Menanggung Panas, Menanggung Cemas

Di sawah Desa Nunuk, Indramayu, Pak Sulaiman, seorang petani di Desa Widasari kini memulai kerja jauh lebih pagi dibanding beberapa tahun lalu. Sekitar pukul 05.30, ia sudah berada di lahan sebelum matahari meninggi. Menjelang pukul 10 pagi, ia memilih pulang. “Sekarang panasnya beda. Kalau siang sudah tidak kuat,” ujarnya.

Untuk bertahan, ia membawa payung ke sawah karena semakin sedikit pohon peneduh di area pertanian. Baginya, panas tidak lagi terasa seperti cuaca biasa. Matahari terasa lebih menyengat, tubuh lebih cepat lelah, dan bekerja di siang hari menjadi semakin berat.

Cerita serupa juga datang dari pesisir Indramayu. Sejumlah nelayan menyatakan waktu kerja menjadi lebih panjang, tubuh makin lelah, dan waktu tidur semakin berkurang.

Pesisir Indramayu

Di laut, panas bertemu ketidakpastian cuaca dan tangkapan.

Potret nelayan ini menjadi jembatan dari cerita petani di sawah ke pengalaman pekerja pesisir yang jam kerjanya lebih panjang dan waktu tidurnya lebih pendek.

Foto: Potret nelayan di Indramayu.

Bagi petani dan nelayan di Indramayu, perubahan iklim bukan lagi sekadar isu lingkungan global yang dibicarakan dalam konferensi atau laporan ilmiah. Ia telah menjadi pengalaman sehari-hari yang dirasakan langsung oleh tubuh: panas yang semakin menyengat, musim yang sulit diprediksi, waktu tidur yang terganggu, hingga rasa cemas terhadap masa depan pekerjaan.

Temuan itu muncul dalam Ekspedisi "Dampak Krisis Iklim terhadap Kesehatan Fisik dan Mental Petani dan Nelayan" LaporIklim bersama KRKP di Indramayu, Jawa Barat, dan Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ekspedisi ini dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana krisis iklim memengaruhi kesehatan fisik, kesehatan mental, kualitas hidup, hingga kemampuan bekerja masyarakat yang berada di garis depan sektor pangan.

Selama ini, isu petani dan nelayan lebih sering dibahas dari sisi produksi dan ekonomi, sementara dampak perubahan iklim terhadap kesehatan mereka kerap terabaikan. Padahal, bagi petani dan nelayan, krisis iklim bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan pengalaman tubuh sehari-hari. Panas ekstrem memicu kelelahan, dehidrasi, gangguan tidur, dan menurunkan kemampuan kerja. Di sisi lain, musim yang tak menentu dan penghasilan yang tidak pasti juga menimbulkan tekanan psikologis berkepanjangan. Akibatnya, pekerja sektor pangan menghadapi beban ganda: tekanan fisik dan mental sekaligus.

Survei dan Ekspedisi di Dua Wilayah Rentan

Survei dilakukan pada 3–15 Maret 2026 terhadap 300 responden di dua wilayah dengan karakteristik berbeda, yakni Indramayu dan Kupang. Khusus di Indramayu, artikel awal menyebut 150 responden; workbook final yang dipakai untuk visualisasi berisi 152 respons valid: 77 petani dan 75 nelayan. Responden petani berasal dari Desa Nunuk, Tugu, Bunder, dan Telaga Sari. Sementara responden nelayan berasal dari Desa Cantigi Kulon, Singaraja, Karang Song, dan Pabean Udik.

Catatan metodologi data

Semua persentase visualisasi memakai denominator jawaban valid per pertanyaan dari data Indramayu (n=152; Petani n=77, Nelayan n=75). Beberapa indikator menggabungkan kategori ordinal, misalnya “kadang/sering” atau skor ≥2 pada skala 0–4, sesuai keterangan grafik. Korelasi internal memakai Spearman dan bersifat deskriptif: ia menunjukkan pola jawaban yang bergerak bersama, bukan hubungan sebab-akibat klinis. Jawaban terbuka kebutuhan bantuan dikodekan berbasis kata kunci sederhana dan perlu review editorial manual.

