Kembali|Berita/Umum

Panase Suroboyo, Dihajar Kipas Angin

*Cara Warga Kampung Siasati Suhu Panas

Redaksi IklimKita
9 Juli 2026•11 menit baca
Sejumlah anak bermain layang-layang meski kondisi panas. Cuaca ekstrem juga dirasakan oleh mereka. (Robertus Risky/ Project Arek)

SUMUK menjadi kata yang lazim diucap warga Kota Pahlawan hari-hari ini. Dalam Bahasa Indonesia, 'sumuk' berarti gerah atau terasa panas di dalam ruangan yang lembab. Respon tubuh, biasanya berkeringat, gatal dan memerah. Sumuk dirasakan warga yang tinggal di kawasan pemukiman padat penduduk di Surabaya, Dupak Magersari namanya.

Wiwik melipat pakaian ditemani tiga kipas angin di rumahnya karena tak kuat menahan hawa panas di dalam rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)

Kondisi ini dialami keluarga Wiwik Sukarsi (43), bersama suami, tiga orang anak, serta menantu dan cucunya. Ia menuturkan, saking panasnya, ia harus menyediakan 6 kipas angin dalam satu rumah. Jangan bicara air conditioner (AC). Selain tak sanggup membeli dan membayar tagihan listriknya, daya listrik di rumahnya tak cukup besar untuk menanggung beban.

"Kipas angin wajib ada di rumah. Soalnya di dalam rumah panas banget, gak kuat. Jadi kipas harus nyala 24 jam," tutur ibu tiga anak tersebut.

Baginya kipas angin merupakan hal utama dalam kehidupannya. Kondisi rumah yang kecil dengan atap rumah rendah, membuat suhu di rumahnya terasa panas. Kipas angin harus menyala terus menerus untuk menghalau suhu panas ruangan. Namun, tak jarang kincir kipas, hanya memutar-mutar suhu panas itu belaka.

"Kalau siang hari di dalam rumah suhunya bisa sampai 34 derajat, Mas. Sumuk poll, Mas. Kipas e kadang ga ngatasi (kipas angin kadang tidak pengaruh)," imbuhnya sembari menahan panas.

Tak hanya Wiwik, Mulyadi, suaminya, ikut merasakan suhu panas di dalam rumah. Itu membuat dirinya meningkatkan kecepatan kipas angin ke level paling tinggi. Suhu udara di rumah Wiwik bisa terasa lebih panas dari suhu udara yang tercatat. Ini adalah kombinasi dari tingkat kelembaban, jarak atap dengan lantai dan material rumah yang sangat berpengaruh pada suhu yang dirasakan.

"Saya kalau di rumah sering pakai kaus kutang, Mas. Kebiasaan dari kecil juga. Ditambah di rumah panas. Apalagi waktu buat dandang, wajib ada nyalakan kipas," ungkap Mulyadi yang bekerja sebagai pembuat dandang.

Mulyadi dan Wiwik beraktivitas di rumahnya. Untuk mengusir hawa panas di dalam rumahnya, ia memasang banyak kipas di setiap ruang. (Robertus Risky/ Project Arek)

Mulyadi bukan satu-satunya yang harus lepas baju untuk menghindari rasa gerah dan keringat. "Kalau tidur wajib di depan kipas, Mas. Kalau gak ada kipas, gak bisa tidur. Sumuk," tutur Galuh Dwi Firmansyah, anak Wiwik.

Panas dan pemakaian kipas angin terus menerus turut berpengaruh pada kesehatan Wiwik. Ia mengeluhkan efek dari perubahan cuaca mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh, ia juga jadi sering batuk kering. Kondisi itu menghambat aktivitasnya. Ia dan keluarga tak begitu memahami apa dampak bagi tubuhnya terpapar kipas angin terus menerus. Yang jelas, kipas angin bersifat wajib, bukan pilihan.

Mulyadi dan Wiwik Sukarsi berpose dengan cucu dan anaknya di rumahnya. (Robertus Risky/ Project Arek)

Wiwik tak paham apa itu krisis iklim dan deretan istilah yang berkelindan dengan pemanasan global. Ia hanya tahu, panasnya Surabaya, terus menjadi-jadi.

Yang dirasakan Wiwik sebenarnya tercatat pada data NASA POWER/MERRA-2 yang disajikan di laman iklimkita.org. Pada 2024, suhu udara di Surabaya mengalami kenaikan 1 derajat. Angka 1 derajat terasa kecil, tapi ini bukan angka main-main.

Efek domino kenaikan suhu 1 derajat ini memicu gelombang panas ekstrem, gangguan siklus hidrometrologi, bencana, suhu muka laut meningkat, kekeringan dan masih banyak lagi. Dampak ekonominya, seperti yang dialami Wiwik - harus bayar tagihan listrik lebih besar akibat pemakaian kipas angin berlebih.

"Sebulan bisa habis Rp500-600 ribu. Karena daya listrik besar juga. Sama ditambah mesin buat dandang. Tapi itu jarang nyala," keluhnya. Wiwik berharap kondisi lingkungan dapat kembali sejuk dan tidak terlalu panas.

