Seporsi Mi Ayam Sebelum Kedaulatan Pangan Mati
Belakangan, di antara penghuni rak best seller, ada satu yang seakan pemukim tetap: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati. Terlepas dari kutub sentimen pembaca, novel ini telah menjadi fenomena. Kisah Ale yang memutuskan menyantap mi ayam sebagai kenikmatan terakhir sebelum mati, mengingatkan bahwa makanan paling umum sekalipun bisa menjadi alasan untuk bertahan hidup.
Namun, di tengah kenyataan krisis iklim, ada kontradiksi besar. Benarkah makanan ini mampu membuat orang Indonesia hidup lebih lama?
Mengapa Ale Memilih Mi Ayam?
Mi ayam dijajakan tak kenal tempat dan waktu. Ia ada sejak pagi hingga malam, dari gerobak hingga kafe. Termasuk, mi dalam kemasan instan. Ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kesadaran pangan masyarakat Indonesia: banyak orang lintas kelas dan generasi pernah merasakan hangatnya semangkuk mi ayam, termasuk di titik rendah hidup. Di antaranya Ale dan barangkali, kita.
Betapa dalamnya penetrasi kultural ini adalah ironi. Bagaimana makanan yang kita telah lama akrab, ternyata bergantung pada rantai pasok global. Di masa krisis iklim, kerentanan ini bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang kita rasakan.
Jejak yang Tak Pernah Lokal
Saking dalamnya, mi ayam bahkan menjadi objek perebutan identitas wilayah. Sebagian publik di medsos mendebatkan kota mana yang lebih layak menjadi kiblat mi ayam: Wonogiri atau Malang.
Padahal, jika ditelusuri akar sejarahnya, keduanya bukan tempat asal mi ayam. Bak-mi (肉麵) dibawa imigran Tiongkok berabad-abad silam. Dalam bahasa Hokkien, bak berarti daging--umumnya babi--dan mi berarti adonan tepung terigu. Oleh karena Indonesia mayoritas Muslim, daging babi diganti ayam, disertai berbagai penyesuaian rasa. Wonogiri dikenal dengan kuah kental kecokelatan dan bumbu kuat; Malang berkuah bening, cenderung asin, dan ringan.
Namun, perubahan resep bukanlah perubahan akar bahan baku. Gandum, asal tepung terigu, tidak tumbuh di iklim tropis Indonesia. Untuk mendapatkannya, negara kita mengimpor dari beberapa negara, dengan dua teratas di 2025 adalah Australia dan Kanada. Sehingga, mau berkreasi bagaimanapun, ia tak pernah bisa disebut "pangan lokal".
Ekonomi Politik di Balik Semangkuk Mi
Mengapa meski hasil impor, tepung terigu begitu murah, mudah diperoleh, dan tahan lama? Ini adalah buah regulasi beberapa dekade. Pada Orde Baru, negara membangun sistem yang menghasilkan ketergantungan pada gandum. Bulog diberikan hak monopoli sebagai importir tunggal, dengan hak menggiling diberikan eksklusif kepada sebuah konglomerat swasta.
Monopoli ini disertai subsidi besar. Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam riset oleh Dian Octaviani, harga impor biji gandum Rp418 per kilogram, tetapi harga yang diserahkan kepada penggiling swasta Rp141 per kilogram. Selisih Rp277 itulah subsidi yang ditanggung negara.
Tarif impor pun dimudahkan: gandum masuk dengan bea 0%, tepung terigu hanya 5%. Sebaliknya, industri berbahan baku lokal terbebani pajak. Konglomerat yang sama juga menggunakan tepungnya untuk memproduksi mi instan yang menguasai hingga 90% pangsa pasar. Sebuah rantai terintegrasi dari hulu hingga hilir yang menyempitkan ruang gerak pangan lokal.
Dampaknya terlihat jelas. Afaqa Hudaya, peneliti Indef, menggarisbawahi bahwa konsumsi gandum dan tepung terigu nasional meningkat hampir 2,5 kali lipat dalam satu dekade, jauh lebih cepat dari peningkatan konsumsi beras. Volume impor gandum sendiri pada 2025 mencapai 11,76 juta ton. Ketergantungan ini membuat Indonesia lebih mudah terdampak fluktuasi harga pangan global.
