Kembali|Berita/Berita

Dua Pesisir, Satu Cerita: Ketika Nelayan Melaut Makin Jauh dan Tak Lagi Makan Ikan

Laut berubah karena krisis iklim, beban yang dirasakan nelayan makin berat - melaut makin jauh sampai tak bisa lagi makan ikan demi bertahan hidup.

Redaksi IklimKita
21 Juli 2026•22 menit baca

Laut belum berhenti memberi ikan. Namun ia tak lagi memberi sebanyak yang diingat para nelayan.

Di Indramayu, ikan tongkol yang dulu mudah memenuhi jaring, kini bergerak semakin jauh ke tengah laut, di luar jangkauan perahu-perahu kecil. Ikan kembung tak lagi melimpah seperti dahulu, sementara cekong, ikan kecil yang mirip sarden, semakin jarang muncul di perairan dekat pantai.

Jasmuri sudah 25 tahun melaut. Dulu sekali berangkat melaut ia bisa membawa pulang satu kuintal ikan kembung, bahkan dua hingga tiga ton dalam musim baik. Kini, jumlah sebesar itu tinggal kenangan.

"Mendadak angin, dulu enggak seperti itu," ujarnya.

Bagi Jasmuri, yang berubah bukan hanya jumlah ikan. Laut yang dulu bisa dibaca, kini hanya bisa ditebak.

Di Indramayu, aktivitas melaut umumnya dilakukan oleh laki-laki. Namun, dampak perubahan laut juga dirasakan perempuan yang sehari-hari mengelola ekonomi rumah tangga nelayan dan menjadi orang pertama yang merasakan ketika hasil tangkapan terus menurun. Rini, istri nelayan di Indramayu, melihat perubahan itu dari sisi yang berbeda.

"Sekarang kan udah nggak kaya dulu, sekarang mah berkurang. Kalau panas, ikan nggak mau minggir, ke tengah aja, sedangkan kita nelayan kecil." ujar jasmuri,

Kalimat itu menyingkap ketimpangan yang jarang disadari orang di luar pesisir - bahwa perubahan iklim tidak memukul rata. Kapal besar punya jangkauan dan modal untuk mengejar ikan yang bergeser ke laut dalam. Perahu kecil milik Rini dan suaminya tidak.

Kapal-kapal nelayan yang bersandar di Indramayu menjadi bagian dari denyut ekonomi pesisir utara Jawa yang bergantung pada sektor perikanan tangkap.

Perubahan serupa juga dirasakan nelayan di Kupang. Yasinta Adoe, nelayan perempuan dari komunitas Majelis Nelayan, mengatakan ikan raja yang dahulu lazim berbobot 20 hingga 25 kilogram kini hampir tak pernah lagi ditemukan. Jika pun ada, ukurannya tinggal sekitar 12 hingga 14 kilogram. Kerang, gurita, dan rumput laut alam yang dulu mudah diperoleh juga semakin sulit ditemukan.

Semakin sedikit ikan di dekat pantai, semakin jauh pula perjalanan yang harus ditempuh. Dewa, dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Angsa Laut di Oesapa, Kupang menjelaskan dahulu nelayan cukup melaut sekitar 30 mil (setara 48 kilometer) dari pantai. Kini untuk memperoleh hasil yang sama, mereka harus menempuh hingga 100 mil (setara 160 kilometer). Perjalanan melaut yang dahulu relatif singkat kini dapat berlangsung tujuh hingga dua belas jam. Nelayan berangkat sekitar pukul empat sore dan baru kembali pada pukul enam hingga delapan pagi setelah menunggu jaring selama berjam-jam di tengah laut.

Dewa menuturkan bahwa sekali melaut ia membutuhkan sekitar 10 liter solar untuk perjalanan pulang-pergi. Ketika sumber daya ikan di sekitar Kupang mulai menurun, banyak nelayan terpaksa mencari daerah tangkap yang lebih jauh, bahkan mendekati perairan Australia. Pada masa itu, sumber daya perikanan di wilayah tersebut masih relatif melimpah dan kondisi laut juga lebih terjaga. Menurut Dewa, kapal-kapal kecil berukuran 2–3 gross ton (GT) menjadi kelompok yang paling terdampak. Jika dahulu nelayan cukup melaut sekitar 30 mil dari pantai, kini mereka sering harus menempuh jarak hingga 100 mil untuk memperoleh hasil tangkapan yang setara.