Indramayu dipilih karena wilayah ini menghadapi tekanan iklim yang semakin berat. Selain menjadi salah satu lumbung pangan nasional, kawasan pesisir Indramayu juga rentan terhadap banjir rob dan kenaikan muka air laut. Dalam beberapa tahun terakhir, rob semakin sering terjadi dengan genangan mencapai sekitar 50 sentimeter di sejumlah permukiman pesisir. Sementara itu, Kupang dipilih karena mewakili wilayah lahan kering dengan ancaman kekeringan tinggi dan sensitivitas kuat terhadap fenomena El Niño.

Hasil survei kemudian diperdalam melalui Focus Group Discussion (FGD) pada 24 April 2026 di MM Entertainment Indramayu. Diskusi ini menghadirkan petani, nelayan, akademisi, BMKG, dan organisasi masyarakat sipil untuk memvalidasi temuan lapangan sekaligus membahas dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dan penghidupan masyarakat.

Validasi lapangan

Temuan survei dibawa kembali ke forum warga dan pemangku kepentingan.

FGD menjadi ruang untuk menguji temuan tentang panas, kesehatan, tidur, dan penghidupan bersama petani, nelayan, akademisi, BMKG, dan organisasi masyarakat sipil.

Foto: FGD di MM Entertainment Indramayu, 24 April 2026.

Tubuh yang Semakin Kepanasan

Salah satu temuan utama survei ini adalah meningkatnya tekanan panas yang dirasakan petani dan nelayan. Lebih dari 90 persen responden merasa suhu saat ini lebih panas dibanding beberapa tahun lalu. Sebanyak 77 persen nelayan dan 72 persen petani menyatakan kondisi cuaca kini jauh lebih panas.

Sekitar 80 persen responden juga mengaku sering terpapar panas ekstrem saat bekerja. Dampaknya terlihat langsung pada kondisi fisik, seperti pusing, lemas, sensasi panas berlebih, dan dehidrasi. Pada kelompok nelayan, paparan panas ekstrem dialami 80 persen responden, lebih tinggi dibanding petani yang mencapai 64 persen.

Perbedaan ini berkaitan dengan karakter kerja masing-masing. Nelayan bekerja di ruang terbuka tanpa pelindung alami, sehingga terpapar langsung sinar matahari dan pantulan panas laut dalam waktu lama. Sementara petani masih memiliki sedikit naungan atau fleksibilitas mengatur jam kerja. Meski demikian, tingginya angka pada kedua kelompok menunjukkan bahwa panas ekstrem telah menjadi bagian dari kehidupan kerja sehari-hari.

Kondisi ini memaksa petani dan nelayan mengubah pola kerja mereka. Banyak petani kini berangkat lebih pagi untuk menghindari panas siang hari. Seorang petani perempuan di Lelea menceritakan suaminya kini pulang lebih cepat karena tidak tahan panas. “Dulu masih bisa sampai jam dua belas. Sekarang jam sepuluh sudah pulang,” katanya.

Perubahan serupa terjadi pada nelayan yang membuat jam kerja menjadi lebih panjang dan melelahkan. Survei menunjukkan lebih dari separuh nelayan bekerja di laut lebih dari lima jam per hari, bahkan sekitar 18 persen bekerja lebih dari 14 jam sehari.

Ruang kerja terbuka

Bagi nelayan, tempat kerja hampir sepenuhnya terbuka terhadap panas.

Kapal dan pesisir menjadi latar tekanan ganda: sinar matahari, pantulan panas air, gelombang, dan ketidakpastian hasil tangkapan.

Foto: Kapal nelayan di Indramayu.

Tekanan panas juga berdampak pada produktivitas. Sebanyak 87 persen responden merasa pekerjaan kini lebih melelahkan dibanding beberapa tahun lalu. Hampir separuh nelayan dan lebih dari separuh petani mengaku bekerja lebih lambat akibat suhu yang terlalu panas. Dampaknya lebih berat pada nelayan. sekitar 45 persen mengaku sering melambat karena panas, dibanding sekitar 33 persen pada petani.

Rumah yang Tak Lagi Menjadi Tempat Sejuk

Dampak perubahan iklim tidak berhenti di tempat kerja, tetapi juga masuk hingga ke dalam rumah. Lebih dari 90 persen responden mengaku rumah mereka terasa panas pada malam hari. Sekitar 40 persen nelayan dan 41 persen petani bahkan menyatakan kondisi itu sering terjadi.