Ketika Suhu Permukaan Bumi dan Tensi Antarnegara Menentukan Harga Mi
Masih ada ancaman yang lebih fundamental: krisis iklim. El Niño membuat produksi gandum di Australia turun. Sementara, selera kita akan mi, tidak. Pun, iklim bukan satu-satunya yang mengguncang mangkuk mi. Pergolakan Rusia-Ukraina adalah bukti lain rapuhnya pangan kita. Pada 2021, Ukraina merupakan pemasok gandum terbesar kedua bagi Indonesia, mengekspor 2,83 juta ton. Angka itu anjlok di 2022, tersisa hanya 166.800 ton.
Memang, El Niño tidak berdampak sama di seluruh dunia. Ia justru membawa cuaca yang menguntungkan eksportir gandum lain, seperti Argentina dan Brasil. Data BPS pun menampilkan bagaimana ketika impor dari Ukraina terganggu, kita menerima peningkatan impor dari keduanya.
Namun, ini tak bisa jadi bukti kokohnya penyediaan gandum kita. Kita mungkin tidak menyaksikan langsung pecah-pecah ladang gandum Australia atau bagaimana letupan senapan di negara lain. Tapi, ketika negara produsen harus membatasi ekspor, Indonesia tak punya pilihan selain menerima harga tinggi.
Memperebutkan dan Merayakan Impor
Pada 3-4 Juli 2026, Wonogiri mendeklarasikan diri sebagai Ibukota Mi Ayam Bakso. Sebuah kemenangan atas Malang, barangkali. Namun, apa yang sebenarnya sedang dimenangkan? Sebuah makanan bercita rasa lokal yang bintang utamanya datang dari mancanegara. Sebuah ikon daerah yang fondasinya ditentukan oleh suhu bumi dan tensi politik di belahan bumi lain.
Wonogiri sendiri memiliki julukan lebih tua: Kota Gaplek. Tanah karstnya memang tak pernah cocok untuk sawah. Namun, singkong tumbuh baik di sana. Singkong dikeringkan menjadi gaplek, diolah menjadi aneka olahan seperti gatot dan tiwul. Gaplek adalah simbol ketahanan pangan, bukti leluhur bertahan dengan apa yang tumbuh di tanah sendiri. Akan tetapi, di tengah guncangan global, pemerintah daerah justru lebih menyorot mi ayam.
Yang Tangguh, yang Terlupakan
Gaplek hanyalah satu di antara pangan lokal yang dinomorakhirkan. Masih ada sorgum, sagu, sukun, dan lainnya. Namun, mengapa? Bukan karena masyarakat tak mau. Orde Baru mengarahkan beras sebagai simbol stabilitas. Keputusan pangan pun bias terhadap beras dan gandum impor. Dari subsidi, bantuan sosial, dan infrastruktur, semuanya memudahkan distribusi keduanya.
Konsekuensinya, aneka pangan lokal tersingkir dari piring-piring kita. Jewawut yang dulu makanan pokok, kini lebih dijadikan pakan burung. Masyarakat di Papua yang dulu mengonsumsi sagu sekarang beralih ke beras dan mi instan. Bukan karena benar-benar ingin, tetapi sistem tak memberinya ruang.
Pangan lokal di antara harapan fiksi, krisis iklim, dan kedaulatan nyata
Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mungkin membuat kita berpikir, makanan yang ‘dekat’ bisa menjadi alasan bertahan hidup. Namun, benarkah ia dekat?
Di tengah planet yang memanas, mi ayam adalah simbol komanya kedaulatan pangan kita. Saya tak berkelit bahwa masih sesekali menyantap mi. Alasannya mungkin tak jauh berbeda dengan Ale: lidah kita telah lama dikondisikan untuk familier terhadapnya. Namun, kita perlu tetap mengakui bahwa selokal apapun rasanya, ia tetap makanan yang berdiri di atas ketergantungan struktural. Tiada kemerdekaan piring di meja makan ketika kita terus bertumpu padanya.
Padahal, Indonesia mampu menumbuhkan sendiri aneka pangan yang tangguh iklim dan tak perlu kapal dari seberang lautan. Sudah saatnya kita menghidupkan olahan pangan yang tak hanya lezat, tetapi juga sungguhan dekat.
Opini ini terbit khusus dalam rangka menyambut momen Kemerdekaan 17 Agustus, dengan mengangkat tema "Merdeka dari Krisis Iklim".
Penulis: Annisa Rakhmadini
Editor: Citra Dyah Prastuti
About the author
Redaksi IklimKita
Editor
Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.