Jarak yang semakin panjang berarti lebih banyak solar yang terbakar dan lebih banyak tenaga yang terkuras. Namun hasil tangkapan tidak selalu bertambah.

"Dulu kerja tidak terlalu forsir. Sekarang harus lebih jauh, lebih lama. Jantung sama asam lambung jadi karena capek kerja dan jarang makan."

Tubuhnya pernah menyerah. Ia sempat dirawat di rumah sakit karena kelelahan setelah bekerja terlalu keras dengan waktu makan yang tidak teratur. Namun berhenti melaut bukan pilihan.

"Anak butuh jajan, makan. Kalau tidak terpenuhi, tidak bisa tidur nyaman."

Temuan-temuan ini didapatkan dari survei Rapid Health dan Iklim Nelayan dan Petani, yang dilakukan Lapor Iklim dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP). Survei dilakukan di Indramayu, Jawa Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk mengukur dampak panas di laut, sawah dan rumah nelayan serta petani.

Tak Lagi Makan Ikan

Di banyak keluarga nelayan, hasil tangkapan hampir tidak pernah lagi menjadi lauk di meja makan. Ketika hasil tangkapan menyusut, setiap ekor ikan harus dipilih: dimakan atau dijual. Ikan harus dijual agar keluarga tetap bisa bertahan hidup.

Winata sudah delapan tahun tidak menyentuh ikan hasil tangkapannya sendiri. Setiap malam, lelaki 60 tahun itu berangkat dari Cantigi, Indramayu, menjelang magrib, mendayung sero ke tengah laut, lalu kembali menjelang subuh dengan keranjang berisi cumi atau ikan belo. Tak satupun dari tangkapan itu pernah mampir ke meja makannya.

Winata mengatakan dulu ia pernah menjadi nahkoda kapal yang berlayar hingga perairan Kalimantan untuk mencari ikan tongkol dan kembung. Hasil tangkapan ikan saat ini terus menurun dibanding sekitar dua puluh tahun lalu, meski harga ikan saat ini lebih baik. Hasil tangkapan biasanya dijual kepada pengepul atau tengkulak, yang juga kerap menjadi sumber pinjaman modal bagi nelayan saat membutuhkan biaya untuk alat tangkap.

"Kita orang kecil pengen anaknya pinter cari ilmu. Supaya ikannya dapat (pendapatan) banyak, makanya (ikan) tidak dimakan, untuk dijual. Kalau ngga diatur ekonominya ya susah nelayan, boro boro anak, ke pendidikan, kalau misalnya ga diatur kadang kadang dapat, kadang kadang ngga dapat" katanya.

Ironinya, ikan merupakan salah satu sumber protein hewani berkualitas tinggi yang kaya asam lemak omega-3 (DHA dan EPA), zat gizi yang berperan penting dalam mendukung perkembangan otak, fungsi kognitif, serta proses belajar anak. Namun bagi banyak keluarga nelayan, ikan justru lebih bernilai sebagai sumber pendapatan daripada sumber gizi.

Setiap ikan yang dibawa pulang untuk dimakan berarti berkurangnya hasil penjualan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, termasuk biaya pendidikan anak. Keputusan menjual hampir seluruh hasil tangkapan menjadi gambaran nyata bagaimana tekanan ekonomi dapat memaksa keluarga mengorbankan akses terhadap pangan bergizi yang sesungguhnya mereka hasilkan sendiri.

Winata, nelayan yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada laut, justru orang yang paling jauh dari laut ketika ia duduk di meja makannya sendiri.

Laut yang dulu menghidupi kini hanya cukup untuk bertahan; dan untuk bertahan, orang harus berhenti menikmati apa yang mereka kerjakan seumur hidup.

Nelayan di Kupang punya cerita serupa. Yasinta mengatakan banyak keluarga kini lebih memilih menjual seluruh hasil tangkapan mereka karena uangnya dapat digunakan membeli beras dan memenuhi kebutuhan sekolah anak. Akibatnya, makanan sehari-hari justru bergeser ke pilihan yang lebih murah seperti mi instan dan telur.

