Kembali|Berita/Umum

Banjir dan Longsor di Bener Meriah Rusak Kebun Kopi, Produksi Gayo Tertekan

Kerusakan parah di lahan pertanian warga mengancam produksi kopi arabika, komoditas utama penyangga ekonomi dataran tinggi Gayo. Petani menghadapi pemulihan panjang yang mengancam mata pencaharian dan stabilitas pasokan kopi nasional.

CommsLab
31 Mei 2026•6 menit baca

BENER MERIAH -- Banjir dan longsor yang melanda Sumatera pada akhir 2025 berdampak langsung pada sektor perkebunan kopi Gayo. Sejumlah kebun warga rusak, memicu kekhawatiran terhadap penurunan produksi salah satu komoditas unggulan daerah tersebut.

Di Desa Wih Delung, Kecamatan Bale Redelong, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, seorang petani, Zubaidah (59), kehilangan sebagian lahannya akibat terjangan banjir dan material longsor. Dari total 20 rante kebun kopi miliknya, sekitar 8 rante mengalami kerusakan.

"Pagi setelah kejadian, kebun sudah tertutup tanah dan banyak tanaman rusak," ujarnya.

Sutarni (58 tahun) menggendong cucunya di desa Pantan Sile, Aceh Tengah, 2022. Sutarni memiliki kebun seluas setengah hektar di belakang rumahnya. Tahun ini, kebun setengah hektar tersebut menghasilkan 20 kaleng kopi per panen. Dari hasil kebun tersebut, Sutarni menghidupi ketiga anaknya. © CommsLab/Riska Munawarah

Kerusakan tidak hanya terjadi pada tanaman, tetapi juga pada struktur lahan. Material longsor menutup permukaan tanah dan berpotensi mengganggu kesuburan, sehingga membutuhkan waktu lama untuk pemulihan. Selain itu, akses jalan yang sempat terputus selama beberapa hari turut menghambat distribusi hasil kebun dan pasokan kebutuhan petani.

Bencana di Bener Meriah merupakan bagian dari rangkaian banjir dan longsor yang melanda wilayah Sumatera pada akhir 2025. Dampaknya meluas ke kawasan dataran tinggi Gayo, yang mencakup Bener Meriah dan Aceh Tengah sebagai sentra produksi kopi arabika.

Orang-orang berjalan melewati pohon-pohon tumbang akibat tanah longsor dan banjir bandang besar yang dipicu oleh Siklon Tropis Senyar, yang menghancurkan infrastruktur penting di wilayah Bener Meriah, 21 Desember 2025. Gangguan terhadap jalur akses vital mengakibatkan isolasi berkepanjangan, dengan hampir 15.000 penduduk di berbagai desa, termasuk di Kabupaten Bener Meriah, tetap terisolasi selama lebih dari sebulan setelah bencana awal pada akhir November 2025. Akibatnya, penduduk terpaksa berjalan ratusan kilometer untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. © CommsLab/Riska Munawarah

Peneliti Pusat Riset Kopi dan Kakao Universitas Syiah Kuala, Abu Bakar, mengatakan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor mempercepat tekanan terhadap sektor kopi yang sebelumnya sudah terdampak perubahan iklim.

"Kerusakan lahan akibat longsor bisa menghilangkan lapisan tanah atas yang penting bagi tanaman kopi. Ini berdampak langsung pada produktivitas," katanya di Banda Aceh, Kamis (9/4/2026).

Selain kehilangan tanaman, petani juga menghadapi risiko penurunan kualitas hasil panen. Tanaman yang terdampak air berlebih cenderung mengalami stres, yang dapat memengaruhi pembentukan buah kopi.

Di sisi lain, perubahan pola curah hujan memperburuk kondisi tersebut. Data jangka panjang menunjukkan peningkatan curah hujan tahunan, namun dengan distribusi yang tidak merata. Hujan intens dalam waktu singkat meningkatkan potensi longsor di wilayah perbukitan tempat kopi ditanam.

Kondisi ini juga memicu peningkatan serangan hama dan penyakit, seperti karat daun dan penggerek buah, yang semakin menekan hasil produksi. Kombinasi antara bencana dan perubahan iklim dinilai memperbesar risiko gagal panen di sejumlah wilayah.

Para pekerja perempuan menyortir biji kopi. Setiap hari, para pekerja menyortir satu karung biji kopi di pabrik kopi tradisional Aman Kuba di Aceh Tengah, 18 Desember 2021. Setelah disortir, biji kopi yang terpilih akan ditimbang, dikemas ke dalam karung, dan diangkut ke pabrik-pabrik besar tempat biji kopi tersebut akan diproses sebelum disiapkan untuk pengiriman. Produktivitas kopi terdampak oleh perubahan iklim. Hingga 18% kopi di fasilitas penyortiran, Aman Kuba, rusak. © CommsLab/Riska Munawarah

Sejumlah petani mulai melakukan upaya pemulihan, seperti membersihkan lahan tertimbun material dan menanam kembali tanaman yang rusak. Namun, proses ini membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit, sementara sebagian petani kehilangan sumber pendapatan utama selama masa pemulihan.

Upaya adaptasi lain yang mulai diterapkan adalah penggunaan tanaman naungan dan sistem tumpang sari untuk menjaga kelembapan tanah dan menekan risiko kerusakan. Meski demikian, efektivitas langkah ini masih bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat kerusakan lahan.

Dengan kontribusi kopi sebagai penopang ekonomi utama di dataran tinggi Gayo, dampak bencana ini dinilai berpotensi memengaruhi produksi regional dalam jangka menengah. Tanpa penanganan dan pemulihan yang cepat, gangguan terhadap sektor kopi dikhawatirkan akan berlanjut.

Penulis: Riska Munawarah/CommsLab