Kembali|Berita/Umum

Sudahkah ASEAN Siap Menghadapi Ancaman Kekeringan Panjang Akibat El Nino?

Redaksi IklimKita
11 Agustus 2026•5 menit baca

Tahun ini Indonesia kembali mempertegas kepemimpinannya dalam memperkuat kerja sama regional menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Kedua ancaman ini semakin meningkat dan menuntut kesiapsiagaan dan kolaborasi untuk menyusun langkah antisipatif di antara sesama negara-negara ASEAN.

Di balik itu semua adalah El Nino, yang mengancam krisis pangan, sekaligus juga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. Tak hanya itu, kebutuhan energi di negara-negara Asia Tenggara pun ikut melonjak. Kurangnya pasokan air akibat kekeringan berkepanjangan menyebabkan guncangan terhadap dua komoditas utama: padi dan kelapa sawit. Ketua Southeast Asia Hub di Global Heat Health Information Network, Jason Lee, menyebutkan bahwa kedua komoditas tersebut sangat terkonsentrasi dan memiliki sensitivitas tinggi terhadap anomali iklim.

Hal senada diamini oleh Peneliti Senior Program Perubahan Iklim Asia Tenggara di ISEAS-Yusof Ishak Institute, Paul Teng. Ia mengatakan bahwa padi ikut terdampak perubahan iklim akibat curah hujan yang rendah dan tekanan panas yang meningkat. Indonesia, Kamboja, dan Filipina merupakan negara paling rentan. Ia juga memprediksikan bahwa akan ada penurunan produksi beras hingga 2—3 persen akibat El Nino. Kedua peneliti tersebut menyampaikan pendapatnya kepada Kantor Berita Jerman, DW, yang diterbitkan pada 16 Juni 2026.

Tidak hanya sektor pangan, gelombang El Nino juga berdampak terhadap ketahanan sistem kelistrikan yang masih bergantung kepada pembangkit listrik tenaga air. Pada Juni 2026 lalu, World Meteorological Organization (WMO) menyebutkan bahwa fenomena El Nino akan menjadi yang terkuat dalam 9—12 bulan ke depan. Asia Tenggara akan mengalami penurunan curah hujan dan risiko kekeringan besar. Permukaan waduk dan cadangan air menyusut sehingga mempengaruhi kemampuan pembangkit listrik tenaga air menghasilkan listrik.

Vietnam salah satunya. Dilansir dari Fitch Ratings, sebuah lembaga analisis pasar keuangan, sebanyak 30--40 persen kapasitas pembangkit dan produksi listrik Vietnam berasal dari tenaga air. Kekurangan pasokan listrik dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan mengganggu kawasan industri. Ketergantungan terhadap tenaga air sebagai sumber daya sistem kelistrikan negara patut menjadi perhatian.

Risiko lainnya ialah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap lintas batas negara. Pusat Meteorologi Khusus ASEAN (ASMC) menyebutkan bahwa El Nino secara signifikan mengurangi curah hujan di Asia Tenggara. Lembaga yang berpusat di Singapura ini mengingatkan kombinasi antara kekeringan yang panjang, angin tenggara, dan barat daya yang dominan, dapat meningkatkan aktivitas panas dan risiko kabut lintas batas.

Awal Juli lalu, menteri dan delegasi negara-negara anggota ASEAN sudah menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat aksi kolektif untuk mencegah dampak perubahan iklim. Delegasi Indonesia memaparkan langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan, seperti dengan water bombing serta modifikasi cuaca. Tapi Indonesia tentu tak bisa melakukannya sendirian. Di tengah meningkatnya tantangan dampak perubahan iklim, ASEAN dituntut untuk memperkuat koordinasi regional, sistem peringatan dini, pemantauan, pertukaran informasi, dan respons cepat guna mewujudkan kawasan ASEAN yang tangguh, terutama bagi lebih dari 700 juta jiwa masyarakat dari 11 negara anggotanya.

Penulis: Nasrullah
Editor: Citra Dyah Prastuti

Credit Foto: Pexels/Phae Phyo Aung

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.