Kembali|Berita/Umum

Nelayan Tambak Rejo, Bertahan Ditengah Krisis

Mereka berjuang mempertahankan hidup di tengah ancaman abrasi, banjir rob, dan proyek normalisasi yang menggusur rumah dan tambak. Kini, dengan membangun rumpon kerang hijau, mereka mencoba menyelamatkan sumber penghidupan yang terampas.

Uslaini
15 Mei 2026•7 menit baca•Diperbarui pada 16 Juni 2026

Bagaimana cara dan strategi bertahan hidup dibangun oleh sekelompok nelayan yang bertahan di Kampung Nelayan Tambakrejo yang berada di Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang Provinsi Jawa Tengah, ditengah ancaman yang datang bertubi-tubi? Pertanyaan itu muncul saat saya menelusuri kampung nelayan yang berada dipinggir Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang ini.

Saat saya mampir dan duduk di balai-balai bambu yang dibangun nelayan di bantaran Banjir Kanal Timur, tempat mereka juga menambatkan perahu-perahu saat tidak melaut, memperbaiki jaring ikan yang rusak atau mengecat ulang perahu. Salah seorang nelayan Marzuki bercerita bahwa dulu kampung mereka ngak sesempit sekarang, dulu batas perkampungan ini jauh disana. Mata saya mengikuti arah tangannya yang menunjuk ke lautan. Disana juga para pendahulu kami dikuburkan, namun karena pasang dan kenaikan muka air laut serta normalisasi Banjir Kanal Timur (BKT) menyebabkan kampung lama kami tenggelam.

Selain dampak kenaikan muka air laut,banjir rob dan abrasi, ancaman lain datang pada tahun 2017, ancaman penggusuran dari proyek normalisasi sungai Banjir Kanal Timur (BKT) dan Kampung Bahari, serta proyek-proyek infrastruktur lainnya di Kawasan Pesisir. Masyarakat yang Sebagian besar berprofesi sebagai Nelayan berjuang untuk mempertahankan kampung dan menolak penggusuran yang dilakukan dengan berbagai cara. Namun 9 Mei 2019 Penggusuran paksa tetap berjalan untuk kepentingan normalisasi BKT dan perampasan ruang tangkap nelayan oleh PT. Pelindo atau Pelabuhan Tanjungmas melalui Peraturan DaerahNomor 13 tahun 2018 tentang rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Penggusuran ini mengakibatkan masyarakat kehilangan harta benda termasuk tambak yang selama ini menopang ekonomi mereka.

Hidup di Rumah Susun (Rusun) yang jauh dari laut, bagi nelayan yang sepanjang hidupnya menggantungkan hidup dilaut bukanlah hal yang mudah. Sebagian Nelayan dan Masyarakat kembali menghuni Kampung Nelayan Tambakrejo pasca penggusuran

Sumber : Dokumentasi WALHI

Dua puluh (20) orang nelayan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan Tambakrejo yang didampingi oleh WALHI Jawa Tengah mencoba membangun strategi bagaimana caranya mengamankan area tangkap mereka yang berdekatan dengan Pelabuhan dan jalur pelayaran tongkang yang membawa Batubara. Maka muncullah ide untuk membangun rumpon, beberapa nelayan berkelompok membangun rumpon untuk budidaya Kerang Hijau, namun kadangkala Rumpon-Rumpon ini rusak karena tertabrak oleh kapal tongkang yang keluar jalurnya karena hantaman gelombang atau hanyut.

Koperasi Nelayan Tambakrejo tahun 2023 dengan dukungan pendanaan dari Nusantara Fund membangun satu rumpon secara Bersama-sama. Pembangunan rumpon dimulai awal Maret atau diakhir masa paceklik di Region Jawa dan diperkirakan masa panen kerang hijau ini di Bulan Agustus atau selama 5 bulan. Nelayan Tambakrejo telah memiliki pengetahuan tentang siklus gelombang dilaut, mereka harus segera menanam rumpon saat musim paceklik berakhir dan gelombang dilaut mulai tenang. Jika terlambat atau salah dalam menghitung waktu rumpon yang ditanam bisa hanyut atau rusak oleh gelombang laut.

Perkiraan waktu juga harus mempertimbangkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk Budidaya Kerang Hijau sampai ukurannya sesuai dengan permintaan pasar. Jika terlambat menanam rumpon, nelayan bisa rugi karena saat arus dan arah angin berubah, mau tidak mau rumpon harus dibongkar. Bisa saja saat itu ukuran Kerang Hijau belom sesuai dengan yang diharapkan.

Koperasi Nelayan Tambakrejo membutuhkan sekitar 2.000 - 2.500 batang pohon bambu untuk membangun satu rumpon. Sekitar 1.000 batang bambu yang ditancapkan ke karang sebagai jangkar Rumpon dan rumah bagi Kerang Hijau untuk menempel dan berkembang. Sisanya dibagian atas yang berfungsi sebagai jembatan penghubung, balai-balai dan pondokan untuk melindungi dari Cahaya matahari saat memancing.

Marzuki menjelaskan perkiraan kapasitas produksi dari Rumpon yang mereka bangun. Satu (1) batang bambu bisa menghasilkan 10 - 15 Kg Kerang Hijau jika panennya bagus, dengan jumlah bambu yang ditanam sebanyak 1.000 batang, diperkirakan hasilnya sekitar 10 - 15 ton Kerang Hijau saat panen nanti, dengan harga Kerang Hijau dimusim panen sekitar Rp. 4.000 per Kg maka pendapatan dari rumpon ini bisa sekitar Rp. 40.000.000 - 60.000.000,-

Selain dari hasil panen Kerang Hijau, Koperasi nelayan juga mendapatkan pemasukan dari sewa perahu dan rumpon sebagai tempat pemancingan dan wisata bagi yang hobby mancing di hari libur atau akhir minggu. Jumlah pemasukan dari penyewaan ini belum dapat diperkirakan karena Rumpon masih baru namun di hari sabtu dan minggu sudah ada beberapa orang yang datang untuk memancing kesana.

Marzuki dan anggota Koperasi Nelayan Tambakrejo lainnya berharap pemerintah tidak kembali menggusur kampung dan ruang hidup mereka, sehingga mereka bisa membangun ekonomi dan memperbaiki kualitas hidup mereka dimasa depan.