Tabel 1. Rumah terasa panas pada malam hari
Kondisi rumahNelayanPetani
Sering40 / 53,3%31 / 40,3%
Kadang31 / 41,3%41 / 53,2%
Tidak pernah4 / 5,3%5 / 6,5%

Menariknya, hampir seluruh responden merasa ventilasi rumah mereka sudah cukup. Namun rumah tetap panas. Ini menunjukkan persoalannya bukan sekadar sirkulasi udara, melainkan suhu lingkungan yang memang semakin tinggi. Dalam kondisi tersebut, ventilasi tidak lagi efektif melepaskan panas yang tersimpan di dalam rumah, terutama pada rumah beratap asbes atau seng yang mudah menyerap panas.

Mayoritas keluarga hanya mengandalkan kipas angin sebagai pendingin, yakni 91 persen nelayan dan 92 persen petani. Padahal kipas tidak benar-benar menurunkan suhu ruangan, hanya memindahkan udara panas. Penggunaan AC masih sangat rendah, terutama pada petani yang hanya sekitar 3 persen, sementara nelayan sekitar 9 persen. Akibatnya, malam hari yang seharusnya menjadi waktu pemulihan justru berubah menjadi sumber kelelahan baru.

Panas malam

Rumah yang semestinya menjadi tempat pemulihan ikut terasa gerah.

Panas yang tertahan di rumah membuat malam tidak lagi sepenuhnya menjadi waktu pemulihan.

Foto: Kondisi rumah warga yang mengeluhkan cuaca semakin panas.

Tidur yang Rusak dan Tubuh yang Tidak Pulih

Gangguan tidur menjadi salah satu dampak paling nyata dari perubahan iklim. Sebagian besar petani dan nelayan mengaku sulit tidur akibat panas malam hari. Pada kelompok nelayan, gangguan tidur terlihat jauh lebih berat. Sebanyak 51 persen mengaku sering mengalami sulit tidur, bahkan sekitar 5 persen mengaku hampir setiap malam sulit tidur akibat panas. Sementara pada petani, sekitar 61 persen menyatakan kadang mengalami sulit tidur dan 20 persen mengaku sering mengalaminya.

Kurangnya waktu tidur berdampak langsung pada kondisi tubuh keesokan harinya. Mayoritas nelayan hanya tidur sekitar empat hingga lima jam per malam. Bahkan sekitar 24 persen tidur kurang dari tiga jam. Tidak ada nelayan yang mencapai durasi tidur ideal di atas tujuh jam. Pada petani, distribusi tidur sedikit lebih baik. Sekitar 51 persen masih memiliki durasi tidur enam hingga tujuh jam, meskipun 40 persen lainnya tetap hanya tidur empat hingga lima jam.

Namun kualitas tidur tetap menjadi persoalan besar. Hampir separuh responden bangun dalam kondisi lelah. Pada nelayan, bahkan terdapat kelompok yang merasa sangat lelah sejak pagi. Kondisi ini menunjukkan bahwa tubuh tidak mendapatkan waktu pemulihan yang cukup. Jika berlangsung terus-menerus, kekurangan tidur tidak lagi menjadi gangguan sementara. Ia berubah menjadi defisit tidur kronis yang berdampak pada kesehatan, produktivitas, dan keselamatan kerja.

Tabel 2. Gangguan kesehatan yang pernah dialami
GejalaNelayanPetani
Pusing/lemas52 / 69,3%51 / 66,2%
Sensasi panas berlebih/dehidrasi17 / 22,7%33 / 42,9%
Batuk/sesak38 / 50,7%33 / 42,9%
Mata perih40 / 53,3%16 / 20,8%
Iritasi kulit17 / 22,7%21 / 27,3%
Cedera kerja4 / 5,3%2 / 2,6%
Diare/gangguan pencernaan24 / 32,0%8 / 10,4%

Nelayan Mengalami Tekanan Mental Lebih Berat

Panas pada malam hari berdampak langsung pada kondisi fisik saat bekerja. Sekitar 80 persen nelayan mengaku pernah merasa kurang bertenaga akibat panas malam, dengan 35 persen mengalaminya secara sering. Pada petani, sekitar 72 persen juga merasakan dampak serupa, meski mayoritas hanya sesekali mengalaminya. Temuan ini menunjukkan bahwa panas malam tidak hanya mengganggu tidur, tetapi juga menurunkan performa kerja keesokan harinya.

