasnya,” kata seorang petugas keamanan perumahan di wilayah Serpong, pada pertengahan Juli lalu. “Berbeda dari tahun 2010. Jauh bedanya. Biasanya tidak terlalu panas, sekarang kerasa sekali. Kepala jadi lebih sering pusing karena panas.

Pekerja dan siswa yang pulang pergi beraktivitas pada pagi sampai siang hari juga berpotensi jadi korban heat stress dan heat stroke. Transportasi umum di beberapa kota masih jadi persoalan, ditambah lagi infrastruktur bagi pejalan kaki yang belum memadai.

Mereka yang paling terdampak paparan panas umumnya mereka yang bekerja di sektor informal. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2026 menyebut, hampir 60 persen penduduk Indonesia bekerja di sektor informal. Ini artinya sebanyak 87 juta lebih penduduk Indonesia rawan harus terus bekerja di bawah terik matahari. Berhenti bekerja bukan pilihan, karena mereka bakal kehilangan pendapatan harian mereka.

Kematian Anisa dan Agus bukan sekadar angka kasus kematian akibat heat stroke. Mereka adalah peringatan bahwa panas bisa membunuh. Banyak orang yang belum tahu risiko tersebut serta bagaimana memitigasi risikonya. Selama ini banyak yang menganggap situasi panas ini sebagai hal biasa, namun heat stroke terbukti membunuh. Perlu banyak literasi, kampanye dan regulasi untuk melindungi masyarakat dari ancaman baru perubahan iklim ini.


Penulis: Farih Akiela

Editor: Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.