"Dulu, ketika pergi ke Pulau Kera, mereka membawa sayuran dari rumah dan dapat dengan mudah memperoleh ikan setibanya di sana. Karena semakin susah cari ikan dan biaya BBM ke Pulau Kera makin mahal, mama-mama lebih memilih menjual ikan dan konsumsi mi dan telur daripada makan ikan sendiri."

Menurutnya, uang dari menjual ikan masih bisa digunakan untuk membeli beras dan kebutuhan anak-anak.

"Mulai Seroja, mama ke Pulau Kera bawa stok mie, dua bungkus, airnya bisa satu gayung, semua bisa rasa kuahnya saja, isinya sekecil pun tidak apa, sangat jauh beda dengan dulu."

Untuk menambah penghasilan, sebagian mama-mama berjualan kopi di pantai. Dalam sehari mereka biasanya memperoleh sekitar Rp50.000-Rp60.000, tetapi sebagian besar pendapatan tersebut kembali digunakan untuk membeli stok kopi dan kebutuhan usaha. Menabung menjadi sulit karena banyak keluarga masih memiliki utang untuk kebutuhan rumah tangga maupun biaya sekolah anak.

Yasinta berjualan kopi di pinggir pantai guna menambah penghasilan dari hasil laut

Harapan orang tua sebenarnya sederhana, anak-anak mereka dapat bersekolah dan tidak perlu menggantungkan hidup pada laut seperti generasi sebelumnya. Namun harapan itu sering kali kandas karena lapangan pekerjaan di luar sektor perikanan juga semakin sempit.

Menurut Yasinta, sebagian besar lowongan pekerjaan mensyaratkan pengalaman kerja satu hingga dua tahun, sehingga banyak lulusan SMA kesulitan memperoleh pekerjaan. Di sisi lain, keterbatasan ekonomi membuat tidak semua anak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Akibatnya, banyak lulusan SMA akhirnya kembali melaut untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Pendidikan yang diharapkan menjadi jalan keluar dari siklus kemiskinan dan ketergantungan pada laut belum mampu memutus rantai tersebut.

Ketika Laut Berubah, Sistem Tak Ikut Berubah

Mudah membungkus semua cerita ini sebagai dampak cuaca ekstrem. Namun yang dihadapi nelayan sesungguhnya jauh lebih rumit.

Laut memang berubah karena krisis iklim, tetapi beban yang mereka rasakan diperberat oleh tata kelola yang belum mampu mengikuti perubahan itu. Ketimpangan akses terhadap sumber daya, hingga program adaptasi yang belum menyentuh kebutuhan di lapangan membuat setiap perubahan cuaca menjadi jauh lebih berat bagi nelayan kecil.

Dewa dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) Nelayan Angsa Laut di Oesapa, Kupang, melihat persoalan itu setiap kali hendak membeli bahan bakar. Solar bersubsidi sebenarnya tersedia, tetapi tidak semua nelayan dapat mengaksesnya. Banyak nelayan bekerja dengan sistem bagi hasil dengan pemilik kapal, sehingga nelayan tidak memiliki surat kepemilikan kapal sebagai syarat memperoleh solar bersubsidi.

Dewa, Ketua KUB Nelayan Angsa Laut di Oesapa, Kupang, bersama sejumlah nelayan setempat

Akibatnya, mereka terpaksa membeli solar dengan harga lebih mahal melalui pihak lain. Ketika ikan semakin jauh dan perjalanan melaut semakin panjang, biaya bahan bakar ikut membengkak.

Subsidi yang semestinya menjadi bantalan justru tidak menjangkau mereka yang paling membutuhkannya.

Celah serupa juga dirasakan dalam perlindungan sosial. Menurut Yasinta Adoe, nelayan perempuan dari komunitas Majelis Nelayan di Kupang, BPJS Kesehatan memang membantu ketika nelayan membutuhkan layanan pengobatan. Namun, perlindungan itu baru bekerja setelah mereka jatuh sakit atau mengalami kondisi darurat. Nelayan justru kesulitan mengakses layanan kesehatan di luar kondisi darurat.

