Kembali|Berita/Umum

Selamat Datang El Nino dan Kekeringan Panjang

Model sistem bumi memproyeksikan, bakal terjadi El Nino yang lebih kuat dibandingkan kejadian tahun 1991.

Redaksi IklimKita
21 Juli 2026•7 menit baca•Diperbarui pada 21 Juli 2026

Ilmuwan Jack Hall menyampaikan peringatan kepada PBB: dampak pemanasan global dapat mengacaukan arus laut dan memicu bencana mematikan. Ini disampaikan pada tahun 2004, sembari menunjukkan data ilmiah tentang anomali perubahan arus laut dan pola iklim global dampak fenomena El Nino dan La Nina.

Peringatan ini semula diabaikan, sampai tiba-tiba terjadi fenomena cuaca ekstrem yang melanda berbagai belahan dunia - hujan es di Tokyo, Jepang, hingga tornado yang menghancurkan Los Angeles, Amerika Serikat. Kehancuran yang dimulai dari mengabaikan fakta ilmiah.

Ini bukan adegan sesungguhnya, melainkan dari film "The Day After Tomorrow" (2004) yang diperankan Dennis Quaid, Jake Gyllenhaal dan Emmy Rossum. Jack Hall adalah tokoh rekaan dan film ini adalah film bencana fiksi ilmiah.

Kalau di cerita fiksi ada ilmuwan Jack Hall, maka di National Oceanic and Atmospheric Administration's (NOAA) Geophysical Fluid Dynamics Laboratory ada peneliti Nat Johnson. Ia adalah seorang meteorologis yang menemukan anomali saat meneliti El Nino pada Maret 2026. Ia menemukan bahwa El Nino kali ini terkuat sejak 1991. Baginya, ini merupakan hal yang tidak biasa.

Apakah kita mau mengabaikan temuan ini seperti yang dialami ilmuwan rekaan, Jack Hall?

Apa Itu El Nino?

El Nino adalah fenomena peningkatan suhu permukaan air laut di Samudra Pasifik bagian tengah hingga timur. Penyebabnya, pemanasan suhu laut dan melemahnya angin pasat yang biasanya berembus kuat dari timur ke barat dan mendorong air laut angat ke arah Pasifik barat (termasuk Indonesia). Akibat melemahnya angin pasat, air laut mengalir kembali ke timur sehingga mengganggu gradien suhu dan mengubah pola tekanan udara dan sistem sirkulasi atmosfer di kawasan tropis.

Dari temuan yang dirilis pertengahan Juni 2026 lalu, NOAA memastikan kalau El Nino sudah mulai dalam bentuk air yang menghangat di pantai Peru. Diperkirakan ada 63% kemungkinan El Nino bakal makin kuat di akhir tahun ini - dengan kekuatan sampai dua kali lipat.

Kekeringan Mulai Mengancam Lahan Sawah Tadah Hujan akibat Terbatasnya Pasokan Air ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro

Apa dampaknya bagi Indonesia?

Bagi Indonesia, fenomena ini menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada Maret 2026 mengeluarkan data dari model prediksi musim bahwa kemarau bersifat kering terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Dan sebaliknya, wilayah Sulawesi dan Maluku, Halmahera, sebagian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi.

BRIN juga menyebutkan bahwa dampak El Nino akan berbeda bagi wilayah di Indonesia, yaitu:

  • Kekeringan di bagian selatan Indonesia akan mempengaruhi lumbung padi nasional, khususnya Pantai Utara (Pantura) Pulau Jawa.

  • Banjir di wilayah timur laut Indonesia seperti Sulawesi, Halmahera, dan Maluku)

  • Kebakaran Hutan dan Lahan di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, meskipun bagian utara pulau tersebut mengalami curah hujan yang tinggi.

Di Indonesia, El Nino akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketahanan pangan nasional. Penurunan drastis curah hutan, kekeringan ekstrem, krisis air bersih merupakan dampak utamanya. Akibatnya, cadangan air tanah menipis dan memicu kekeringan sumur air serta pasokan air bersih. Gangguan kesehatan akibat asap kebakaran hutan dan lahan akan meningkat. Bagi keberlangsungan ekosistem laut, kenaikan suhu permukaan air laut dapat mengganggu rantai dan habitat ikan serta pemutihan terumbu karang.

Prediksi Para Ilmuwan

National Oceanic and Atmospheric Administration's (NOAA) memproyeksikan kenaikan suhu sebesar 2,40C di samudra Pasifik pada November 2026. Kenaikan ini akan memicu panas dan kelembapan ke atmosfer dan mengganggu pola cuaca secara global. Hujan lebat berpotensi banjir di selatan Amerika Serikat, wilayah timur Afrika, dan Cina. Sedangkan di Indonesia, Australia, dan selatan Afrika, risiko kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan akan meningkat. Bahkan, El Nino akan menaikkan kemungkinan rekor kenaikan suhu permukaan bumi pada 2027 mendatang.

Para ilmuwan telah memprediksi hal ini. Emily Becker, kolega Nat Johnson di NOAA yang menyebutkan bahwa timnya menggabungkan dua model, yaitu observasi laut dan atmosfer. Dampaknya terhadap kehidupan gugusan karang dan biota laut sangat signifikan.

Yang mencengangkan para ilmuan tak hanya luasnya dampak El Nino, tapi juga kecepatan pergerakannya. Dunia masih dalam tahap La Nina--penurunan suhu di bawah suhu normal permukaan samudra Pasifik bagian tengah dan timur--pada 2025 lalu. Dan kini, El Nino yang sangat kuat. Perubahan cepat ini belum pernah terlihat sejak 1950-an saat para ilmuwan mulai mempelajari dan mengumpulkan data. Bagi Becker dan Johnson, ini bukan hal yang biasa terjadi.

Namun, pesannya sama: kita harus siap terhadap fenomena yang terjadi. Peringatan para ilmuwan sejatinya harus menjadi alarm penting dalam menelurkan kebijakan bersama dalam memerangi perubahan iklim. Supaya bencana dan pengabaian terhadap ilmuwan yang terjadi di film, tak perlu betulan terjadi di dunia nyata.

Penulis: Nasrullah
Editor : Citra Dyah Prastuti

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.