Salah satu temuan paling kuat dalam survei ini adalah akumulasi tekanan pada nelayan. Sebanyak 31 dari 75 nelayan mengalami empat tekanan mental sekaligus: sulit tidur karena cemas, merasa tertekan, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi. Pada petani, angkanya nol dari 77 responden. Pola tubuhnya juga ekstrem: 73 dari 75 nelayan bangun dalam kondisi lelah atau sangat lelah, sementara 40 dari 77 petani masih melaporkan bangun segar.

Angka yang mengubah angle cerita

Ada 23 nelayan yang tetap bekerja seperti biasa saat cuaca sangat panas. Mereka bukan tidak terdampak: rata-rata kelompok ini memiliki tiga gejala fisik dan skor beban mental 2,17. Temuan tentang “kematian di desa” belum dipakai karena kolom publik yang tersedia adalah kasus kematian pribadi dan seluruh responsnya belum mengonfirmasi angka tersebut.

Perbedaan ini berkaitan dengan karakter pekerjaan masing-masing. Nelayan menghadapi ketidakpastian cuaca dan risiko kerja yang lebih tinggi. Dalam satu tahun terakhir, sekitar 95 persen nelayan mengaku pernah mengalami cuaca ekstrem saat melaut. Perubahan angin, gelombang, dan hasil tangkapan yang semakin tidak menentu menciptakan tekanan berlapis: panas ekstrem, risiko keselamatan kerja, ketidakpastian penghasilan, hingga kecemasan terhadap masa depan. “Hasil tangkapan sekarang tidak menentu,” ujar seorang nelayan di Indramayu.

Sementara pada petani, tekanan lebih banyak muncul dalam bentuk kelelahan fisik dan ketidakpastian musim. Sebanyak 96 persen petani merasa musim kini semakin sulit diprediksi.

Regenerasi yang Mandek

Survei ini juga menemukan persoalan lain yang tak kalah serius: krisis regenerasi di sektor pangan. Mayoritas petani berada pada rentang usia 50–59 tahun. Artinya, sebagian besar petani kini memasuki usia pra-lansia. Sementara pada nelayan, kelompok usia terbanyak berada pada rentang 40–49 tahun. Temuan ini menunjukkan bahwa sektor pertanian semakin ditinggalkan generasi muda. Bertani dianggap sebagai pekerjaan berat dengan penghasilan yang tidak pasti, terlebih di tengah perubahan iklim yang membuat musim makin sulit diprediksi dan risiko kerja semakin tinggi.

Panas ekstrem, biaya produksi yang meningkat, ketidakpastian musim, hingga paparan pestisida membuat banyak anak muda enggan melanjutkan pekerjaan orang tuanya. Sektor perikanan memang masih sedikit lebih mampu menarik kelompok usia muda dibanding pertanian. Namun tekanan kerja di laut juga semakin berat akibat cuaca yang tidak menentu dan panas ekstrem. Jika situasi ini terus berlangsung, sektor pertanian dan perikanan berisiko mengalami putus generasi dalam beberapa dekade ke depan.

Paparan Pestisida dan Minimnya Perlindungan Kerja

Selain panas, petani juga menghadapi risiko lain berupa paparan bahan kimia pertanian. Sekitar 95 persen petani menggunakan pestisida dalam aktivitas pertanian. Namun penggunaan alat pelindung diri masih rendah. Hanya sekitar 35 persen petani yang selalu menggunakan APD, sementara sisanya menggunakan secara tidak konsisten atau bahkan tidak pernah. Alasan utamanya sederhana, menggunakan masker dan perlengkapan pelindung membuat tubuh terasa lebih panas, sesak, dan cepat lelah.

Situasi ini menciptakan apa yang disebut sebagai “double exposure” atau paparan ganda. Petani tidak hanya terpapar panas ekstrem, tetapi juga bahan kimia pertanian yang berpotensi memicu gangguan kesehatan. Keluhan seperti pusing, sesak napas, iritasi kulit, dan kelelahan kemungkinan berkaitan dengan kombinasi antara panas dan paparan pestisida.