Nelayan biasanya baru kembali dari laut sekitar pukul enam hingga delapan pagi, setelah bekerja semalaman. Waktu itu justru menjadi saat mereka harus beristirahat, sementara Puskesmas mulai membuka pelayanan. Tidak sedikit yang akhirnya memilih menunda berobat atau mengatasi keluhan dengan obat yang dibeli sendiri.

Untuk perlindungan selama bekerja, banyak nelayan bergantung pada bantuan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan dari pemerintah daerah atau program tertentu. Dewa menuturkan, bantuan iuran BPJS Ketenagakerjaan yang pernah diterima komunitasnya hanya berlangsung selama satu tahun.

"Banyak teman-teman yang BPJS Ketenagakerjaannya sudah expired," katanya.

Setelah masa bantuan berakhir, banyak nelayan tidak lagi melanjutkan kepesertaannya karena keterbatasan biaya. Akibatnya, mereka kembali melaut tanpa perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan, meski setiap hari bekerja di laut dengan risiko kecelakaan yang tinggi.

Rehabilitasi Sebatas Seremoni

Bagi nelayan, mangrove adalah benteng pertama sebelum ombak mencapai daratan. Di sela akar-akar pohonnya, ikan, kepiting, dan berbagai biota laut mencari tempat berlindung dan berkembang biak. Karena itu, hilangnya mangrove bukan hanya berarti hilangnya pelindung pantai, tetapi juga berkurangnya ruang hidup bagi sumber penghidupan nelayan.

Namun, menurut Dewa, program rehabilitasi pesisir kerap berhenti pada seremoni. Bibit mangrove ditanam, tetapi jarang dirawat. Saat gelombang besar datang, banyak yang patah dan mati sebelum sempat tumbuh menjadi benteng alami bagi pesisir.

"Kalau mau melibatkan kami, pasti kami menggunakan pengetahuan yang kami punya."

Kalimat itu bukan sekadar usulan, melainkan pengingat bahwa masyarakat pesisir memiliki pengetahuan yang dibangun dari pengalaman hidup bersama laut. Pengetahuan itu sering kali tidak ikut dipertimbangkan ketika program-program adaptasi dirancang.

Karena itu, nelayan tidak hanya menunggu bantuan datang. Mereka tak butuh seremoni untuk bergerak. Di Oesapa, Komunitas Angsa Laut Kupang yang dipimpin Dewa membangun rumah ikan secara swadaya. Struktur bambu yang diberi pemberat beton itu ditenggelamkan di dasar laut sebagai tempat berlindung berbagai biota sekaligus memulihkan kawasan karang yang rusak.

Gagasan itu lahir ketika mereka melihat terumbu karang mengalami pemutihan dan kawasan mangrove terus menyusut. "Tujuannya menghadirkan ekosistem baru untuk sumber daya perikanan kita, agar ada biota laut yang menempel, lalu tumbuh menjadi karang," ujar Dewa.

"Dulu nelayan harus melaut sejauh 48 mil (77 km), sekarang kadang 20 mil (32 km) sudah dapat. Sekarang kami tidak perlu sejauh dulu. Di sekitar rumah ikan sudah mulai ada kakap dan kerapu."

Seluruh proses dilakukan secara gotong royong. Biayanya berasal dari iuran para nelayan, kadang hanya Rp5.000 hingga Rp10.000 per orang. Hingga kini, mereka telah menenggelamkan 28 rumah ikan di tiga lokasi. Kawasan itu kemudian ditutup sementara dari aktivitas penangkapan. Setelah empat bulan, nelayan baru diperbolehkan menangkap ikan pada radius sekitar 200 meter. Zona pemanfaatan diperluas secara bertahap hingga sekitar 700 meter pada bulan kedelapan agar ekosistem memiliki waktu untuk pulih.

Melihat terumbu karang memutih dan mangrove menyusut, komunitas nelayan Oesapa membuat “rumah ikan” dari bambu dan beton untuk menciptakan habitat baru bagi biota laut. Rumah ikan itu dibuat secara gotong royong dan ditutup dari aktivitas penangkapan selama empat bulan setelah ditenggelamkan.

"Kalau umur rumah ikan baru empat bulan, zona pemanfaatannya sekitar 200 meter. Enam bulan menjadi 500 meter, dan delapan bulan sekitar 700 meter. Rumah ikan yang pertama kami tenggelamkan sekarang usianya sudah sekitar satu tahun empat bulan," kata Dewa.