Kondisi rumah yang padat berdampak pada hawa panas di rumah Wiwik. (Robertus Risky/ Project Arek)

Rumah-rumah di kawasan ini banyak yang terbuat dari seng dan beratap asbes. Cukup berdiam diri di dalam rumah saja, Anda bisa merasakan suhu panas ruangan. Perkampungan ini padat penduduk dengan ruas jalan kampung yang sempit, minim sirkulasi udara. Tutupan pohon juga jarang. Ini menambah efek penas yang dirasakan lebih tinggi dari suhu yang tercatat.

Peningkatan cuaca panas tidak hanya dirasakan orang dewasa, tapi juga anak-anak. Kulit mereka ruam dan gatal-gatal, karena memang lebih sensitif terhadap suhu panas. Biasanya, ibu-ibu di sana meyebutnya keringat buntet atau biang keringat.

Warga lain, Tri Nawang Sari (36) mengeluhkan dampak ke putranya. Kondisi panas yang melanda rumahnya, buah hatinya sering mengalami biang keringat hingga kulitnya memerah dan gatal. "Anak-anak saya kalau panas pasti langsung keluar keringat buntet, Mas. Bintik-bintik merah di dahi sama di tangan," ungkap perempuan asal Tulungagung itu.

Faryza Eshan Efendy (5), anak Nawang, mengalami biang keringat di dahinya akibat dari cuaca panas. (Robertus Risky/ Project Arek)
Nawang menunjukkan biang keringat yang dialami anaknya di sekitar area tangan. (Robertus Risky/ Project Arek)

Untuk meminimalisir dampak biang keringat, biasanya ia melumuri putra bungsunya dengan bedak khusus, serta memandikan terlebih dahulu sebelum tidur. Panas membuat putranya sering rewel dan terbangun saat tidur. Sekali lagi, kipas angin menjadi solusi realistisnya agar anaknya tak kepanasan dan entah apa lagi dampak buruk bagi kesehatan anaknya.

Nawang pindah ke Surabaya sejak tahun 2011. Tinggal bersama mertua dan suaminya, di rumahnya yang berukuran sekitar 6 meter persegi. Terdapat 5 kipas angin di rumah mungil itu. Ada 4 di lantai bawah dan satu di lantai atas. Dirinya mengeluhkan, akhir-akhir ini kondisi Surabaya sangat panas dari sebelumnya. Bahkan, kata Nawang, mertuanya sampai memasang kipas di kamar mandi.

"Saya pindah di sini, kipas angin yang ada di kamar mandi itu sudah ada mas. Dulu mertua saya yang pasang. Katanya tidak kuat panasnya," ujarnya sembari tersenyum.

Ia menambahkan kondisi panas di tempat tinggalnya mulai terasa dari pukul 10.00 WIB sampai 15.00 WIB. Rata-rata suhu di kawasan itu tercatat 34 derajat namun terasa lebih panas, 35 derajat. Nawang tak banyak beraktivitas di luar rumah. Tapi berada di dalam rumah, tanpa aktivitas berat pun, ia tetap sering berkeringat.

Suhu udara di rumah Nawang yang panas berdampak pada ia dan keluarganya yang harus menggunakan tujuh kipas angin. (Robertus Risky/ Project Arek)

Di sisi lain, ada warga yang meraup untung dari situas ini. Mujiyono (67), salah satunya. Ia membuka jasa reparasi peralatan elektronik, seperti kipas angin. Sejak 5 tahun yang terakhir, ia menuturkan di musim panas, dirinya mampu mengerjakan 9-10 unit kipas angin. Rata-rata kerusakan kipas angin yang ia tangani, disebabkan pemakaian yang tiada henti.

Mujiyono (67) melakukan perbaikan kipas milik warga di rumahnya, Jalan Purwodadi, Surabaya. Utamanya karena dinamo dan pemutar kipas yang rusak. Ia menuturkan bahwa cuaca panas membuat orderan untuk perbaikan kipas angin meningkat. (Robertus Risky/ Project Arek)

"Rusaknya biasanya dinamonya kobong (terbakar), Mas. Keseringan dipakai, terus mesin putarnya rusak. Harusnya itu dikasih oli supaya licin," ungkap pria paruh baya itu. Ia juga menjual kipas angin bekas siap pakai. Harganya dibanderol mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu. Sedangkan untuk reparasi, jasanya dipatok Rp35 ribu sampai Rp90 ribu bergantung tingkat kerusakan.

"Pernah cuma terima Rp5 ribu, Mas. Soalnya pelanggan ada yang gak mampu bayar. Hitung-hitung bantu, Mas. Soalnya di rumah pelanggan panas," pungkasnya.

Seorang warga tidur di depan rumahnya, Jalan Dupak Magersari, Surabaya. Cuaca panas mengakibatkan warga terpaksa melepas pakaiannya saat beraktivitas di luar rumah. (Robertus Risky/ Project Arek)

*Artikel ini merupakan bagian dari serial "Krisis Iklim", kolaborasi projectarek.id dan iklimkita.org, media yang dikelola oleh LaporIklim.


Penulis: Robertus Risky
Fotografer: Robertus Risky
Editor: Citra Dyah Prastuti
Lokasi: Surabaya

About the author

Redaksi IklimKita

Editor

Tim redaksi IklimKita menulis dan menyunting laporan berbasis data, sains, dan pengalaman warga tentang krisis iklim di Indonesia.