Di sisi lain, layanan kesehatan sebenarnya cukup tersedia di Indramayu. Kabupaten ini memiliki puluhan puskesmas dan rumah sakit. Namun banyak petani memilih mengobati sendiri ketika sakit. Sekitar 44 persen petani memilih tidak berobat meski mengalami gangguan kesehatan. Temuan ini menunjukkan bahwa keberadaan fasilitas kesehatan belum tentu berarti layanan benar-benar mudah diakses dan sesuai dengan kebutuhan pekerja lapangan.

Adaptasi yang Masih Individual

Meski menghadapi tekanan yang semakin besar, petani dan nelayan mulai melakukan berbagai bentuk adaptasi. Petani bekerja lebih pagi, memperbanyak istirahat, membawa lebih banyak air, hingga berteduh saat panas terlalu tinggi. Sebagian bahkan membawa es batu di punggung untuk mengurangi panas saat bekerja di sawah. Sebanyak 75 persen petani memilih mulai bekerja lebih pagi untuk menghindari terik siang hari, sementara 8 persen mengurangi jam kerja. Mayoritas kini mulai bekerja pada pukul 07.00–10.00, dengan sebagian mulai bergeser ke waktu yang lebih pagi dibanding sebelumnya. Adaptasi ini juga telah berlangsung bertahap dalam beberapa tahun terakhir.

Pada nelayan, ruang adaptasi lebih terbatas karena sangat bergantung pada kondisi alam. Mayoritas nelayan (68 persen) tidak mengubah jam kerja. Pola kerja mereka tersebar sejak dini hari hingga malam, dengan 43 persen mulai bekerja pada dini hari, 36 persen sore hari, dan 21 persen malam hari. Hanya sekitar 31 persen yang memilih lebih banyak melaut pada sore atau malam untuk menghindari panas, dan sebagian besar baru melakukannya dalam satu tahun terakhir.

Namun hampir seluruh bentuk adaptasi ini masih bersifat individual. Belum ada sistem perlindungan kerja yang serius untuk menghadapi risiko panas ekstrem akibat perubahan iklim. Padahal dampaknya kini tidak hanya dirasakan pada produksi pangan, tetapi juga pada kesehatan fisik, kualitas tidur, kondisi mental, dan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Krisis yang Tak Lagi Sekadar Soal Cuaca

Temuan ekspedisi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah berkembang menjadi krisis kesehatan sekaligus krisis sosial bagi petani dan nelayan. Dampaknya tidak hanya terlihat pada hasil panen atau tangkapan ikan, tetapi juga pada tubuh yang semakin lelah, tidur yang terganggu, emosi yang mudah tertekan, hingga kecemasan terhadap masa depan.

Selama ini petani dan nelayan kerap dipandang hanya sebagai produsen pangan. Padahal merekalah kelompok yang setiap hari berada di garis depan krisis iklim. Tubuh mereka menjadi ruang pertama tempat panas ekstrem, cuaca tak menentu, dan tekanan ekonomi dirasakan secara langsung. Karena itu, pendekatan terhadap krisis iklim tidak bisa lagi semata berfokus pada produktivitas. Perlindungan kesehatan pekerja sektor pangan harus menjadi bagian penting dari strategi adaptasi iklim.

Diperlukan kolaborasi lintas sektor mulai dari kesehatan, pertanian, perikanan, hingga infrastruktur dan pendidikan. Penyediaan tempat berteduh di area kerja, layanan kesehatan yang responsif terhadap panas, edukasi perlindungan kerja, hingga desain rumah yang lebih tahan panas di wilayah pesisir menjadi langkah yang semakin mendesak. Teknologi juga dapat membantu, seperti mekanisasi pertanian, penggunaan drone untuk penyemprotan pestisida, dan sistem informasi cuaca berbasis aplikasi untuk mengurangi paparan langsung terhadap panas ekstrem.

Pada akhirnya, yang paling penting adalah mengubah cara pandang terhadap petani dan nelayan. Mereka bukan sekadar penyedia pangan, melainkan pekerja yang menopang ketahanan pangan nasional di tengah krisis iklim. Jika kondisi ini terus diabaikan, yang terancam bukan hanya kesehatan mereka, tetapi juga masa depan ketahanan pangan Indonesia.