"Sekarang sudah penuh karang dan berbagai biota laut."

Dampaknya juga mulai dirasakan para nelayan. Jika pada periode 2021-2024 mereka kerap harus melaut hingga sekitar 48 mil dengan kapal kecil untuk mencari ikan, kini sebagian tangkapan mulai kembali diperoleh di sekitar lokasi rumah ikan. Meski belum sepenuhnya mengembalikan kondisi seperti dulu, inisiatif itu memberi harapan bahwa pemulihan ekosistem dapat dilakukan dari bawah, oleh nelayan sendiri.

Inisiatif itu menunjukkan satu hal, masyarakat pesisir tidak kekurangan kemauan untuk beradaptasi. Yang masih mereka butuhkan adalah kebijakan yang berjalan searah dengan upaya yang sudah lebih dulu mereka lakukan.

Yang Diminta Bukan Bantuan

Dari dua pesisir berbeda - Indramayu dan Kupang - nelayan Yasinta maupun Dewa menyampaikan harapan yang sama. Mereka tidak meminta dikasihani. Mereka berharap pengalaman dan kebutuhan nelayan menjadi titik berangkat dalam penyusunan kebijakan, bukan sekadar pelengkap setelah program ditetapkan.

Bagi Yasinta, salah satu langkah yang paling mendesak justru sederhana: layanan kesehatan yang mendatangi nelayan, bukan sebaliknya. Menurutnya, pemerintah bisa memulai dari data yang sudah dimiliki kelurahan untuk mengidentifikasi nelayan lanjut usia, lalu menjadwalkan kunjungan seperti yang selama ini dilakukan kader kesehatan kepada ibu hamil dan balita.

"Ambil datanya dari kelurahan, ada berapa nelayan yang berusia lansia, untuk didatangi di waktu mereka di rumah."

Usulan itu lahir dari kenyataan yang mereka hadapi setiap hari. Nelayan biasanya baru kembali dari laut ketika layanan kesehatan mulai buka. Saat tenaga sudah habis setelah bekerja semalaman, datang ke puskesmas sering kali bukan lagi pilihan yang mudah.

Sementara bagi Dewa, salah satu kebutuhan yang paling mendesak adalah memastikan informasi cuaca benar-benar sampai kepada semua nelayan. Prakiraan cuaca dari BMKG kini menjadi pegangan penting, tetapi belum semua nelayan memiliki telepon pintar atau akses internet. Menurutnya, penyebaran informasi melalui layar informasi di kampung nelayan atau media lain yang mudah dijangkau perlu diperluas agar keselamatan tidak bergantung pada siapa yang memiliki gawai.

Baginya, masyarakat pesisir tidak ingin hanya dipandang sebagai penghasil ikan yang harus terus meningkatkan produksi, sementara beban krisis yang mereka hadapi dibiarkan mereka tanggung sendiri.

"Kami jangan hanya dijadikan aset untuk dieksploitasi saja, tapi berdayakan kami agar berkeadilan."

Malam nanti, Winata, nelayan dari Indramayu, kemungkinan akan kembali berangkat menjelang magrib. Ia akan mendayung perahunya ke laut, menunggu hingga menjelang subuh, lalu pulang membawa keranjang berisi ikan yang hampir pasti akan langsung dijual. Sudah bertahun-tahun ia tidak menikmati hasil tangkapannya sendiri.

Di pesisir Kupang, nelayan lain akan melakukan hal yang sama. Mereka berlayar lebih jauh, menghabiskan lebih banyak solar, menghadapi cuaca yang semakin sulit dibaca, demi membawa pulang penghasilan yang belum tentu cukup.

Laut masih memberi ikan. Namun selama hasil tangkapan hanya cukup untuk membuat keluarga bertahan dari hari ke hari, pengorbanan para nelayan akan terus menjadi bagian yang tak terlihat dari setiap ikan yang sampai ke meja makan kita.

Penulis: Fajar Sanintan Jati

Editor: Citra Dyah Prastuti

Fotografer : Gualbertus Lusio Pera Ndate dan Juniken Imelda Ratu Radja

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.